Penulis : Elfindri - Guru Besar FEB Unand
Dari sekian sisi karakter baik yang diperlukan mental pemberi sangat diperlukan. Tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah!.
Kita bersyukur memiliki orangtua telah meninggalkan pemahaman, “Nak kalau kamu besar, biasakan memberi, dan hindarkan untuk selalu menerima”.
“Jika kamu terbiasa menerima, maka akan selalu mengharapkan belai kasihan orang lain kelak”.
Nasihat itu berkesan pada diri saya. Bahkan diperkuat dengan membiasakan mental lebih dahulu memberi secara ikhlas. Nasehat orangtua juga kalau kamu memiliki banyak uang dan memberi, maka itu biasa. Namun. Ketika kamu memiliki keterbatasan, kamu memberi, maka itu luar biasa.
Nabi Muhammad SAW pun telah memberi contoh bagaimana beliau memberikan petunjuk dan bermental bagi seorang hamba miskin. Beliau mintakan harta terakhir untuk dijual.
Sebagian dari hasil penjualan digunakan untuk membeli Kampak, agar Kampak bisa digunakan untuk mencari kayu, dan kayu bisa untuk dijual intuk melanjutkan keperluan hidup. Sementara sisanya dibelikan ke Gandum untuk memenuhi keperluan makanan.
Prinsipnya Nabi Muhammad SAW mengajak umatnya untuk berkerja, bukan hanya menerima belai kasihan.
Tamu saja bisa dimuliakan selama 3 hari. Begitu etikanya. Setelah itu tidak pantas Sang tamu hanya menunggu belai kasihan, apalagi tidak mau ringan tangan di rumah sebagai tamu, membantu tuan rumah dalam menyiapkan makanan, membersihkan rumah, dan berkontribusi.
Dalam perjalanan waktu, kita secara alamiah memberikan bantuan pada orang miskin absolut sangat dianjurkan.
Pemberi tidak saja dalam konteks uang, namun lebih dari itu. Bisa terbiasa membanntu dengan tenaga, berbagi fikiran dan kearifan.
Keikhlasan puncak segala galanya dalam memberikan bantuan. Itulah yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim AS, kepada Anaknya Ismail AS. Dalam berqurban mental ikhlash dalam membantu sesama. Ini hanya Allah SWT yang maha tau akan keikhlasan, dari kita.
Pendidikan Pemberi
Gifting merupakan nilai eksternalitas non monetary dari manfaat seseorang terdidik. Hasil kajian dari Dona Amelia, bahwa semakin terdidik semakin tinggi tingkat kedermawanan. Pendidikan keagamaan mendorong orang jadi dermawan? Ya begitu.
Di Indonesia kedermawanan merupakan unsur yang terbiasa. Ini yang membuat negara kita tergolong bahagia, dari unsur kualitatif itu. Suku Minang lebih dermawan dari suku jawa secara umum.
Mungkin proses pendidikan formal sejalan dengan pendidikan di rumah. Ketika anak anak terbiasa diberi, maka kebiasaan menerima pemberian akan melekat sampai dewasa.
Tatkala kita pantau di lingkup alumni, kelompok kampung dan sejenisnya, mereka yang dermawan akan tetap menjadi dermawan sejati. Bagi yang tidak terbiasa, maka mereka akan jadi tetap sulit untuk menjadi pemberi.
Ini kelihatan kalau sudah masuk mengumpulkan sumbangan, makan bersama, atau bepergian, yang dermawan tetap dermawan.
Biasa kebiasaan kasih makan MBG akan memperkecil anak anak untuk berderma, mereka akan suka menerima kelak.
Dalam memajukan ekonomi syariah, generasi yang tangguh diperlukan, mereka semakin banyak yang ekspoaure terhadap berbagai usaha, termasuk menjadi dermawan. (*)
Editor : Adriyanto Syafril