PADEK.JAWAPOS.COM-Populasi ikan bilih, satu-satunya spesies endemik Danau Singkarak, terus merosot akibat penangkapan berlebih, pencemaran, serta hilangnya vegetasi alami seperti pohon dalu-dalu yang menjadi habitatnya.
Melihat situasi genting ini, tim dosen Departemen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Unand menggelar program pengabdian masyarakat di Nagari Sumpur pada 29 Oktober 2025 untuk mendorong keterlibatan warga dalam konservasi.
Danau Singkarak selama ini menjadi jantung ekonomi dan ekologi masyarakat Tanahdatar dan Solok, sekaligus sumber air irigasi dan PLTA.
Namun tekanan terhadap lingkungan kian meningkat: limbah rumah tangga dan pertanian mengalir tanpa kontrol, lahan penyangga berubah fungsi, sementara koordinasi antar kelompok lokal masih lemah.
Program ini dirancang untuk menyatukan langkah masyarakat, pemerintah nagari, dan akademisi. Rangkaian kegiatan dibuka dengan Focus Group Discussion (FGD) di Kantor Wali Nagari Sumpur.
Kelompok nelayan, kelompok tani, Pokdarwis, tokoh adat, dan warga dari Jorong Sudut serta Batu Baraguang mengidentifikasi tiga masalah utama: anjloknya populasi bilih, rusaknya habitat akibat penebangan dan alih fungsi lahan, serta pencemaran danau dari berbagai aktivitas domestik dan pertanian.
Dari forum ini lahir langkah-langkah konkret: reboisasi pohon dalu-dalu, pembentukan tim konservasi komunitas, dan penyusunan rencana aksi berbasis partisipasi warga.
“Masyarakat harus menjadi subjek konservasi. Solusi yang mereka rumuskan sendiri lebih berdaya tahan,” ujar salah satu dosen.
Kepala Jorong Sudut yang mewakili Wali Nagari menegaskan dukungan nagari untuk menjalankan tindak lanjut hasil FGD. Program kemudian bergerak ke SDN 4 Sumpur, menyasar generasi muda.
Siswa kelas 4–6 diperkenalkan pada cara sederhana menjaga danau melalui media visual. Kehadiran Prof Tsuge Takahiro dari Sophia University, Jepang, memberi warna tersendiri. Ia berbagi praktik pendidikan lingkungan di Jepang dan menegaskan pesan penting:
“Jika kalian menjaga danau ini, kalian menjaga masa depan kalian sendiri.” Kepala sekolah Dian Puspa Sari Ningsih menyebut kegiatan ini membuka kesadaran baru bagi para siswa.
Sebagai tindak lanjut lapangan, dilakukan penanaman pohon dalu-dalu di Jorong Sudut dan Batu Baraguang. Pohon ini penting secara ekologis karena menahan erosi dan menjadi tempat bertelur bilih, sekaligus bernilai ekonomis bagi warga.
“Kami tidak hanya menanam pohon, tapi juga menanam harapan,” ujar Ade Felzayudi, Kepala Jorong Sudut.
Kepala Jorong Batu Baraguang, Dedy Haryanto, menambahkan, “Jika bilih hilang, ekonomi kami runtuh. Menjaga danau berarti menjaga penghidupan.”
Sinergi antara tim Unand, pemerintah nagari, dan masyarakat mulai membuahkan hasil. Kesadaran warga meningkat, regulasi lokal terkait konservasi bilih tengah dirumuskan, dan upaya pemulihan habitat dalu-dalu di sempadan danau mulai berjalan.
Mahasiswa Fakultas Pertanian Unand turut berperan sebagai fasilitator lapangan, memperkuat jembatan antara ilmu dan praktik nyata.
Program ini menunjukkan bahwa konservasi lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan ekonomi jika masyarakat diberi ruang menjadi aktor utama.
Seorang nelayan dalam FGD merangkum esensi gerakan ini: “Kalau kami hidup dari ikan bilih, kami juga harus menjaga tempat hidupnya. Danau ini adalah kehidupan kami.”
Nagari Sumpur menjadi bukti bahwa kolaborasi ilmu pengetahuan, semangat komunitas, dan kearifan lokal mampu menggerakkan konservasi yang nyata dan berkelanjutan. (r)
Editor : Novitri Selvia