PADEK.JAWAPOS.COM - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menuai sorotan. Kali ini soal pengadaan motor listrik untuk operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Bukannya gerah dikritik. Justru seperti anjing menggonggong kafilah berlalu saja. Program dan rencana tetap jalan tanpa mau mendengar suara-suara sumbang publik.
Sebanyak 25 ribu lebih motor listrik segera sampai ke tiap SPPG. Gunanya untuk operasional kepala SPPG. Lha? Apa selama ini kepala SPPG tak punya kendaraan sendiri? Masa sekelas SPPG tak mampu beli sepeda motor? Yang mengejutkan lagi harga motor listriknya mehong, Rp 45 juta sampai Rp 50 juta per unit. Jauh lebih tinggi dari harga pasaran yang berkisar Rp 20 jutaan per unit. Diklaim produk dalam negeri bukan impor tapi kok harganya mahal banget. Sepeda motor biasa saja masih di bawah itu harganya.
Tak salah kiranya banyak yang beranggapan program ini proyek terselubung untuk kepentingan segolongan orang. Pengelolanya sehat sejahtera. Gajinya standar UMP. Bahkan ada wacana pegawainya diangkat jadi PPPK. Pantas saja diprotes guru honorer yang ada masih bergaji ratusan ribu. Mengajar belasan tahun tak diangkat-angkat jadi ASN. Ini pegawai MGB, mudah saja tanpa perjuangan langsung diangkat jadi P3K. Ditambah lagi tiap kepala SPPG dapat motor listrik. Makin asyik.
Tak sebanding dengan kinerja dan produk yang mereka hasilkan. MBG masih saja membuat keracunan siswa karena kualitas makananya tidak layak konsumsi. Jangankan memperbaiki gizi anak sekolah justru mengancam kesehatannya. Seporsi menu MBG nilainya minimalis, Rp 10 ribu. Tapi kenapa untuk sarana dan prasarana bisa leluasa anggarannya.
Tujuan program ini untuk perbaikan gizi. Tapi tidak semua anak menghabiskan jatah makanannya. Bahkan ada yang tidak menyentuhnya sama sekali. Alasannya tidak doyan menunya, makanan tidak enak, dimasak asal saja. Kurang matang, kurang bumbu dan lain sebagainya.
Nah, kenapa tidak ini yang jadi prioritas evaluasi dan perbaikan. Kalau MBG ngotot lanjut, harusnya yang menjadi fokus perhatian adalah produknya bukan pekerjanya. Bagi anak kurang mampu MBG sangat membantu. Pengeluaran orangtua juga bisa berkurang dengan adanya jatah makan siang gratis di sekolah.
Orangtua tak perlu lagi repot menyiapkan bekal anak ke sekolah. Tidak perlu keluar uang untuk jajan di sekolah. Tapi ya itu, perlu perbaikan menu dan peningkatan nilai gizi secara rutin dan terukur. Ahli gizi benar-benar menjalankan perannya dalam penentuan menu setiap harinya. Termasuk waktu dan cara memasak agar makanan tidak basi, terkontaminasi bakteri dan kehilangan nilai gizi ketika dimasak. Kepala SPPG jangan asyik dengan motor baru, tapi harus lebih meningkatkan kinerja karena tak ada lagi kendala transportasi. (*)
Editor : Adriyanto Syafril