Kenaikan harga plastik dan Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi berdampak besar kepada bahan bangunan. Harga bahan bangunan naik mencapai 40 persen.
Bahan bangunan dan produk turunannya yang terbuat dari plastik, seperti tangki air plastik, pipa PVC, kabel listrik paling terdampak karena terbuat dari plastik. Besi dan baja pun ikut-ikutan naik.
Sementara bahan bangunan non-plastik, seperti batu bata, semen, hingga pasir ikut terdampak dengan kenaikan 10-15 persen imbas kenaikan BBM karena pengangkutannya memakai truk yang menggunakan BBM nonsubsidi.
Tidak hanya konsumen yang mengeluhkan. Produsen, distributor hingga pemilik toko bangunan pun kelimpungan. Penjual kadang menahan barang menyikapi situasi yang tidak stabil.
Masyarakat sebagai konsumen yang paling menanggungkan akibatnya. Kenaikan harga yang tiba-tiba membuat masyarakat yang sedang membangun rumah kecewa. Terpaksa mengitung ulang biaya. Kalau anggarannya tidak cukup, pengerjaan jadi bertahap. Step by step. Kalau uang habis, stop dulu. Pembangunan rumah jadi terbengkalai.
Tidak hanya masyarakat umum, bisnis developer pun terancam. Pengembang harus menaikkan harga rumah kalau tak mau rugi. Itu kalau pembangunan belum dimulai. Kalau sudah setengah jadi, terpaksa nombok. Tak ada uang, mangkrak. Apalagi akhir-akhir ini bisnis properti agak kurang menggembirakan. Terimbas pelemahan ekonomi dan penurunan daya beli masyarakat.
Kenaikan ini tidak bisa dianggap sepele, ada banyak efek domino yang akan terjadi. Mulai dari muncul oknum-oknum yang menjual bahan bangunan dengan harga tinggi karena stoknya langka di pasar, masuknya produk-produk impor yang lebih murah yang membuat produk lokal tidak laku, hingga kelangkaan bahan-bahan bangunan karena produsennya berhenti produksi imbas naiknya harga produksi.
Naiknya bahan bangunan yang berimbas pada terhentinya masyarakat maupun pengembang membangun rumah menambah angka pengangguran. Tukang dan kuli bangunan pun akan terpaka menganggur.
Para buruh bangunan cukup banyak jumlahnya. Mereka bekerja hanya berdasarkan upah harian maupun mingguan. Tidak ada tunjangan dan jaminan sosial. Upah buruh bangunan tak ada standarnya.
Kadang nilainya di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP). Tidak pula dapat kerja tetap atau berkesinambungan seperti pekerja pabrik. Bisa dibayangkan seperti apa kehidupan mereka. Tak jarang gali lubang tutup lubang.
Masyarakat yang berpenghasilan pas-pasan semakin jauh manaruh harapan bisa punya rumah sendiri. Uang tabungan semakin tergerus inflasi. Naiknya biaya hidup terpaksa ditambal dengan menarik sedikit demi sedikit uang simpanan.
Diharapkan pemerintah bisa lebih cepat dan tegas mengatasi hal ini. Penghapusan bea masuk impor LPG dan beberapa bahan baku plastik menjadi 0 persen dinilai belum ampuh menstabilkan harga bahan bangunan.
Wacana mengimpor bahan baku plastik dari negara lain hendaknya segera diwujudkan. Termasuk mengawasi penimbunan barang dilakukan oknum yan g akan memperparah keadaan. (*)
Editor : Adriyanto Syafril