PIALA Dunia 2026 sudah memasuki fase krusial. Mulai dini hari nanti, sudah di babak delapan besar. Namun, dari sejumlah bintang top yang berlaga, dari beberapa tim favorit yang selalu menjadi unggulan, dua negara “mini” sukses mencuri perhatian. Dua negara tersebut adalah Curacao dan Tanjung Verde.
Curacao yang hanya memiliki populasi sekitar 185 ribu jiwa bahkan tercatat sebagai negara dengan populasi terkecil yang pernah berpartisipasi di Piala Dunia. Namun, dengan populasi yang terbatas, toh Curacao mampu menemukan talenta-talenta hebat yang bisa membawa mereka lolos ke putaran final Piala Dunia 2026.
Tanjung Verde lebih sensasional. Negeri dengan populasi sekitar 529 ribu jiwa itu bahkan berhasil lolos fase knockout tanpa terkalahkan. Padahal, mereka satu grup dengan Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi.
Dan ketika mereka harus bentrok dengan Argentina di babak 32 besar, banyak yang memprediksi Lionel Messi dan kawan-kawan bakal menghajar telak Cape Verde. Faktanya, Argentina dipaksa berjuang hingga perpanjangan waktu untuk menghentikan laju negara peringkat ke-67 dunia itu.
Nah, dua pelajaran bisa dipetik dari kiprah dua negara mini tersebut. Bahwa populasi bukanlah hambatan untuk memburu prestasi.
Tanjung Verde dan Curacao memang tak punya liga profesional yang mentereng sehingga sangat sulit menjaring bibit pemain dari kompetisi domestik. Karena itu, Tanjung Verde memanfaatkan betul potensi diaspora mereka. Kenyataannya, jumlah warga keturunan Tanjung Verde yang tinggal di luar negeri memang lebih banyak daripada penduduk yang tinggal di negaranya sendiri.
Pemain keturunan Tanjung Verde tumbuh di Portugal, Belanda, Perancis, Belgia, dan berbagai negara Eropa yang memiliki sistem pembinaan sepak bola kelas dunia. Mereka masuk akademi profesional sejak kecil, mendapatkan pelatih terbaik, terbiasa dengan kompetisi berkualitas, dan bermain di klub-klub elite Eropa.
Namun, modal diaspora saja tak cukup. Federasi mereka tetap menggarap proyek jangka panjang yang menggabungkan perencanaan, stabilitas teknis, dan pemanfaatan para pemain keturunan.
Metode itulah yang patut diadopsi PSSI. Proyek naturalisasi memang masih bisa dikembangkan untuk mendongkrak kualitas timnas. Namun, mutu kompetisi, profesionalisme klub, serta pembinaan usia dini tak boleh ditinggalkan. Sangat ironis rasanya, negara dengan populasi hampir 300 juta jiwa justru jadi penonton negara yang populasinya hanya 529 ribu jiwa. (*)
Editor : Adriyanto Syafril