Vanili Jerigud Farm Agam, 5 Tahun Menanti Panen

Dian Nurul Haq • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:32 WIB
Pengunjung mempelajari teknik penyerbukan bunga vanili di Jerigud Farm, Nagari Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam.
Pengunjung mempelajari teknik penyerbukan bunga vanili di Jerigud Farm, Nagari Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam.

PADEK.JAWAPOS.COM— Empat hingga lima tahun menjadi masa tunggu tanaman vanili sebelum siap dipanen. Bagi Omay, 54, dan Rina, 47, lamanya proses itu bukan alasan untuk berhenti mengembangkan usaha pertanian keluarga di Nagari Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam.

Di kebun yang mereka kelola, vanili tumbuh berdampingan dengan kopi, jahe, dan tanaman lainnya. Mereka juga memelihara lebah trigona untuk menghasilkan madu, mengolah hasil kebun menjadi beragam produk, serta membuka kesempatan bagi masyarakat untuk belajar budidaya vanili.

Kebun tersebut berjarak sekitar tujuh kilometer dari pusat Kota Bukittinggi. Melalui Jerigud Farm, Omay dan Rina mengembangkan pertanian tidak hanya untuk menghasilkan bahan mentah, tetapi juga menciptakan nilai tambah melalui pengolahan produk dan kegiatan edukasi.

Berawal dari Kebun Jeruk Keluarga

Perjalanan usaha mereka bermula sekitar 18 tahun lalu. Saat itu, lahan keluarga masih berupa kebun jeruk yang dikelola orang tua mereka, sebelum kemudian dikembangkan dengan tanaman lain, termasuk kopi.

Sekitar 15 tahun lalu, Rina melihat peluang untuk membudidayakan vanili. Berdasarkan pengamatannya, petani vanili belum banyak ditemuinya di Sumatera Barat. Pengalaman Omay yang pernah menjual vanili turut menjadi bekal bagi keduanya untuk mengenal komoditas tersebut.

Mereka memulai budidaya dengan sekitar 1.000 batang vanili. Sejak itu, tanaman yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menghasilkan buah tersebut menjadi bagian dari usaha pertanian keluarga yang terus mereka kembangkan.

“Kami selalu berusaha maju. Sejak awal, kami terus mencari peluang yang bisa mengembangkan usaha pertanian ini. Sampai sekarang, kami terus berupaya agar usaha kami semakin maju dan berkembang,” ujar mereka.

Prinsip tersebut mereka terapkan dengan mengembangkan beragam komoditas, mempelajari pengolahan hasil kebun, dan mencari peluang pasar. Mereka juga menerapkan pendekatan organik dalam budidaya hingga pengolahan produk.

Mengelola Kebun dengan Pendekatan Organik

Bagi Omay dan Rina, menjaga kebun bukan sekadar memastikan tanaman tumbuh dan menghasilkan buah. Mereka mengaku tidak menggunakan bahan kimia dalam proses budidaya hingga pengolahan produk karena menilai penggunaan bahan kimia secara terus-menerus berisiko merusak tanah dan lingkungan.

Mereka memandang lahan dan iklim sebagai pemberian Tuhan yang perlu dirawat. Karena itu, upaya menjaga lingkungan juga dilakukan melalui pemanfaatan bahan yang tersedia di sekitar mereka.

Rina, misalnya, memilah sampah rumah tangga dengan memisahkan plastik dan bahan yang dapat didaur ulang dari sisa dapur organik. Sisa organik tersebut kemudian diolah menjadi pupuk untuk kebun. Limbah pertanian juga dimanfaatkan kembali untuk membantu menyuburkan tanah.

Di lahan yang sama, vanili tumbuh bersama kopi, jahe, dan tanaman lainnya. Keberadaan lebah trigona menambah jenis hasil yang dapat dikembangkan dari kebun tersebut.

Namun, budidaya vanili membutuhkan ketelitian. Tanaman ini memerlukan waktu sekitar empat hingga lima tahun sebelum siap dipanen. Setelah berbunga, penyerbukan juga perlu dilakukan dengan bantuan manusia agar bunga dapat berkembang menjadi buah.

Penyerbukan dilakukan ketika bunga mekar, umumnya pada pagi hingga menjelang siang. Kesempatan tersebut terbatas karena bunga yang kembali menutup tidak dapat diserbuki lagi pada kesempatan yang sama.

Lamanya masa tunggu menjadi tantangan tersendiri ketika Omay dan Rina membina anak-anak muda yang ingin belajar bertani. Sebagian peserta memilih berhenti sebelum setahun karena hasil yang diharapkan belum terlihat.

“Banyak anak binaan kami yang sudah menyerah sebelum satu tahun,” ungkap mereka.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa mengenalkan pertanian kepada generasi muda tidak cukup hanya dengan menjelaskan peluang ekonominya. Ketekunan menjalani proses juga diperlukan, terutama untuk komoditas yang tidak bisa langsung menghasilkan.

Mengolah Vanili Menjadi Beragam Produk

Lamanya masa budidaya tidak membuat pemanfaatan vanili berhenti pada hasil panen. Rina mengembangkan pengolahan vanili menjadi berbagai produk setelah mempelajari caranya secara mandiri melalui referensi internet dan YouTube.

Vanili dapat dijual dalam bentuk buah atau polong mentah. Selain itu, mereka mengolahnya menjadi sabun, losion, gula vanili, sirop, bubuk vanili, dan sejumlah produk lainnya.

Pengolahan tersebut memperluas pemanfaatan hasil kebun. Vanili tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga dikembangkan menjadi produk yang dapat ditawarkan kepada konsumen dalam bentuk berbeda.

Jerigud Farm bahkan telah menjual produknya ke luar negeri dalam skala terbatas. Meski demikian, Omay dan Rina belum menyebut usaha mereka sebagai eksportir besar karena produksi masih berada pada skala UMKM atau rumahan.

Keduanya menyebut vanili kering berkualitas tinggi dapat mencapai harga Rp60 juta hingga Rp80 juta per kilogram untuk penjualan ke luar negeri. Nilai tersebut mereka pandang sebagai salah satu peluang ekonomi dari komoditas yang membutuhkan waktu panjang untuk dibudidayakan.

Bagi mereka, pengembangan usaha tidak cukup mengandalkan tanaman yang tumbuh di kebun. Pengetahuan pengolahan, upaya mencari pasar, dan keberanian mencoba produk baru turut menentukan bagaimana hasil pertanian dapat dikembangkan.

Jerigud Farm Menjadi Tempat Belajar Pertanian

Selain mengembangkan budidaya dan produk olahan, Jerigud Farm membuka kebun untuk kunjungan edukasi, pelatihan, dan lokakarya. Pengunjung dari berbagai daerah, rombongan sekolah, hingga pengunjung dari luar negeri datang untuk melihat tanaman vanili dan mempelajari budidayanya.

Melalui kegiatan tersebut, pengunjung dapat mengenal proses pertanian secara lebih dekat. Mereka bisa mempelajari bahwa vanili membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum dipanen, memerlukan perawatan, dan dapat diolah menjadi beragam produk.

Omay dan Rina juga memberi kesempatan kepada anak-anak muda untuk belajar pertanian. Namun, pengalaman mereka menunjukkan bahwa ketertarikan pada awalnya belum tentu membuat seseorang bertahan menjalani proses hingga tanaman menghasilkan.

Keduanya tetap memandang pertanian sebagai bidang yang memiliki peluang untuk dikembangkan. Menjadi petani, menurut mereka, tidak berarti hanya bekerja di lahan dan menjual hasil panen. Pertanian juga membutuhkan pengetahuan, kemampuan melihat peluang, serta kreativitas dalam mengembangkan hasilnya.

“Jika mau jadi kaya, jadilah petani, kalau mau dikatakan orang modern dan punya pola pikir yang luas jadilah petani,” pesan mereka kepada generasi muda.

Dari kebun jeruk keluarga, Omay dan Rina mengembangkan beragam tanaman, mencoba budidaya vanili, memanfaatkan limbah organik, hingga mengolah hasil kebun menjadi produk bernilai tambah.

Perjalanan Jerigud Farm memperlihatkan bahwa pengembangan usaha pertanian tidak hanya bergantung pada waktu panen. Pengetahuan pengolahan, pemanfaatan sumber daya, pencarian pasar, dan kegiatan edukasi menjadi bagian dari upaya mereka memperluas manfaat kebun di Nagari Gadut.

Bagi Omay dan Rina, pertanian bukan sekadar menunggu tanaman berbuah. Ada proses panjang untuk merawat lahan, mempelajari hal baru, dan menemukan peluang agar usaha terus berkembang.(*)

Editor : Hendra Efison
Jerigud Farm Agam budidaya vanili Agam kebun vanili Sumatera Barat produk olahan vanili wisata edukasi pertanian