Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

MBG jadi ”Dewa Penyelamat”

Redaksi • Rabu, 10 Juni 2026 | 09:15 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Makan Bergizi Gratis (MBG) masih jadi perbincangan. Kali ini bukan soal korupsi. Bukan pula masalah keracunan atau makanan yang mubazir.  Justru sebaliknya. Dapur MBG potensial untuk menyerap bahan pangan yang tak terserap di pasar. Makan tak dimakan bukan masalah. Yang penting tetap beroperasi karena anggarannya ada. Besar pula. Daripada dikorupsi segelintir oknum lebih baik “dibagi-bagi” penyerapannya. Lebih banyak yang bisa menikmatinya. Tidak saja pengelola mulai pejabat Badan Gizi Nasional (BGN) dan pegawai SPPG. Tapi juga pengusaha besar, kecil, petani, peternak dan lainnya.

Nah, MBG rupanya juga bisa dimanfaatkan untuk penampung bahan pangan yang kelebihan produksi. Contohnya, telur dan ayam ras yang belakangan over produksi dan tak terserap di pasaran. Bahkan Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, skema penyerapan tidak hanya berlaku untuk telur, tetapi juga komoditas pangan lain yang mengalami kelebihan pasokan sehingga menekan harga di tingkat produsen. Kemendag pun telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengoptimalkan peran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah-daerah yang mengalami penurunan harga komoditas. Melalui mekanisme tersebut, hasil produksi peternak diharapkan terserap lebih besar sehingga harga kembali mendekati tingkat yang menguntungkan peternak.

Kalau ini terealisasi tentu peternak tak akan pernah merugi. Tak pusing lagi kemana harus menjual produknya. Karena pasar sudah harganya sudah jelas. Kepastian penerimaan uangnya juga sudah pasti. Harga produk pun sudah ditentukan sejak teken kontrak. Jelas peternak untung terus. Kita tahu peternak ayam ras dan petelur banyak juga pengusaha besar. Tidak semata pengusaha tapi juga ada yang nyambi di partai politik. Tapi terlalu dini juga menuduh ada kongkalikong.

Kenapa tidak dicari tahu dulu apa benar ayam dan telur benar-benar banyak tak terserap di pasaran. Sebab harga telur dan daging ayam ras di pasaran tidak banyak turunnya. Siapa tahu ada bermasalah di rantai distribusinya. Karena dua komoditi ini termasuk makanan sejuta umat. Ayam dikonsumsi hampir tiap hari masyarakat Indonesia. Bahkan sempat harga ayam dan telur naik karena diborong oleh dapur MBG yang ada. Pedagang kelontong bahkan kadang kewalahan mendapatkan stok karena bersaing dengan dapur MBG. Tentu mengagetkan jika tiba-tiba stok melimpah.

Selain itu, jika produksi telur dan ayam sudah diborong dapur MBG bagaimana saat permintaan telur dan ayam tinggi seperti pada hari besar keagamaan. Biasanya pada momen Idul Fitri permintaan akan meningkat. Di saat tersebut produksi tidak bertambah, permintaan meningkat jelas akan terjadi kelangkaan kan? Bisakah dimomen seperti itu pasokan untuk dapur MBG dikurangi atau distop dulu? Oke, kalau bisa gak apa.

Penyerapan komoditi pangan terutama produk pertanian langsung dari petani gurem akan lebih bagus. Tentunya bagi yang kesulitan mengakses pasar atau tak terserap di pasaran. Contohnya sayur-sayuran. Seperti sayur bayam, kangkung, kacang panjang, terong, timun dan lainnya. Sayuran relative mudah ditanam namun serapan di pasar tidak seperti diharapkan. Banyak yang tak terjual karena tak semua masyarakat suka makan sayur.

Nah, kalau bisa dapur MBG menyerapnya tentu akan membahagiakan petani. Setidaknya mereka tidak lagi risau saat panen akan habis terjual atau malah jadi sampah di pasar. (*)

Editor : Adriyanto Syafril
#tajuk rencana #Makan Bergizi Gratis (MBG)