PADEK.JAWAPOS.COM— Rumah Gadang Ikatan Keluarga Tanah Datar (IKTD) Kota Tanjung Pinang disiapkan bukan sekadar sebagai rumah adat bagi perantau, tetapi menjadi pusat pembinaan generasi muda dan pelestarian adat Minangkabau di perantauan.
Rencana tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan Rumah Gadang IKTD Kota Tanjung Pinang yang dihadiri Bupati Tanahdatar Eka Putra, Minggu (6/9).
Eka Putra menilai pembangunan rumah adat tersebut menjadi momentum bersejarah bagi masyarakat Luhak Nan Tuo yang bermukim di Tanjung Pinang.
Menurutnya, keberadaan rumah gadang harus diikuti dengan berbagai kegiatan kebudayaan agar bangunan tersebut benar-benar hidup dan memberi manfaat bagi generasi penerus.
“Pembangunan rumah gadang ini bukan hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi juga harus dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan positif. Misalnya, pelatihan sumbang 12 bagi anak-anak perempuan, latihan silek, mengkaji adat dan berbagai kegiatan lainnya,” ujar Eka Putra.
Rumah Gadang Jadi Ruang Pembinaan Generasi Muda
Eka Putra mendorong agar ruang-ruang yang tersedia nantinya dimaksimalkan untuk pembinaan generasi muda perantau.
Pendidikan karakter, pengenalan adat dan adab Minangkabau hingga seni bela diri tradisional dapat menjadi bagian dari aktivitas di rumah gadang tersebut.
Pemerintah Kabupaten menyatakan dukungannya terhadap inisiatif tersebut. Pemkab juga siap memberikan fasilitasi teknis, termasuk mendatangkan tenaga pengajar dari Tanahdatar apabila dibutuhkan pengurus IKTD.
Menurut Eka Putra, upaya tersebut penting agar generasi yang lahir dan tumbuh di perantauan tetap mengenal akar budaya Minangkabau.
“Ini bentuk cinta dan kepedulian perantau terhadap ranah Minang, terutama kita di Luhak Nan Tuo. Ini juga merupakan aksi nyata IKTD Kota Tanjung Pinang di bawah kepengurusan yang baru dalam menjaga dan melestarikan adat dan budaya kita sebagai orang Minangkabau,” katanya.
Tak Hanya untuk Kegiatan Budaya
Selain menjadi ruang pembinaan budaya, Rumah Gadang IKTD juga diarahkan sebagai tempat memperkuat hubungan antarsesama perantau Tanahdatar di Tanjung Pinang.
Eka Putra berharap rumah gadang dapat menjadi ruang silaturahmi sekaligus tempat menyelesaikan persoalan yang muncul di tengah masyarakat perantauan.
“Kalau ada perselisihan dan persoalan lainnya, mari kita selesaikan di rumah gadang ini. Jangan sampai pembangunan rumah gadang justru membuat perantau bercerai-berai. Sebaliknya, rumah gadang harus menjadi tempat yang membuat kita semakin kompak,” ujarnya.
Ketua IKTD Kota Tanjung Pinang, Elfi Edison, mengatakan gagasan pembangunan rumah gadang sebenarnya telah muncul sejak lama. Namun, keterbatasan lahan menjadi salah satu kendala sehingga pembangunan fisik baru dapat direalisasikan tahun ini.
Menurut Elfi, kebutuhan terhadap rumah adat semakin penting untuk menjaga kesinambungan budaya antara generasi muda perantau dengan nilai-nilai Minangkabau.
“Tidak semua keluarga perantau bisa pulang untuk melihat kampung halaman, sehingga menimbulkan rasa rindu yang sangat mendalam. Dari situlah kami berpikir bagaimana generasi muda kami nantinya tidak kehilangan jati diri sebagai orang Minang yang memiliki adat dan adab,” ungkapnya.
Elfi menambahkan, peletakan batu pertama tersebut merupakan hasil kolaborasi dan dukungan swadaya masyarakat Tanahdatar yang menetap di Tanjung Pinang bersama para pemangku kepentingan.
“Alhamdulillah, pembangunan rumah gadang ini mendapat dukungan dari semua pihak dan hari ini impian tersebut mulai kita wujudkan,” katanya.
Peletakan batu pertama turut dihadiri Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemko Tanjung Pinang Elfiani Sandri yang mewakili Wali Kota, Dewan Penasehat DPP IKTD Marsma TNI Novla Mirsyah, Ketua Umum DPP IKTD H. Yuherman, serta sejumlah undangan lainnya.(*)
Editor : Hendra Efison