Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Ekonomi Sumbar Dalam Dua Tahun Kepemimpinan Mahyeldi-Audy, Inflasi Melonjak

Novitri Selvia • Selasa, 28 Februari 2023 | 10:38 WIB
ATENSI PERGANTIAN TAHUN: Jelang malam pergantian tahun, Polda Sumbar dan jajaran akan melakukan rekayasa lalu lintas dan penutupan sejumlah jalur di Sumbar. Salah satunya jalan menuju Jam Gadang di Kota Bukittinggi.(SY RIDWAN/PADEK)
ATENSI PERGANTIAN TAHUN: Jelang malam pergantian tahun, Polda Sumbar dan jajaran akan melakukan rekayasa lalu lintas dan penutupan sejumlah jalur di Sumbar. Salah satunya jalan menuju Jam Gadang di Kota Bukittinggi.(SY RIDWAN/PADEK)
Tepat 25 Februari lalu, dua tahun sudah pasangan Mahyeldi Ansharullah-Audy Joinaldy menjadi gubernur dan wakil gubernur Sumbar. Nah, tahun kedua lalu itu pertumbuhan ekonomi Sumbar tercatat mengalami peningkatan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) ekonomi Sumbar tahun 2022 tumbuh sebesar 4,36 persen. Ini lebih tinggi dibanding tahun 2021 tumbuh sebesar 3,29 persen. Ekonomi Sumbar pada triwulan IV-2022 terhadap triwulan IV-2021 juga mengalami pertumbuhan sebesar 4,15 persen (y-on-y).

Hanya saja, pertumbuhan ekonomi (PE) sebesar 4,36 persen itu berada di bawah angka rata-rata nasional sebesar 5,31 persen. Wakil Ketua DPRD Sumbar Irsyad Syafar mengungkapkan, ada yang menarik dari pertumbuhan ekonomi Sumbar itu. Yakni, semua indikator sektor ekonomi bertumbuh positif. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan tersebut merata.

“Sementara di provinsi lain yang lebih tinggi pertumbuhan ekonominya dari Sumbar, tidak di semua sektor ekonomi yang bertumbuh. Ada yang masih minus atau di bawah. Sementara kita sektor ekonomi menggeliat pasca Covid-19,” katanya kepada Padang Ekspres, beberapa waktu lalu.

Lalu menurutnya, gini rasio Sumbar juga jauh di bawah nasional. Artinya, hal ini menunjukkan bahwa jarak antara yang kaya dan miskin di Sumbar ini tidak terlalu ekstrem.

“Dan tingkat kemiskinan kita juga rendah di bawah angka nasional. Sehingga gini rasio kita rendah, kemiskinan rendah, pertumbuhan ekonomi sedang, tapi tumbuh positif di seluruh sektor ekonomi yang 17. Ini menunjukkan ekonomi Sumbar kondusif dan semua sektor ekonominya bergerak menggeliat,” tekannya.

Dikutip dari website resmi Pemprov Sumbar, menurut Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), angka kemiskinan ekstrim di Sumbar turun 0,14 persen di tahun 2022.

Turun dari 0,91 persen (50,84 ribu) di tahun 2021 menjadi 0,77 persen (43,67 ribu) tahun 2022. Angka penurunan ini tertinggi nomor tiga di Sumatera, bersama Jambi. Secara nasional, Sumbar juga termasuk satu dari 20 provinsi yang mengalami penurunan kemiskinan ekstrem.

“Kemudian, banyak orang yang heboh dengan angka inflasi di Sumbar. Angka inflasi memang tinggi, tetapi jangan fokus itu saja yang dibaca. Baca juga gini rasio, Pertumbuhan ekonomi, dan jumlah kemiskinan. Kalau pun tinggi harga cabai misalnya itu juga dinikmati oleh masyarakat petani,” sebutnya.

Dibandingkan tahun 2021, inflasi Sumbar meningkat tajam pada tahun 2022. Yakni dari 1,40 persen menjadi 7,43 persen. Sedangkan inflasi Indonesia hanya pada angka 5,51 persen.

Nah, untuk meningkatkan ekonomi Sumbar ke depannya, ia meminta agar pemerintah provinsi (pemprov) mempercepat seluruh program yang telah dirancang. Yang menurutnya, saat ini sudah ada sebagian mulai tender.

“Saya juga dapat informasi bahwa evaluasi serapan anggaran sekarang dilakukan tiap bulan oleh OPD. Kami sangat apresiasi ini sehingga kita bisa melihat mana yang belum selesai dan mana yang tertinggal, serta mana yang harus segera dikerjarkan,” lanjut Irsyad.

Menurutnya, jika kondisi seperti itu terus terjadi sampai akhir 2023, ia yakin Sumbar mampu melampaui angka pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kalau nanti bisa mencapai nasional dampak positifnya pada Sumbar itu akan menaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Nilai tukar petani juga tambah naik. Seluruh sector ekonomi juga akan menaik. Kebutuhan beli masyarakat juga bakal meningkat,” sambungnya.

Dia juga mengingatkan, agar pemprov fokus membenahi infrastruktur. Terutama jalan supaya meningkatkan kembali kunjungan wista Sumbar. Hal ini sangat berdampak pada ekonomi masyarakat.

Misalnya, pada tahun lalu tercatat ada kunjungan wisata 1,3 juta orang dalam 5 hari. Itu pun hanya pakai karcis, maka akan ada sekitar Rp 1 triliun lebih uang berputar di Sumbar jika setiap orang membelanjakan Rp 1 juta.

“Dua bulan lagi sudah menyambut Idul Fitri, dalam hal ini pemprov harus segera membenahi semua infrastruktur supaya orang bisa nyaman berkunjung di Sumbar,” tuturnya.

Pacu Lewat Sumber Baru

Sebelumnya, Senin (13/2) lalu, Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Sumbar Endang Kurnia Saputra menyatakan, pertumbuhan ekonomi Sumbar harus dipacu dengan mencari sumber-sumber baru. Potensi pariwisata dan industri halal Sumbar sangatlah besar dikembangkan sebagai penopang ekonomi Sumbar kedepan.

Menurutnya, untuk mengatasi inflasi dan penurunan pertumbuhan ekonomi di Sumbar ada beberapa cara. Pertama, mencari pertumbuhan ekonomi baru, kedua meningkatkan kembali investor yang potensial untuk industri pengolahan.

“Nah, sumber pertumbuhan ekonomi baru yang dipandang BI tidak hight cost dan tidak juga menumbuhkan investasi yang cukup besar dari pemerintah dan sudah sangat potensial adalah pariwisata,” sebut pria kelahiran Bandung, Jawa Barat ini.

Namun menurutnya, untuk menyamakan karakter Sumbar menjadi tempat tujuan wisata seperti Yogyakarta dan Bali, membutuhkan waktu 5-10 tahun membangunnya, dimana karakter masyarakatnya sangat mendukung industri pariwisata.

“Misalnya, Yogyakarta tidak punya pabrik yang besar, tapi ia punya pariwisata yang sangat mendukung untuk pembangunan ekonominya. Biasanya provinsi yang maju itu jasanya lebih mendominasi. Maka dari itu kita BI bersama Pemprov Sumbar mendukung penuh program Visit Beautiful West Sumatera, dan Minang Kreatif Festival,” papar Alumni University of Technology, Sydney ini.

Endang menyebutkan, sektor pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru di Sumbar, plus sektor perdagangan yang bisa lebih dikembangkan lagi. Yakni dengan langsung mengekspor produk-produk Sumbar ke daerah tujuan. “Selain pariwisata, potensi industri halal di Sumbar sangatlah besar,” sebutnya.

Ia memuji kuliner ranah Minang sangat beragam dan semuanya enak dan lezat. Tak heran, selain potensi alam, ragam kuliner Sumbar adalah daya tarik bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke Sumbar. Tinggal lagi mengemas dan menggencarkan promosi.

Selain itu, menurutnya, infrastruktur juga sangat penting. Kehadiran jalan tol di Sumbar bisa mempercepat jarak dan waktu tempuh dalam mendukung pariwisata di Sumbar.

“Tanpa tol pariwisata pun akan tetap bertumbuh, namun tentu tidak secepat dan selaju pariwisata provinsi lainnya. Meskipun begitu, tentu kita terus mendukung pemabungan tol ini dapat selesai secepat mungkin,” katanya.

Kemudian penerbangan dari dan ke Sumbar juga harus lancar dan tarif terjangkau. Ia juga menyampaikan, yang bisa dilakukan untuk mengembangkan pariwisata adalah dengan membangun insan pariwista, lalu hotel-hotel harus terstandardisasi, pelayanan ditingkatkan. Tidak kalah penting yaitu 3A (atraksi, aksesibilitas, dan amenitas).

Sementara itu Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Sumbar Buchari Bachter menilai, pasca pandemi Covid- 19 pertumbuhan ekonomi di Sumbar bisa dibilang cukup baik. “ Kadin akan mencoba mengambil peran bagaimana mendorong untuk mengairahkan perekonomian kembali,” ucapnya.

Dia mengatakan, Sumbar sebagai daerah yang memiliki banyak kecukupan baik dari sumber daya alam maupun sumbe daya manusia. Dengan demikian dia meminta pemerintah provinsi ataupun daerah mengoptimalkan hal tersebut.

“Mudah-mudahan 2023 menjadi tahun kebangkitan semua. Karena tahun sebelumnya merupakan tahun yang berat bagi masyarakat dan pengusaha. Semoga dengan kembalinya normal dapat mengerakan perekonomian dan tidak lupa juga pemerintah harus memiliki program unggulan untuk mengerakan ekonomi di Sumbar. sebagai mitra pemerintah Kadin akan mendukung hal tersebut,” pungkasnya. (cr4/cr1) Editor : Novitri Selvia
#dprd sumbar #ekonomi sumbar #Irsyad Syafar #Mahyeldi-Audy #bps