Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mewaspadai Dampak Musim Kemarau

Redaksi • Sabtu, 6 Juni 2026 | 08:40 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Musim Kemarau rawan terjadi kebakaran. Cuaca yang kering ditambah tiupan angin yang cukup kencang jika ada sumber api akan cepat menjalar dan membesar. Memasuki musim kemarau awal Juni 2026, sudah banyak terjadi musibah kebakaran di Sumbar. Mulai kebakaran lahan, rumah, kantor dan lainnya. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026.  

Kemarau yang akan berdampak luas terhadap ketersediaan air dan risiko kekeringan di berbagai daerah. Selain itu  biasanya juga disertai oleh kebakaran lahan dan hutan. Terkadang musim kemarau malah dimanfaatkan pemilik perkebunan sawit membakar lahan yang tanamannya sudah tidak produktif.

Makanya pihak berwenang harus mewanti-wanti pengusaha kebun sawit dan pemilik lahan sawit  tidak melakukan pembakaran untuk peremajaan. Karena dampak asap yang ditimbulkan akan sangat luas. Sampai melintasi pulau dan negara. Belum lagi dampak kesehatannya bagi masyarakat dan makhluk hidup. Kebakaran hutan akan mengancam kelestarian satwa yang dilindungi. Masih ingat video orangutan bergelantungan di sisa pohon dengan luka bakar di tubuhnya? Mereka kehilangan tempat tinggal dan hidup terlunta-lunta. Masih banyak satwa yang mati terpanggang akibat kebakaran hutan. Kalau tidak ada upaya mitigasi maka kejadian yang sama akan terus berulang.

Di awal musim kemarau atau El Nino tahun ini sudah terjadi kebakaran lahan di kawasan Atehkoto, Nagari Suliki, Kecamatan Suliki Kabupaten Limapuluh Kota. Untungnya cepat dipadamkan oleh petugas pemadam bersama masyarakat setempat sehingga tidak merebet ke mana-mana. Tidak diketahui asal muasal api. Mungkin saja berawal dari membakar sampah lalu menjalar ke semak-semak dan pohon-pohon. Membuang puntung rokok yang masih nyala ke tempat sampah. Atau bahan yang mudah terbakar lalu api hidup dan membesar menyambar material di sekelilingnya.  

BMKG memperkirakan sifat hujan selama musim kemarau ini berada di bawah normal atau lebih kering dari biasanya. Fenomena El Niño yang aktif membawa ancaman cuaca ekstrem dengan suhu yang lebih panas dari rata-rata. Selain ancaman kebakaran, kekeringan dan krisis pangan juga bakal melanda. Masyarakat tidak saja akan kekurangan air bersih tapi juga bahan pangan.

Keringnya air irigasi membuat petani tidak bisa bercocok tanam atau menanam padi di sawah. Lahan sawah yang ada bakal telantar. Paling sebagian bisa ditanami jagung, kacang tanah dan sayur-sayuran. Untuk bisa tumbuh harus disiram. Kalau sumber air kering mau disiram pakai apa? Mujur kalau air sumur tidak ikut kering.

Pemerintah harus melakukan langkah antisipasi jauh-jauh hari. Jangan sampai terjadi krisis pangan dan beras mahal. Petani yang biasa makan beras hasil lahan sendiri akhirnya jadi beli beras. Tentu kebutuhan beras meningkat. Saat ini cadangan beras bulog masih melimpah. Mudah-mudahan cukup untuk stok di musim kemarau. Bila perlu menambah cadangan agar tidak kehabisan. Beras bulog (SPHP) sangat membantu karena harganya jauh lebih murah. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#tajuk rencana