PADEK.JAWAPOS.COM— Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Tanahdatar melonjak menjadi 1.802 kasus di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Angka tersebut meningkat dari rata-rata 1.174 kasus dalam kondisi normal. Artinya, terdapat tambahan 628 kasus atau kenaikan sekitar 53,5 persen.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Tanahdatar, Ns. Roza Mardiah, S.Kep, M.Kep, mengatakan pihaknya telah memantau perkembangan penyakit setiap hari selama sepekan terakhir.
“Berdasarkan rapat koordinasi terkait dampak kabut asap atau Karhutla ini memang, tugas dari Dinas Kesehatan memantau terkait dengan perkembangan kasus penyakit,” ujar Roza kepada Padang Ekspres, Senin (14/9/2026) siang.
Menurut Roza, kenaikan kasus ISPA mulai terlihat setelah pemantauan dilakukan secara berkelanjutan.
Sebelumnya, pada minggu sebelum pemantauan terakhir, belum terlihat kenaikan yang signifikan.
“Saat ini sudah seminggu kita pantau setiap hari terkait perkembangan penyakit terutama ISPA, salah satu penyakit dampak dari kabut asap. Jadi memang sudah ada kenaikan kasus saat ini,” katanya.
Data tersebut merupakan akumulasi dari seluruh puskesmas di Kabupaten Tanahdatar.
Kasus tertinggi tercatat di wilayah Puskesmas Batipuh 1, Puskesmas X Koto 1, serta Puskesmas X Koto 2.
Dinkes Tanahdatar kemudian berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk melaporkan peningkatan kasus tersebut.
Dinkes juga berharap tim penanggulangan bencana dapat memberikan rekomendasi langkah lanjutan, termasuk kemungkinan peliburan anak sekolah.
“Harapannya dari tim mungkin nanti akan merekomendasikan melalui BPBD untuk langkah selanjutnya, apakah anak-anak akan diliburkan, dan juga nanti berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, supaya tidak terjadi lagi peningkatan kasus terutama kasus ISPA,” ujar Roza.
Dinkes juga mengingatkan kelompok rentan, seperti ibu hamil, bayi, balita, lansia, serta warga dengan penyakit kronis yang menyerang saluran pernapasan.
Anak-anak usia sekolah turut menjadi perhatian karena aktivitas di luar ruangan berpotensi meningkatkan paparan kabut asap.
“Untuk anak sekolah juga menjadi salah satu perhatian kami, jangan-jangan nanti dengan dampak ini akan juga terjadi peningkatan di kasus anak-anak sekolah,” pungkasnya.(*)
Editor : Hendra Efison