Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Hujan Turun, Warga Lega tapi Waspada Ancaman Galodo

Rian Afdol • Selasa, 29 Juli 2025 | 12:00 WIB

KERING: Gunung Marapi dilihat dari aliran Batang Malana yang menjadi salah satu aliran galodo pada tahun lalu di Nagari Limakaum, Tanahdatar, Minggu (27/7).(RIAN/PADEK)
KERING: Gunung Marapi dilihat dari aliran Batang Malana yang menjadi salah satu aliran galodo pada tahun lalu di Nagari Limakaum, Tanahdatar, Minggu (27/7).(RIAN/PADEK)

PADEK.JAWAPOS.COM-Setelah hampir tiga bulan dilanda kemarau panjang tanpa hujan, masyarakat Kabupaten Tanahdatar akhirnya bisa bernapas lega.

Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah di daerah yang sangat mengandalkan sektor pertanian ini mulai diguyur hujan. Turunnya hujan membawa harapan baru bagi para petani dan warga yang terdampak kekeringan.

Salah seorang warga Nagari Limakaum, Kecamatan Limakaum, Gani Ramadhan, menyampaikan rasa syukurnya atas turunnya hujan yang selama ini sangat dinantikan.

Menurutnya, kemarau yang berkepanjangan telah memberikan dampak besar terhadap kehidupan petani, khususnya mereka yang bergantung pada sistem pertanian sawah tadah hujan.

“Tentu kita bersyukur dengan turunnya hujan, soalnya sudah sekitar tiga bulan tidak ada hujan di sini. Kemarau dampaknya tentu banyak dan panjang, terutama terkait dengan bidang pertanian. Sebagian besar masyarakat di sini merupakan petani sawah tadah hujan,” ujar Gani, Senin (28/7).

Ia menambahkan, kelangkaan air telah menyebabkan banyak petani kesulitan dalam mengolah lahan, yang berdampak langsung pada menurunnya produksi pertanian dan pendapatan petani. Dampak lanjutan dari kondisi ini adalah kenaikan harga sejumlah komoditas di pasaran.

“Semua masyarakat tentu terdampak, apalagi dengan naiknya harga hasil pertanian. Kami berharap, dengan turunnya hujan, berbagai masalah yang dihadapi petani bisa sedikit berkurang. Dalam jangka panjang, ini juga bisa membantu menekan inflasi harga di pasaran,” lanjutnya.

Selain membawa harapan, hujan juga menimbulkan kecemasan di kalangan warga terkait potensi bencana alam seperti banjir bandang atau galodo.

Kecamatan Limakaum merupakan salah satu wilayah yang terdampak galodo pada Mei tahun lalu, dan hingga kini proses pemulihan belum sepenuhnya tuntas.

“Belum lagi kalau bicara soal kebakaran hutan. Dengan adanya hujan, semoga kasus dan luasan kebakaran hutan bisa ditekan. Tapi kita juga waspada, karena hujan deras bisa memicu galodo. Saya rasa aliran Batang Malana perlu segera diperbaiki. Sekarang kondisinya sangat dangkal, dan tebingnya juga rawan terkikis. Perlu diperdalam dan diperkuat untuk mitigasi bencana,” jelas Gani.

Hal senada diungkapkan Haikal, warga lainnya di Nagari Limakaum. Ia mengaku bersyukur hujan mulai turun, namun tak bisa menampik rasa cemas yang muncul bersamaan.

“Marapi masih terus erupsi. Artinya material vulkanik terus bertambah di lereng. Kalau hujan deras turun, tentu ada potensi material itu terbawa dan memicu galodo. Di satu sisi kita senang saat hujan turun, di sisi lain kita juga was-was,” ujarnya.

Haikal juga menyoroti bahwa penanganan pascabencana galodo tahun lalu masih menyisakan banyak pekerjaan rumah. Mulai dari normalisasi aliran sungai, pemulihan lahan pertanian, hingga perbaikan infrastruktur seperti jalan dan jembatan, menurutnya belum sepenuhnya selesai.

“Yang paling mendesak tentu soal aliran air. Saat ini aliran sungai yang kemarin dilalui galodo sangat dangkal. Andaikata terjadi bencana serupa, dampaknya bisa lebih besar karena jalur aliran air tidak lagi optimal. Pembangunan dam dan penguatan struktur tebing sungai harus jadi prioritas,” tutupnya. (rna)

Editor : Novitri Selvia
#Ancaman Galodo #Nagari Limakaum #kemarau panjang