Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Eksistensi Batik Minang Dari Masa Ke Masa: Kurang Inovasi, SDM Terbatas

Novitri Selvia • Jumat, 7 Oktober 2022 | 10:53 WIB
Konsistensi: Ermiwati pemilik brand Emi Arlin menunjukan kain batik khas Minang dengan motif kanjang padati hasil karyanya. (Suyudi/Padek)
Konsistensi: Ermiwati pemilik brand Emi Arlin menunjukan kain batik khas Minang dengan motif kanjang padati hasil karyanya. (Suyudi/Padek)
Batik tak hanya identik dengan Jawa. Sumbar juga punya batik yang etnik dan eksotik. Sebut saja batik tanah liek, batik sampan, batik lumpo dan lainnya. Batik ranah minang tak kalah cantik dengan batik jawa. Hanya saja batik minang masih kalah bersaing dengan batik jawa. Baik soal harga maupun motif.

Selain punya beragam motif, biaya produksi batik di Jawa lebih murah dibandingkan di Sumbar. Upah perajin lebih murah sehingga harga produk juga bisa lebih murah. Sementara di Minang, upah perajin batik cenderung lebih mahal. Alhasil, batik minang belum bisa menandingi kepopuleran batik Jawa.

“Di Jawa dengan Rp 150 ribu kita sudah bisa mendapatkan batik dengan kualitas bagus, sedangkan di Sumbar masih yang biasa saja. Bukan karena batik jawa lebih baik, tapi karena biaya produksinya lebih murah,” ujar Founder Batik Lumpo, Novia Hertini kepada Padang Ekspres, kemarin.

Menurutnya, upah perajin di Sumbar relatif tinggi. Sehingga harga batik pun jadi lebih tinggi. “Karena upah perajin yang tinggi, kita pun menjualnya dengan harga dua kali lipat. Kemudian kita juga mendatangkan bahan baku dari Pulau Jawa, jadi mau tidak mau harga jual kita juga tinggi,” jelasnya.

Selain itu, batik minang masih kalah dengan batik jawa karena sumber daya manusianya sendiri masih terbatas. Standardisasi batik minang juga masih belum bisa menandingi batik jawa.

Hanya saja menurut Novia, sebenarnya sebuah karya seni seperti batik, tidak bisa dibanderol dengan harga. Misalnya batik tulis limited edition buatannya dijual di atas harga Rp 1,5 juta.

Menurutnya, kendala terbesar berkembangnya batik minang disebabkan dari market-nya sendiri. Bagaimanapun perajin ataupun pengusaha sudah berinovasi, apabila market-nya belum paham akan keberadaan batik minang, maka batik minang akan lama berkembang.

Novia menuturkan, saat ini perajin batik minang juga terkendala kurangnya inovasi untuk hal yang baru, menciptakan motif baru dan sebagainya. Oleh sebab itu, agar bisa lebih maju dan tidak kalah bersaing dengan batik jawa, para perajin harus memperbanyak inovasinya.

“Jadi kita itu memang harus berinovasi, melihat teknologi, mengikuti perkembangan digitalisasi. Bagaimana membuat desain batik itu dengan digital. Bagaimana pewarna lebbih dikolaborasikan, baik pewarna alami maupun sintesis, kita harus mengikuti tren pasar,” ungkapnya.

Selain itu, warna dan motif batik minang yang terlalu monoton juga menjadi salah satu faktor menyebabkan batik minang kalah bersaing dengan batik jawa. “Kebanyakan kita lihat warna batik kita monoton, ngejreng. Untuk hal ini pun kita butuh inovasi, melihat ke luar, bercermin ke yang lebih bagus,” katanya.

Tidak hanya dari segi inovasi yang kurang, namun juga perlu meningkatkan sumber daya manusia (SDM) perajin batik yang saat ini menurut Novia masih di bawah standar. Jika dibandingkan dengan Jawa, SDM-nya terus berkembang dan berinovasi.

“Nah, kita untuk berinovasi itu sangatlah kurang. Karena itu, kita harus mau berkembang, belajar lebih banyak, berkolaborasi dengan orang marketing. Marketing harus berkolaborasi dengan dunia digitalisasi,” tuturnya.

Novia mengakui, motif atau corak pada batik minang saat ini tidaklah sedikit. Namun, kebanyakan orang menganggap batik minang hanyalah batik yang ada motif rumah gadang saja. Padahal sebenarnya, motif batik minang sangatlah banyak seperti kuciang balari dan masih banyak lainnya yang memiliki historis di dalam motif tersebut.

Maka untuk lebih mengembangkan pasar, perajin harus berinovasi dengan membuat batik untuk berbagai kalangan. Misalnya batik tulis untuk menengah ke atas dengan harga yang lumayan.

Selain itu juga membangun industri tekstil untuk menghasilkan pakaian ready to wear agar bisa dipakai semua kalangan. Untuk itu, Novia berharap agar pemda bisa menyerap produk lokal lebih lagi dari sekarang. Masyarakatnya juga turut andil untuk menggunakan batik lokal.

“Kami sudah berinovasi, motif yang ditawarkanpun sudah beragam mengikuti tren yang ada. Semoga batik daerah bisa selalu menjadi pilihan utama,” harapnya. Perajin batik lainnya sekaligus desainer Batik Eldije, Haslinda Jufri juga mengakui keberadaan batik minang masih kalah jauh dengan batik jawa. Ia menyebut semua produksi batiknya dilakukan di Jawa.

Alasannya karena biaya produksi yang lebih murah dibandingkan produksi batik di Padang. Dengan begitu, ia bisa menjual batik dengan harga yang tak jauh beda dengan harga pasar di Jawa, namun dengan bentuk batik yang berbeda.

Saat ini, Batik Eldije memproduksi batik cap berbentuk kain maupun seragam. Untuk pemasarannya sendiri melalui online dengan pasar kebanyakan dari beberapa organisasi lokal.

Menurutnya, kendala utama pemasaran batik masih pada biaya yang besar, selain itu market lokal juga masih sangat kurang. “Bahkan saat pandemi, kami sempat berhenti produksi karena memang belum ada pasar lagi dan beralih ke pembuatan APD. Akhir tahun lalu, baru kami mulai produksi batik kembali,” akunya.

Batik Eldije tak hanya memproduksi satu motif saja, semua motif khas Minang diaplikasikannya ke kain batik sebagai bentuk inovasi agar lebih dilirik pembeli. Misalnya motif rumah gadang yang sudah terkenal, motif bengkuang sebagai ikon Kota Padang, motif itiak pulang patang hingga motif Masjid Raya pun dibuatnya.

Ia berharap agar pemerintah lebih melirik perajin batik baru seperti dirinya dengan mengenalkan brand batiknya kepada masyarakat, sekaligus memberikan fasilitas pemasaran yang lebih lagi dari sebelumnya.

“Kebetulan, brand kami sudah dipatenkan oleh Dinas Koperasi dan UKM Padang beberapa waktu lalu. Dengan harapan agar bisa lebih dikenal dan mampu mengembangkan batik Minang dengan jangkauan lebih luas lagi,” harapnya.

Optimistis Batik Minang Berkembang

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sumbar Harneli Bahar mengakui kepopuleran batik minang masih di bawah batik Jawa. Namun, bukan berarti tidak bisa berkembang nantinya.

“Saat ini pembatik di Sumbar termasuk di Padang masih ada orang Jawa, meskipun orang Minang ada yang sudah belajar, jadi wajar saja,” ucap istri Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah yang sering disapa Umi itu.

Menurutnya, sulam, bordir, rajut dan anyaman masih lebih populer di Sumbar dibandingkan batik. Namun bukan berarti batik minang tak populer. “Batik tanah liek yang pengolahannya dari tanah adalah salah satu batik yang populer. Bahkan di setiap kabupaten/kota, sudah ada perajinnya,” lanjut Umi.

Dekranasda saat ini sudah sangat berupaya untuk mengembangkan batik minang, mulai dari selalu mengikutsertakan di pameran-pameran, pertemuan bisnis hingga mengimbau pekerja di dinas-dinas dan sekolah-sekolah menggunakan seragam dari batik lokal.

“Agar motif ukiran rumah gadang tak hilang, saat ini dituangkan pula ke batik dan songket. Bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumbar, sudah melakukan pelatihan-pelatihan pada perajin, selain mempertahankan motif-motif lama seperti pucuk rebung,” katanya.

Dinas Koperasi dan UKM Kota Padang pun juga sudah melakukan berbagai cara untuk mengembangkan batik minang ini. Salah satunya dengan melibatkan perajin batik minang di berbagai kegiatan resmi, seperti pameran dan kegiatan lainnya.

“Pemerintah daerah termasuk wali kota sering sekali mengenakan batik lokal di acara-acara resmi seperti batik kajang padati. Ini merupakan salah satu upaya memperkenalkan batik minang ke nasional bahkan internasional,” tutur Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Padang, Ferry Erviyan Rinaldy.

Menurutnya, batik minang sangat berkualitas tinggi, tak kalah dengan batik jawa. Namun memang belum sepopuler batik jawa. Menurut data yang ada di Dinas Koperasi dan UKM Kota Padang hingga tahun 2022 ini, tercatat 10 pelaku usaha sekaligus perajin batik minang.

Di antaranya, usaha Batik Putri, Ayesa Collection, Tempurung Barendo, CV Novia/Batik Loempo, Batik Nora, Batik Ermi Arlin, Batik Eldije, Batik Tanah Liek Hj Wirna Hanim, Batik Tanah Liek Pusako Mande, serta Batik Tanah Liek Yanti.

Dinas Koperasi dan UKM Kota Padang bersama DPRD terus berusaha untuk selalu mendukung perkembangan batik minang ini. Salah satu yang sudah dilakukan adalah pemberian bantuan melalui pokok-pokok pikiran DPRD (pokir) di tahun 2021 lalu pada 304 pelaku usaha di Kota Padang termasuk di dalamnya perajin batik.

“Hanya saja bantuan itu bukan berupa materi tapi berupa fasilitas yang diperlukan perajin, misalnya etalase untuk menaruh barang-barang mereka dan sebagainya,” kata Ferry.

Pemerintah Provinsi juga berperan penting dalam mendorong perajin batik di Sumbar saat ini. Melalui Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sumbar, pemerintah melakukan berbagai upaya seperti mengadakan pelatihan maupun program-program.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sumbar, Nazwir menjelaskan, pihaknya selalu berupaya mengadakan sebuah program dan juga pelatihan untuk perajin batik, terutama UMKM yang bergerak di sektor batik.

“Kita menggalakkan batik-batik daerah, sehingga batik tersebut dapat berkembang sesuai dengan ciri khas daerah masing-masing, bisa berupa pelatihan untuk perajin. Kemudian bisa juga bisa berupa pengembangan motif,” terangnya.

Pihaknya juga mendorong pemerintah kabupaten/kota bergerak di bagian sarana dan promosi. Lalu mengupayakan daerah memakai produk-produk batik daerah sediri.

“Nah kalau program permodalan, tentu ada, banyak fasilitas yang kita sediakan untuk membantu para perajin dan UMKM. Seperti KUR dan membentuk kerja sama dengan Bank Nagari untuk program Simamak, kita sudah mengajak kabupaten/kota untuk mengembangkan itu,” lanjutnya.

“Kita di Sumbar, untuk batik itu sendiri setiap daerah kabupaten/kota sudah memiliki batik khas sendiri, jadi setiap daerah itu ada perajin batiknya,” tutupnya.

Kepala Bidang Pembinaan UMKM Dinas Koperasi dan UKM Sumbar, Hilma menambahkan dalam mendorong perajin batik, pihaknya telah menyiapkan program pembinaan berupa bimbingan teknis bagaimana mengembangkan desain dan cara membatik yang lebih baik, seperti yang dilakukan oleh perajin batik di Pulau Jawa.

Kemudian memberikan berbagai informasi tentang batik yang lagi tren di Pulau Jawa dan mengajak perajin batik untuk berinovasi. Sementara untuk bantuan permodalan secara langsung kita memang belum ada,” ucapnya.

Akan tetapi, pihaknya telah melakukan sosialisasi akses pembiayaan bagi perajin batik, baik dari perbankan atau lembaga nonbank. Menurutnya, perkembangan batik Minang terkendala pada permasalahan SDM yang masih kurang, baik itu desainer maupun tenaga kerjanya.

“Hingga saat ini kita sudah mencatat 30 orang perajin batik yang tersebar di beberapa daerah kabupaten/kota yang tersebar di Sumbar. Kita tentunya berharap ke depan para perajin batik minang dapat lebih bisa bersaing dengan para perajin di luar Sumbar,” sambungnya.

Dia juga berharap perajin agar dapat mengeksplorasi berbagai corak yang mencirikan khas Minangkabau dengan harga yang juga bersaing dengan hasil produksi dari Jawa. (cr7/cr4) Editor : Novitri Selvia
#Batik Minang #Dinas Koperasi dan UKM Sumbar #Dinas Koperasi dan UKM Padang #Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumbar #Hilma #Batik Eldije