PADEK.JAWAPOS.COM-Aktivitas Gunung Marapi terus berlangsung secara fluktuatif, Saat ini gunung api yang terletak di Kabupaten Tanahdatar dan Kabupaten Agam ini masih berstatus waspada atau level II.
Dua pekan terakhir, atau dalam periode 16 hingga 31 Juli sejumlah aktivitas Gunung Marapi masih terpantau baik secara visual ataupun secara instrumental.
“Secara visual, teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal dan ketinggian sekitar 50 hingga 1.200 meter diatas puncak. Teramati juga aktivitas erupsi/letusan dengan tinggi kolom 400-1600 meter di atas puncak dan kolom erupsi berwarna kelabu,” ujar Muhammad Wafid A.N, Kepala Badan Geologi, Kementrian ESDM melalui keterangan tertulisnya pada Selasa, (5/8).
Kemudian secara instrumental, tercatat dalam dua Minggu terakhir ada 7 kali gempa letusan dan 27 kali gempa hembusan.
59 kali Tremor Non-Harmonik, 1 kali Gempa Low Frequency, 4 kali Gempa Hybrid atau Fase Banyak, 3 kali Gempa Vulkanik Dangkal, 6 kali Gempa Vulkanik Dalam, 32 kali Gempa Tektonik Lokal, dan 59 kali Gempa Tektonik Jauh.
Tremor Menerus terekam dengan amplitudo 0,5-3 mm (dominan 2 mm). “Dalam dua Minggu terakhir, tiltmeter Stasiun Batupalano memperlihatkan grafik yang cenderung naik (inflasi) baik pada sumbu tangensial maupun radial,” sebutnya.
Ia menambahkan, data-data tersebut maka bisa disimpulkan akitivitas Gunung Marapi masih cendrung fluktuatif.
Kemudian potensi terjadinya letusan atau erupsi masih tetap ada dan terjadi sewaktu-waktu sebagai bentuk pelepasan dari akumulasi tekanan yang dihasilkan oleh dinamika pasokan magma dari kedalaman.
“Jika pasokan magma tidak mengalami peningkatan yang statis dan besar maka letusan yang akan terjadi diperkirakan masih memiliki potensi bahaya lontaran material dalam wilayah radius tiga kilometer dari kawah Verbeek,” imbuhnya.
Kemudian saat terjadi erupsi, abunya berpotensi menggangu saluran pernafasan dan penerbangan dan penyebarannya tergantung arah angin.
“Material erupsi bersama dengan bahan rombakan dapat berpotensi menjadi lahar atau banjir lahar saat bercampur dengan air hujan,” sambungnya.
Selain itu di kawasan puncak menurutnya masih terdapat potensi bahaya dari gas-gas vulkanik beracun seperti gas CO2, CO, SO2, dan H2S.
Dengan kondisi ini dan juga berdasarkan analisis dan evaluasi menyeluruh hingga 1 Agustus, maka tingkat aktivitas gunung Marapi berada di level II atau Waspada.
Merespon ini masyarakat direkomendasikan untuk tidak memasuki wilayah dengan radius tiga kilometer dari kawah Verbeek. Kemudian masyarakat yang bermukim di sekitar aliran air yang berhulu di Gunung Marapi untuk mewaspadai potensi lahar dingin.
Kemudian saat terjadi hujan abu, masyarakat diimbau untuk mengunakan masker penutup hidung dan mulut untuk menghindari gangguan saluran pernafasan atau ISPA.
Kemudian masyarakat diminta untuk tidak mudah percaya dan meneruskan informasi yang belum terverifikasi terkait Marapi, Masyarakat diminta untuk selalu mengikuti arahan dari Pemerintah Daerah.
Pemerintah Daerah Kabupaten Tanahdatar dan Agam serta Pemerintah Kota Bukittingi dan Padang Panjang diminta untuk senantiasa berkoordinasi dengan PVMBG untuk mendapatkan informasi langsung tentang aktivitas gunung Marapi,” imbuhnya. (RIAN AFDOL,PADEK)
Editor : Novitri Selvia