Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Kartini Masa Kini (tidak) Kebablasan

Suryani • Selasa, 21 April 2026 | 23:38 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

PADEK.JAWAPOS.COM - Setiap 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Peringatan Hari Kartini tidak hanya dimeriahkan dengan pakai kebaya. Tapi memaknai perjuangan RA Kartini untuk wanita Indonesia. Pejuang emansipasi yang menginginkan wanita sejajar dengan lelaki di segala bidang. Tidak identik dengan dunia seputar dapur, sumur dan kasur. Dalam perjalanannya wanita Indonesia sudah ada yang menduduki posisi strategis di semua lini. Jangankan jadi menteri, wanita Indonesia pun sudah pernah jadi presiden. Sungguh mencapaian yang luar biasa. RA Kartini kalau masih hidup tentu berbahagia menyaksikan perjuangannya berhasil.

Zaman kini, wanita pun tak tabu mengerjakan pekerjaan yang biasa dikerjakan laki-laki. Misalnya jadi sopir angkutan umum, pemadam kebakaran dan pekerjaan penuh risiko lainnya. Tidak risih berada di lingkungan lelaki yang mendominasi. Pekerjaan itu dilakoni karena wanita pun mampu sejajar dengan pria walau tak meninggalkan sisi feminisnya.

Sejauh apapun mereka melangkah dan seberat apapun beban yang dipikulnya, seorang wanita tetapkan seorang istri dan ibu. Mereka melakukan itu bukan untuk dirinya sendiri tapi demi keluarga, terutama anak. Demi anak, ibu akan melakukan apa saja, termasuk menantang bahaya.

Wanita pergi bekerja di tengah orang terlelap tidur sudah biasa. Misalnya, dokter dan perawat yang jaga malam. Perempuan yang bekerja di dapur Makan Bergizi Gratis  (MBG), berangkat dari rumah pukul 00.00 atau jam 03.00 dinihari, melawan kantuk dan memupuk semangat demi cuan.

Wanita pun banyak yang merintis usaha dari kecil menjadi besar. Misalnya membuat rendang skala rumahan hingga punya omzet ratusan juta. Penjual keripik singkong yang memiliki beberapa cabang dan produknya terkenal ke mana-mana. Pemilik perusahaan kosmetika terkemuka yang tak tumbang diterjang badai.

Perempuan single parent tetap tangguh mengarungi samudera hidup yang penuh gejolak. Mereka berjuang sampai titik darah pengabisan demi keluarga.  Mereka memilih jalan itu dan memikul beban berat karena tak mau bergantung pada pria. Suami yang toxic, KDRT, pemalas dan sikap negatif lainnya. Tak ingin disakiti dan terus-terusan tertekan wanita memilih keluar dari ikatan pernikahan.

Banyak wanita yang menjadi tulang punggung keluarga bukan berarti kebablasan. Tapi mampu berperan menggantikan tugas laki-laki untuk menghidupi diri dan keluarga. Membuktikan dia bukan makhluk yang lemah dan hanya bisa mengurus rumah. Sebagaimana Kartini mendobrat feodalisme di zamannya.

Hanya saja, wanita jangan pula melampaui batas dan keluar dari rel. Tetap berpedoman kepada norma susila dan agama. Tak ada gunanya sukses hidup di dunia kalau di akhirat teraniaya. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#kebaya #hari kartini