Inflasi Sumbar Turun Jadi 3,50 Persen, Harga Cabai Merah Justru Melonjak pada September 2026

Suryani • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 20:00 WIB
Harga cabai merah menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan Sumatera Barat pada September 2026 dengan andil 0,47 persen.
Harga cabai merah menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan Sumatera Barat pada September 2026 dengan andil 0,47 persen.

PADEK.JAWAPOS.COM—Inflasi tahunan Sumatera Barat turun menjadi 3,50 persen pada September 2026. Namun, tekanan harga secara bulanan justru meningkat menjadi 0,60 persen, terutama akibat kenaikan harga cabai merah dan sejumlah pangan strategis.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan Sumbar pada September 2026 turun dari 3,76 persen pada Agustus 2026. Penurunan tersebut melanjutkan tren sejak Juni 2026.

Sementara itu, inflasi bulanan September mencapai 0,60 persen, naik dibandingkan Agustus yang sebesar 0,18 persen. Secara kumulatif, inflasi Januari hingga September 2026 tercatat 1,83 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumbar, M Abdul Majid Ikram, mengatakan penurunan inflasi tahunan ditopang deflasi sejumlah komoditas pangan, terutama cabai merah, bawang merah, dan telur ayam ras.

Secara tahunan, cabai merah memberikan andil deflasi sebesar 0,23 persen, bawang merah 0,16 persen, dan telur ayam ras 0,03 persen.

Namun, penurunan inflasi tahunan tertahan kenaikan harga daging ayam ras, emas perhiasan, dan beras. Ketiganya masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,31 persen, 0,30 persen, dan 0,23 persen.

Majid mengatakan kenaikan inflasi bulanan September terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Cabai merah menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,47 persen.

“Kenaikan inflasi disumbang oleh cabai merah, daging ayam ras, beras, cabai hijau, dan ikan cakalang. Cabai merah menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,47% (mtm),” ujarnya dalam siaran pers, Jumat (2/10).

Menurutnya, kenaikan harga cabai merah dipengaruhi meningkatnya pengiriman ke luar Sumbar akibat penurunan produksi nasional.

Kondisi tersebut juga dipengaruhi berkurangnya pasokan dari sejumlah wilayah akibat erupsi dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Daging ayam ras, beras, cabai hijau, dan ikan cakalang masing-masing memberikan andil inflasi 0,03 persen.

Di sisi lain, kenaikan inflasi tertahan penurunan harga emas perhiasan, cabai rawit, angkutan udara, jengkol, dan kentang. Harga cabai rawit turun seiring bertambahnya area budidaya di sejumlah sentra.

Secara spasial, seluruh kabupaten/kota sampel IHK di Sumbar mengalami inflasi pada September. Inflasi bulanan tertinggi terjadi di Pasaman Barat 1,11 persen, Dharmasraya 1,03 persen, Bukittinggi 0,98 persen, dan Padang 0,33 persen.

Secara tahunan, Dharmasraya mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,42 persen, diikuti Pasaman Barat 3,56 persen, Bukittinggi 3,43 persen, dan Padang 3,33 persen.

Menghadapi kenaikan harga cabai merah, TPID bersama Bank Indonesia dan Bulog melakukan operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah. Kerja Sama Antar Daerah juga dioptimalkan untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga.

Majid menyebut stok cabai merah di sentra produksi, termasuk Alahan Panjang, Kabupaten Solok, saat ini cukup memadai. Pasokan dari Jawa Tengah juga menambah ketersediaan di pasar.

Ke depan, inflasi Sumbar diprakirakan tetap berada dalam sasaran nasional 2,5±1 persen. Namun, risiko kenaikan harga pangan dan energi global, cuaca ekstrem, bencana alam, distribusi, pasokan antardaerah, disparitas harga, serta tekanan nilai tukar rupiah masih perlu dicermati. (*)

Editor : Hendra Efison
inflasi September 2026 harga cabai Sumbar inflasi sumbar Bank Indonesia Sumbar