PADEK.JAWAPOS.COM - Masyarakat sedang berhadapan dengan angka-angka baru di papan pengumuman harga BBM di SPBU. Harga BBM nonsubsidi Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite melonjak drastis. Kenaikan juga mampir ke dapur rumah tangga. Harga elpiji nonsubsidi 5,5 kg dan 12 kg naik signifikan.
Pemerintah menegaskan penyesuaian harga tersebut merupakan konsekuensi dinamika pasar global. Terutama fluktuasi harga minyak mentah dan beban subsidi energi yang terus membengkak.
Kebijakan itu patut diapresiasi sebagai upaya koreksi ekonomi makro yang berorientasi jangka panjang. Namun, bisa muncul godaan besar bagi konsumen untuk “turun kasta” ke BBM subsidi. Jika itu terjadi, kuota subsidi BBM bisa jebol lebih cepat.
Pemerintah melalui Pertamina sebenarnya sudah menerapkan pembatasan pembelian BBM subsidi melalui barcode MyPertamina. Sayang, aplikasi tersebut masih penuh lubang. Verifikasi lambat dan merepotkan serta data kendaraan sering hilang.
Pertamina perlu memperkuatnya supaya sistem bisa lebih cepat dan antimanipulasi. Misalnya, mengintegrasikan data konsumen dengan data nasional satu pintu (disdukcapil, samsat, dan e-KTP).
Verifikasi NIK, nopol, dan STNK dibuat singkat dalam hitungan detik. Tidak perlu daftar ulang manual lagi. Begitu kuota melebihi 50 liter per hari, sistem otomatis memblokir. Selanjutnya, BBM terhitung dengan harga nonsubsidi. Aplikasi serupa bisa diterapkan untuk mencegah melencengnya subsidi elpiji.
Lebih jauh, koreksi harga tersebut perlu dibarengi bantalan sosial dan strategi transisi yang memadai. Risiko paling dekat bukan hanya inflasi, melainkan efek berantai seperti naiknya ongkos distribusi barang dan harga kebutuhan pokok.
Bantuan langsung tunai bisa digelontorkan sebagai perisai sementara supaya kenaikan harga energi nonsubsidi tidak memicu inflasi berantai atau PHK massal di sektor riil. Penyalurannya harus diawasi dengan ketat supaya tepat sasaran.
Namun, bagaimanapun, BLT hanyalah obat pereda nyeri, bukan penyembuh luka permanen. Jawaban sebenarnya atas krisis BBM ini adalah kemandirian energi. Tanpa itu, kenaikan harga hanya akan menjadi siklus berulang tanpa solusi. (*)
Editor : Adriyanto Syafril