Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 penuh janji manis dan bertabur kado istimewa. Presiden Prabowo Subianto menjanjikan sisa hidupnya akan diabadikan untuk rakyat, termasuk buruh tentunya. Presiden menyampaikan sederet janji di depan massa buruh yang berkumpul saat puncak perayaan Hari Buruh Internasional di Monas, Jakarta Pusat, Jumat (1/5).
Prabowo menjanjikan cicilan rumah murah untuk buruh. Termasuk rencana kota-kota baru berkonsep terpadu dengan 100.000 unit rusun per kota, dilengkapi sekolah, fasilitas olahraga, daycare, dan rumah sakit. Perpres tentang perlindungan pekerja transportasi online dan BPJS untuk ojol. Perpres No. 25 Tahun 2026 tentang Ratifikasi Konvensi ILO No. 188 untuk perlindungan awak kapal perikanan, kredit murah untuk rakyat hingga pembentukan Satgas PHK.
Janji manis Presiden mampu membuat para buruh dan ojol maupun pekerja swasta tersenyum. Setidaknya keberadaan mereka mendapat perhatian presiden. Suara-suara riuh rendah mereka didengarkan juga. Mereka yang masih bertahan jadi buruh dan belum jadi korban PHK setidaknya masih punya harapan. Walau gaji kecil, tenaga diperas tetap sabar karena tak punya pilihan.
Lapangan pekerjaan yang semakin sempit dan sejumlah posisi digantikan teknologi adalah tantangan berat. Banyak perusahaan yang melakukan PHK karyawan karena margin turun, merugi dan bangkrut. Mereka yang kena PHK atau mantan buruh sudah memilih jalan masing-masing untuk melanjutkan hidup. Sementara yang masih bertahan tinggal menunggu waktu. Jika perusahaan atau pabrik tempatnya bekerja stabil dan makin berkembang mungkin relatif aman. Tidak perlu risau dan waswas sewaktu-waktu kena PHK.
Bagaimana dengan perusahaan yang terimbas teknologi, efisiensi dan krisisdan perang? Kalaupun masih beroperasi, kondisinya tidak baik-baik saja. Margin atau cash flow turun. Dampaknya gaji karyawan tidak lancar. Gaji tertunggak atau dikurangi harus diterima karyawan atau buruh dengan terpaksa. Sudahlah gaji kecil, dikurangi lagi. Yah, mau bagaimana lagi. Mau resig, belum tentu bisa dapat kerja lagi. Wirausaha? Tidak semua berani. Akhirnya tetap bertahan sambil berharap ada keajaiban. Berdoa kondisi pulih. Hidup superhemat agar tidak kelaparan.
Apalagi di tengah kondisi harga-harga terus naik imbas perang Timur Tengah. Pajak yang terus mencekik tanpa kompromi. Buruh dan pekerja swasta yang upahnya pas-pasan jadi ngos-ngosan. Mau kerja sampingan sebagai ojol? Sudah banyak betebaran di jalanan. Mereka sebagian korban PHK.
Pemerintah harusnya juga hadir di sini. Berilah relaksasi kepada perusahaan yang mengalami kesulitan agar bisa sedikit bernapas lega. Bisa membayar gaji atau upah selayaknya. Perusahaan bukan mencari keuntungan semata. Mereka juga berperan mendorong ekonomi dan mengatasi pengangguran. Tak ada salahnya pemerintah juga memberi subdisi gaji untuk buruh dan karyawan swasta yang bergaji rendah. Walau hanya Rp 300 ribu sebulan cukup membantu untuk beli beras atau BBM. Mensupport buruh jangan setengah-setengah. (*)
Editor : Adriyanto Syafril