Dulu pemerintah pernah merencanakan mengganti kompor gas dengan kompor listrik. Namun belum apa-apa sudah ramai protes dari masyarakat. Bahkan anggota DPR RI yang juga artis penyanyi istri Mulan Jameela ikut-ikutan tak setuju. Waktu itu isunya, karena energi listrik Indonesia berlebih. Daripada tidak terpakai, maka “dipaksa” rakyat memakai kompor listrik.
Kompor listrik dinilai kurang efektif untuk memasak. Butuh waktu agak lama untuk memanaskan kompor dan memasak makanan. Belum lagi harga kompor yang mehong. Daya listrik yang terpakai untuk memasak. Tentu akan menambah pemakaian daya listrik dan tagihan setiap bulannya. Jelas masyarakat, terutama menengah ke bawah murka. Untungnya waktu itu pemerintah peka. Tak memaksakan kehendak. Rakyat pun bernapas lega. Walau kadang menjerit karena gas langka.
Nah, di saat kelangkaan LPG 3 kilogram terjadi di berbagai daerah saat ini pemerintah berencana menggulirkan pengembangan kompor listrik sebagai alternatif pengganti. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, tengah mengkaji kompor listrik dengan teknologi baru yang diklaim lebih baik dibandingkan program sebelumnya.Pemerintah dan PLN telah menyiapkan opsi penyediaan kompor listrik daya rendah yang lebih hemat dan aman, serta sedang menggodok anggaran tambahan untuk realisasinya.
Tapi banyak pihak yang meragukannya. Dinilai belum bisa dijadikan solusi untuk mengatasi kelangkaan LPG bersubsidi yang terjadi saat ini. Kebijakan tersebut dianggap lebih efektif sebagai langkah jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor.
Ketua Indonesian Center for Renewable Energy Studies (ICRES) Surya Darma mengatakan, dari sisi ekonomi makro dan ketahanan energi, pengalihan konsumsi energi memasak dari LPG ke listrik berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Saat ini, sebagian besar kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi dari luar negeri.
Penggunaan kompor listrik juga dapat membantu menyerap pasokan listrik nasional yang saat ini mengalami kelebihan kapasitas di sejumlah wilayah. Meski demikian, Surya menilai implementasi program tersebut tidak dapat menjawab persoalan kelangkaan dan kenaikan harga LPG 3 kilogram yang sedang dihadapi masyarakat.
Saat ini ekonomi masyarakat makin tertekan dan menghemat pengeluaran. Jika ditingkahi lagi dengan pengeluaran beli kompor listrik dan tagihan listrik jelas membuat masyarakat stress. Kalau belum pas momennya jangan dipaksakan. Kecuali kalau pemerintah memberi kompor gratis dan mensubsidi listrik bagi kalangan menengah ke bawah. Sama seperti konversi dari minyak tanah ke LPG dulu. Walau di awal-awal banyak teror kompor meledak tapi perlahan dan pasti masyarakat terbiasa dan menerima. Sehingga ketika rakyat sudah nyaman pakai gas jadi enggan pindah ke energi lain.
Siap-siap juga kalau sudah pakai kompor listrik, kalau listrik mati tidak bisa memasak. Kecuali masyarakat di perdesaan yang ada alternatif memasak dengan kayu bakar. Bayangkan hebohnya masyarakat perkotaan. Usaha kuliner, rumah makan, kafe restoran dan pedagang makanan pinggir jalan jika tiba-tiba listrik mati berjam-jam. Masih ingat kejadian baru-baru ini listrik mati men dadak (blackout) di wilayah Jambi akibat cuaca ekstrem baberapa waktu lalu? Mati beberapa jam saja dampaknya luar biasa. Untung masih pakai kompor gas sehingga masih bisa memanaskan air untuk minum kopi. (*)
Editor : Adriyanto Syafril