160 Anjing dan Kucing Divaksin Rabies, Masih Ada Warga yang Ragu

Dian Nurul Haq • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 15:55 WIB
Kegiatan vaksinasi dalam rangka memperingati World Rabies Day (WRD) 2026 berlangsung selama empat hari, 27-30 September 2026, dengan menyediakan 200 dosis vaksin.
Kegiatan vaksinasi dalam rangka memperingati World Rabies Day (WRD) 2026 berlangsung selama empat hari, 27-30 September 2026, dengan menyediakan 200 dosis vaksin.

AGAM, PADEK.JAWAPOS.COM— Sekitar 160 anjing dan kucing telah divaksin rabies selama kegiatan World Rabies Day (WRD) 2026. Namun, upaya meningkatkan cakupan vaksinasi masih menghadapi keraguan sebagian pemilik anjing yang percaya vaksin dapat membuat hewan menjadi bodoh.

Kepala Pelaksana Kegiatan Vaksinasi Rabies, Rudi Harso Nugroho, M.Biomed., mengatakan pemahaman tersebut masih ditemukan di sejumlah wilayah.

Menurutnya, anggapan itu sudah berkembang sejak lama dan menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam vaksinasi rabies.

“Cuman kelihatannya memang karena situasi agak banyak hujan, sehingga agak tidak seramai tahun lalu,” ujar Rudi.

Kegiatan vaksinasi berlangsung selama empat hari, 27-30 September 2026, dengan menyediakan 200 dosis vaksin. Dari jumlah tersebut, sekitar 160 dosis telah diberikan hingga hari terakhir.

Rudi mengatakan vaksinasi dilaksanakan secara kolaboratif dengan Dinas Pertanian di beberapa lokasi untuk menjangkau masyarakat yang membawa hewan peliharaannya.

Salah satu lokasi berada di Jalan Raya Bukittinggi-Payakumbuh, Tabek Panjang, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam.

Vaksinasi di lokasi tersebut berlangsung selama tiga hari setelah kegiatan hari pertama dilaksanakan di lokasi lainnya.

“Kalau di wilayah kita, acara kita ini mungkin ada sekitar 160-an,” kata Rudi.

Menurut Rudi, hewan yang divaksin terdiri atas anjing, kucing, dan hewan lainnya. Jumlah 160 dosis yang terpakai belum mencapai seluruh vaksin yang disediakan.

Selain faktor cuaca, tingkat kunjungan juga dipengaruhi lokasi pelaksanaan. Di Tanahdatar, misalnya, hampir 90 orang datang membawa kucing dan anjing untuk divaksin dalam waktu sekitar setengah hari.

Rudi mengatakan lokasi yang menjadi bagian dari kegiatan masyarakat cenderung lebih ramai, terutama pada pagi hari. Sementara lokasi di Tabek Panjang tidak seramai lokasi yang berada di pusat kegiatan masyarakat.

Keraguan terhadap vaksin, khususnya pada pemilik anjing, menjadi persoalan tersendiri. Rudi mengatakan masih ada masyarakat yang meyakini anjing akan menjadi bodoh setelah divaksin.

Menurutnya, pemahaman tersebut bukan muncul baru-baru ini, melainkan telah berkembang sejak lama.

Sosialisasi mengenai vaksinasi rabies sebenarnya terus dilakukan, tetapi pemahaman yang telah mengakar membutuhkan waktu untuk diubah.

Rudi menjelaskan, salah satu penyebabnya berkaitan dengan kebiasaan masyarakat pada masa lalu.

Anjing yang digunakan untuk berburu terkadang dibawa mendapatkan vaksin setelah selesai berburu.

Padahal, hewan yang akan divaksin harus dalam kondisi sehat dan benar-benar fit.

Anjing yang baru selesai digunakan berburu berada dalam kondisi lelah. Jika vaksinasi diberikan ketika kondisi hewan tidak fit, hasil yang diharapkan juga tidak optimal.

Pengalaman tersebut kemudian berkembang menjadi pemahaman bahwa vaksinasi dapat memberikan dampak buruk terhadap anjing.

Rudi menegaskan vaksinasi seharusnya dilakukan ketika hewan dalam kondisi sehat. Karena itu, pemahaman mengenai waktu dan kondisi yang tepat untuk vaksinasi menjadi bagian penting dalam meningkatkan cakupan vaksinasi rabies.

Selain vaksinasi, upaya pencegahan rabies dilakukan melalui komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), termasuk kepada anak-anak sekolah. Edukasi diberikan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai bahaya rabies dan pentingnya pencegahan.

Kegiatan lain yang dilakukan antara lain sterilisasi terhadap kucing dan anjing.

Kegiatan vaksinasi tersebut merupakan bagian dari peringatan World Rabies Day yang diperingati setiap 28 September. Rudi berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan setiap tahun.

“Insya Allah setiap tahun ada,” katanya.

Unit tempat Rudi bertugas merupakan unit pelaksana teknis Kementerian Pertanian yang memiliki wilayah kerja meliputi Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Kepulauan Riau.

Program penanggulangan rabies di masyarakat juga melibatkan dinas yang memiliki kewenangan di masing-masing wilayah.

Upaya tersebut mencakup vaksinasi, edukasi, sterilisasi, serta kegiatan lain dalam pencegahan dan pengendalian rabies.(mg10)

Editor : Hendra Efison
vaksinasi hewan anjing dan kucing World Rabies Day 2026 rabies Agam vaksin rabies