Kasus bullying pada anak, bak bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak. Pelaku nekat meledakkan bom! Saking lama menahan sakit hati, pelaku mencari cara untuk balas dendam. Diam-diam merakit bom dan diledakkan di sekolah dengan target teman yang membully.
Masih ingat siswa insiden ledakan bom rakitan di SMAN 72 Jakarta Utara pada November 2025? Pelaku meledakkan bom rakitan berdaya ledak rendah yang mengakibatkan 9 orang luka-luka. Motifnya dipicu oleh isolasi sosial, perundungan, dan paparan konten ekstrem.
Nah, diduga terinspirasi dari kejadian itu, seorang siswa MAN 3 Padang juga melakukan hal serupa. Siswa berinisial R ,17, duduk di kelas XII. Pelaku nekat merakit dan meledakkan bom karena menyimpan dendam akibat menjadi korban perundungan (bullying) dalam waktu yang lama. Bahkan sejak duduk di bangku SD ia dibully teman-temannya. Pelaku diketahui merakit sendiri bom tersebut menggunakan bahan-bahan yang dibeli secara daring. Lalu meledakkan di kelas saat jam istirahat berlangsung. Untung saja tidak ada korban. Polisi bertindak cepat mengamankan lokasi dan barang bukti, sembari mendalami kasusnya.
Wajar jika pelaku punya niat untuk balas dendam. Walau dengan cara yang bombastis. Mungkin membalas dengan tenaga sendiri secara langsung tidak berhasil atau tidak mampu. Apalagi, pihak sekolah tidak mengetahui apa yang dialami siswanya. Siswa seolah bebas saja berbuat semaunya kepada temannya. Korban menanggung sendiri masalah dan penderitaannya. Pelaku bebas merdeka dan merajalela melakukan perundungan kepada korban. Teman-teman mereka yang lain juga tidak mengambil tindakan. Cuek dan membiarkan saja.
Beranjak dari kejadian ini, perundungan tidak bisa dianggap sepele. Langkah pencegahan harus dilakukan sebelum meledak. Sebenarnya kejadian seperti ini di zaman dulu juga kerap terjadi. Tapi bisa diselesaikan karena ada saling kepedulian. Anak-anak nakal ada sepanjang masa. Tergantung parentingnya. Kalau ditangani dengan benar, maka anak bisa diarahkan ke jalan yang benar.
Di era teknologi, pengaruh gadget memang rentan mengontaminasi otak anak. Terkadang keseringan nonton game online, anak jadi tergoda coba-coba mempraktikkan di alam nyata. Maka teman yang dinilai lemah dan introvert menjadi sasarannya.
Anak yang punya pribadi pendiam dan tertutup cenderung mendiamkan masalah dan kejadian yang dialaminya. Kadang juga merasa takut karena diancam pelaku. Mungkin juga tak mau lapor guru atau orangtua karena khawatir tidak ditanggapi atau dimarahi. Ia pun menggunakan teknologi untuk membalas.
Di sekolah ada guru Bimbingan Konseling (BP). Harusnya guru BP bisa mencium dan melihat gelagat yang tidak wajar pada siswa. Kalau ada yang ganjal mesti ada perlakuan khusus. Ditangani secara intensif. Apalagi di sekolah agama, pendidikan agama harusnya bisa menjadikan anak berperilaku lebih baik. Bukannya menebar teror yang menakutkan. (*)
Editor : Adriyanto Syafril