Alih fungsi hutan jadi kebun sawit tidak kaleng-kaleng. Penggundulan hutan di perbatasan Sumbar-Riu sampai ke Tanjungbalik contohnya. Videonya viral di media sosial dan menuai kecaman dari netizen. Banyak yang mengkhawatirkan bakal memicu bencana longsor dan banjir.
“Kenapa tidak pernah belajar dari kesalahan. Dimana pihak berwajib dan berwenang. Apakah harus menunggu bencana besar lagi baru pura-pura kaget ternyata hutannya dibabat? Ada juga netizen yang menyentil bupati yang punya ratusan hektare kebun sawit di Riau. Ratusan hektare hutan di Limapuluh Kota juga akan jadi kebun sawit,” sentil salah satu netizen.
Banyak orang lalang di kawasan tersebut. Tapi tak banyak yang berani mengkritiknya. Memposting di medsos. Mungkin mengira bukan urusannya. Ada pihak yang berwenang. Tapi bagaimana pihak berwenang tidak menjalankan tugasnya. Seolah tutup mata. Barangkali ada tangan kuat di baliknya. Sehingga tidak ada yang berani menyentuh.
Bukit sebagai hutan penyangga seharusnya tidak boleh digunduli seenak hati. Fungsi hutan penyangga (sering disebut sebagai hutan lindung) adalah menjaga sistem penyangga kehidupan dengan mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan menjaga kesuburan tanah. Keberadaannya vital untuk melindungi lingkungan dari kerusakan dan bencana. Berfungsi seperti spons yang menyerap air hujan ke dalam tanah dan melepaskannya secara perlahan saat musim kemarau, sehingga mencegah kekeringan dan banjir.Nah, kalau hutan lindung terus dibabat dan dijadikan kebun sawit, jelas tinggal menunggu bencana datang melanda.
Makanya, jika ada tangan besi dibalik alih fungsi hutan, tidak bisa didiamkan. Kalau pihak berwenang bungkam dan sewenang-wenang, masyarakat harus proaktif. Pegiat lingkungan harus lebih intensif lagi melakukan investigasi dan mengkritisi untuk mencegah perusakan hutan lindung. Jika cara-cara konvensional tak mempan, viralkan lewat medsos. Kalau sudah ramai biasanya akan ada tanggapan.
Jari-jari netizen di dunia maya mampu membuat suatu perubahan. Masyarakat dan pegiat medsos harus terus membuat konten yang positif untuk kepentingan masyarakat banyak. Memuat otokritik dan pengawasan jalannya roda pemerintahan dan prilaku pejabat dan aparaturnya.
Memang komoditi kelapa sawit adalah bisnis yang semakin menggiurkan. Tidak saja untuk kebutuhan dalam negeri tapi juga untuk ekspor. Kebutuhan kelapa sawit bukan saja untuk dijadikan bahan pangan seperti minyak goreng. Tapi juga dijadikan bahan bakar minyak (BBM) kendaraan. Kebutuhan terhadap komoditi sawit terus meningkat. Tentu saja pemilik modal tergiur terus mengembangkan kebun sawit. Tapi kalau tidak ada lahannya jangan dipaksakan mengalihfungsikan hutan. (*)
Editor : Adriyanto Syafril