Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

1.172 KJA Maninjau Terdampak, Kerugian Rp 8,4 M

Novitri Selvia • Senin, 21 November 2022 | 11:07 WIB
ADU PIKIRAN: Cawapres nomor urut 1 Muhaimin Iskandar (tengah), cawapres nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka (kanan), dan cawapres nomor urut 3 Mahfud MD (kiri) saat mengikuti debat cawarpres di Jakarta Convention Center, Jakarta, Minggu (21/1). (SALMAN TO
ADU PIKIRAN: Cawapres nomor urut 1 Muhaimin Iskandar (tengah), cawapres nomor urut 2 Gibran Rakabuming Raka (kanan), dan cawapres nomor urut 3 Mahfud MD (kiri) saat mengikuti debat cawarpres di Jakarta Convention Center, Jakarta, Minggu (21/1). (SALMAN TO
Gelombang kematian ikan secara massal yang dialami pembudidaya ikan keramba jaring apung (KJA) di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, semakin parah. Semula kematian ikan hanya dialami pembudidaya di Nagari Sungaibatang dan Tanjungsani, kini telah meluas ke Nagari Kotomalintang.

Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Agam Rosva Deswira menyebut, kematian ikan meluas dengan jumlah yang sangat banyak. Data terbaru terjadi penambahan kematian ikan sebanyak 357 ton.

“Total sementara ini, jumlah ikan yang mati tercatat sudah 402 ton. Bangkai ikan itu menyebar pada 1.172 petak keramba milik dari 242 pembudidaya dari tiga nagari,” kata Rosva, Minggu (20/11).

Tanda kematian ikan itu lanjutnya, diketahui sejak Rabu (16/11) malam. Wilayah pertama terdampak di Jorong Tanjungsani Kenagarian Sungaibatang. Sebanyak 45 ton ikan ditemukan mati pada 124 keramba milik dari 27 pembudidaya.

Tingkat kematian ikan terparah kata dia, ditemukan di Nagari Tanjungsani mencapai 242 ton. Ratusan ton ikan ini tersebar pada 770 petak KJA milik dari 179 pembudidayaan yang ada di Jorong Sungaitampang, Sigiran, Pantas, Mukojalan, Batunanggai, Galapuang dan Jorong Pandan.

Gelombang kematian ikan itu terus meluas ke Nagari Kotomalintang. Sebanyak 16 pemilik keramba di Jorong Muko-muko terdampak musibah itu dengan jumlah ikan yang mati mencapai 115 ton tersebar pada 278 petak KJA.

“Jumlah ini berpotensi bertambah mengingat belum stabilnya cuaca buruk. Akan tetapi bisa juga ditekan, apabila pembudidaya mengambil langkah cepat untuk menghindari risiko kerugian lebih besar,” papar Rosva.

Sebagaimana imbauan pihaknya imbuh Rosva lagi, pembudidaya disarankan untuk memanen ikan lebih cepat atau segera memindahkan ke kolam penampungan. Ini dinilai merupakan langkah taktis penyelamatan ikan dari lokasi budidaya di saat cuaca buruk.

Ia menambahkan, estimasi kerugian yang dialami pembudidaya dari musibah kematian ikan kali ini menurutnya mencapai Rp 8,442 miliar. Jumlah ini dihitung berdasarkan harga ikan segar tersebut Rp 21 ribu per kilogram saat ini.

Pihaknya aku Rosva, juga sudah mengimbau para pembudidaya untuk tidak membuang bangkai ikan ke badan danau. Melainkan dipungut dan dikubur agar tidak memicu bau busuk dan amis di sekitar danau.

“DPKP Agam sudah memasang plang imbauan itu di masing-masing nagari di salingka danau. Tiap hari kami juga sudah monitoring ke lapangan dan menyampaikan langsung ke warga,” simpulnya.

Ketiban Rezeki

Musibah kematian ikan yang dialami pembudidaya ikan keramba di Danau Maninjau rupanya tak selalu berkutat pada soal kemalangan. Musibah ini menjadi berkah tersendiri bagi nelayan tangkap dan warga untuk berburu ikan yang dalam kondisi sekarat atau diistilahkan masyarakat setempat dengan “maangai”.

Sebagaimana diketahui, semenjak cuaca ekstrem membawa ancaman kematian pada ikan lantaran mempengaruhi penurunan kadar oksigen di danau, membuat ikan liar dan biota khas Danau Maninjau lainnya menepi menyelamatkan diri.

Ekosistem danau seperti ikan nila, patin, bada dan rinuak hijrah ke perairan dangkal untuk mencari oksigen. Di perairan dangkal, ikan-ikan ini mengapung ke permukaan atau maangai untuk menghirup oksigen.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh nelayan dan warga untuk berburu ikan yang sedang dalam kondisi maangai tersebut. Ikan-ikan yang sedang sekarat itu disebut lebih jinak atau lebih mudah ditangkap.

Nelayan dan warga menangkapnya secara manual. Baik menggunakan jaring, tangguk, alat tembak maupun pancing. Tidak hanya oleh mereka yang berasal dari wilayah salingka danau, namun juga banyak warga luar yang datang menangkap ikan ke Maninjau, seperti dari Lubukbasung dan Matur.

“Ikan-ikan ini, kalau tidak ditangkap berpotensi besar juga akan mati. Peluang untuk hidupnya lebih kecil sebab kekurangan oksigen,” kata Ricky, salah seorang warga Lubukbasung yang turut mengincar ikan maangai itu di Sungaitampang, Nagari Tanjungsani, kemarin.

Menurutnya, jarang ikan yang dapat bertahan saat “tubo” belerang di dasar danau telah naik meracuni akibat pembalikan massa air ulah cuaca buruk. Kecuali, kondisi air danau cepat stabil dari kontaminasi zat-zat atau racun tersebut. Tentu katanya, hal ini juga bergantung pada redanya cuaca.

Sepengetahuannya, aku Ricky, ikan berenang ke tepi secara naluriah setelah kesulitan oksigen di perairan dalam. Ikan menepi dan lebih banyak mencari sumber mata air mengalir. Ikan yang tidak beruntung, biasanya paling lama bertahan hidup sekitar 3-4 hari atau sepekan.

“Saat kondisi air normal, ikan seketika akan langsung bertenaga lagi. Namun jika stabilnya air menghabiskan waktu lama, saya yakin ikan-ikan ini tidak akan bisa bertahan. Saat ini sudah banyak ikan-ikan maangai itu telah mati. Jika baru mati, bangkai ikan masih tenggelam, setelah agak lama baru mengapung,” ucapnya.

Indra, salah seorang pemilik keramba di Sungaitampang yang juga tak ketinggalan menangkapi ikan-ikan maangai itu menjelaskan, ikan yang terkena “tubo” belerang akan mengalami pecah pembuluh darah. Dalam kondisi ini, bangkai ikan akan langsung memutih dan cepat membusuk.

“Seperti itulah bangkai-bangkai ikan yang saat ini bertebaran. Kendati begitu, bangkai-bangkai ikan itu akan mengurai dalam beberapa hari ke depan,” katanya.

Di lain sisi, sejumlah nelayan mengaku, tangkapan mereka meningkat drastis semenjak musibah itu. Salah satunya Amin, nelayan asal Maninjau. Ia mengaku, hasil tangkapannya meningkat dari rata-rata di bawah 10 kilogram per hari menjadi 30 kilogram saat ikan maangai ke tepi.

“Semenjak banyak ikan muncul ke permukaan menangkapnya lebih mudah plus tidak memerlukan waktu lama. Sejak tiga hari terakhir untuk memperoleh tangkapan 30 kilogram rata-rata saya menjaring hanya 2-3 jam. Biasanya habis setengah hari, hasilnya paling 8-10 kilogram,” kata dia.

Meski hasil tangkapan ikannya meningkat lanjut Amin, namun dari sisi pendapatannya juga tidak jauh berbeda. Jika sebelumnya ikan yang didapat tak lebih dari 10 kilogram namun harga ikan masih normal di atas Rp 20 ribu per kilogram.

Sementara, saat ini kendati hasil tangkapan meningkat harga jualnya ke pengepul telah menurun menjadi Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu per kilogram tergantung ukuran.

“Walau demikian, semuanya patut disyukuri. Namun, apapun kejadian dan berkahnya dari musibah ini, pandangan saya lebih tertuju ke pembudidaya, kami-kami prihatin dan bersimpati untuk mereka yang terdampak kerugian,” aku Amin.

Kepala DPKP Agam, Rosva Deswira sebelumnya juga telah menjelaskan, manfaat lain dari musibah kematian ikan akan pemicu tingkat kesuburan pertumbuhan ikan lebih cepat pasca-kematiannya.

Dikatakan demikian, karena matinya ikan yang meninggalkan minyak dapat berpotensi sebagai pembawa nikmat. Bangkai-bangkai ikan yang mengurai dapat menjadi pakan alami untuk bibit baru.

“Salah satu manfaat yang timbul setelah bangkai ikan tenggelam, dari minyak yang tersisa akan menstimulus munculnya plankton-plankton sebagai suplai makanan untuk bibit baru. Artinya, tingkat pemakaian pakan akan berkurang dan petani tentu merasa lebih irit. Lebih jauh, berpeluang untung lebih besar untuk panen selanjutnya dengan harapan dapat menutupi kerugian dari musibah kematian ikan yang dialami sebelumnya,” ulas Rosva. (ptr) Editor : Novitri Selvia
#DPKP Agam #ikan mati massal #Kenagarian Sungaibatang #KJA Maninjau #Rosva Deswira #Jorong Tanjungsani