Hari Raya Idul Adha atau hari raya Kurban bukan sekadar shalat sunat Idul Adha dan menyembelih hewan kurban. Banyak makna yang tersirat di dalamnya.
Hakikat kurban adalah bentuk ketundukan, ketaatan, dan kecintaan seorang hamba kepada Allah SWT yang diwujudkan melalui pengorbanan harta (berupa hewan kurban).
Bukan sekadar ritual menyembelih hewan, ibadah ini merupakan simbol untuk “menyembelih” ego, hawa nafsu, dan sifat-sifat hewani di dalam diri manusia.
Berkurban pun tidak menunggu kaya dulu. Punya uang banyak dulu. Tapi bisa ditabung sedikit demi sedikit hingga menjadi bukit.
Cukup untuk membeli seekor kambing. Kalangan kelas bawah pun tak ragu-ragu untuk berkurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.
Mereka yang menyadari itu walau kekurangan tetap menyisihkan sedikit uang untuk membeli hewan kurban. Setiap hari raya kurban selalu ada cerita orang tak punya ikut berkurban.
Mereka pun berbahagia bisa menunaikan ibadah kurban dan bisa berbagi dengan sesama.
Tidak selalu menjadi penerima daging kurban dari orang-orang yang mampu. Tapi ikut berbagi dengan orang lain. Padahal untuk makan sehari-hari saja mereka pun ala kadarnya saja.
Tak takut menjadi tambah miskin. Ia yakin berkurban dengan penuh keikhlasan akan dibalas Tuhan dengan bentuk lain.
Orang-orang seperti ini tidak hidup memburu harta atau mencari kaya. Baginya yang utama adalah mencari ridho Allah.
Berkurban tidak bisa dikaitkan dengan kondisi ekonomi. Karena tidak semua orang penghasilannya terimbas situasi politik global.
Kuncinya hanya niat. Kalau ada niat dan keinginan untuk berkurban tentu ada saja jalannya.
Bisa saja Tuhan memberi rezeki dari pintu yang lain. Kalau ikhlas tentu pengorbanan tersebut tidak akan sia-sia.
Berkurban juga memiliki makna menghilangkan atau menyembelih sifat serakah.
Zaman sekarang banyak orang yang kaya makin kaya dan menumpuk harta.
Menghalalkan segala cara untuk keuntungan pribadi. Tidak peduli mengambil atau memakan hak orang lain. Selalu haus akan harta dan kedudukan.
Parahnya juga tidak peduli pada orang lain. Tidak mau berbagi dengan orang susah. Menciptakan jarak dengan kalangan bawah.
Seolah merasa kedudukan lebih tinggi karena punya harta dan jabatan. Padahal di mata Allah semua hambaNya sama. Diukur dari ketaatannya.
Ironisnya kalau ada yang berkurban untuk tujuan tertentu. Semisal guna mencari dukungan. Demi mendapatkan nama.
Kalau yang begini tentu umat muslim bisa menilainya. Menyikapi dengan bijak. Semoga saja pada Hari Raya Kurban tahun ini tidak ada yang seperti itu lagi.
Hari raya kurban juga identik dengan milik kalangan kurang mampu. Mereka yang bisa makan daging sepuasnya hanya saat Idul Adha. Harga daging tak terjangkau bagi kantong mereka.
Sehari-hari hanya bisa beli tahu tempe, ikan asin dan sesekali ayam. Maka ketika hari Raya Kurban tiba mereka bisa makan rendang, sop daging, dendeng balado dan lainnya sepuasnya. Itupun kalau mereka dapat daging kurban yang cukup.
Pembagian kupon kurban diproritaskan pada kalangan ini. Jika jumlah hewan kurban berkurang tapi hendaknya jatah mereka tidak dikurangi. (*)
Editor : Adriyanto Syafril