Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

One Way Efektif Dengan Sejumlah Catatan, Tahun Ini Tak Ada Macet Hingga 10 Jam

Novitri Selvia • Rabu, 26 April 2023 | 10:18 WIB
FOKUS: Didampingi seorang guru, sejumlah pelajar di SMP Negeri 8 Padang serius menjalani proses belajar mengajar, beberapa hari lalu. Sejak 6 Februari lalu, SMP ini telah menjalani program full day school.(SUYUDI ADRI PRATAMA/PADEK)
FOKUS: Didampingi seorang guru, sejumlah pelajar di SMP Negeri 8 Padang serius menjalani proses belajar mengajar, beberapa hari lalu. Sejak 6 Februari lalu, SMP ini telah menjalani program full day school.(SUYUDI ADRI PRATAMA/PADEK)
Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Sumbar mengklaim penerapan sistem satu arah di ruas jalan Padang-Bukittingi berjalan efektif. Meskipun demikian, kemacetan tetap terpantau di sejumlah ruas jalan. Namun, durasi macetnya jauh lebih singkat dibandingkan tahun lalu.

Sebagaimana telah diberitakan sebelum libur Lebaran lalu, sistem satu arah diterapkan pada H-3 dan H+3 Lebaran. Ini khusus untuk ruas jalan Padang-Bukittinggi dan sebaliknya. Bagi pengendara dari Padang, akan melalu ruas satu arah dari Sicincin ke Padanglua. Sedang dari Bukittingi via Malalak.

“Ini (kemarin, red) hari terakhir penerapan one way system (sistem satu arah, red). Kemudian akan dilanjutkan dengan rekayasa lalu lintas secara situasional. Maksudnya, tergantung kondisi dilapangan,” kata Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Sumbar Kombes Pol Hilman Wijaya kepada Padang Ekspres, kemarin.

Selama penerapan one way system, terang dia, tidak ada pemasalahan. Hal ini terbukti dengan tidak adanya kecelakaan di jalur satu arah tersebut. “Selain itu tidak ada kemacetan. Kalaupun ada di kawasan Padangluar (Kabupaten Agam) dan itupun tidak panjang dan (bisa) terurai,” sambungnya.

Sedangkan titik macet selama libur Lebaran tahun ini ada di Sicincin, Kabupaten Padangparimanan, Padanglua masuk Bukittinggi serta Simpang Piladang di Kabupaten Limapuluh Kota.

“Semua kemacetan itu bisa jalan. Jika dibandingkan tahun-tahun lalu lebih merayap. Macet tidak, tapi padat kendaraan. Jadi tidak ketemu macet hingga 10 jam dijalan pada tahun ini. Paling (macet hanya) antara tiga hingga empat jam saja. Ini adalah adalah suatu keberhasilan,” klaim Hilman.

Pada momen libur Lebaran kali ini, Hilman memperkirakan, sebanyak 60 ribu kendaraan masuk ke Sumbar. Perhitungan tersebut berdasarkan tiap-tiap pos di perbatasan yang Sumbar. Baik dari Riau, Bengkulu, Sumatera Utara, dan Jambi.

Lalu untuk arus balik, katanya, telah dimulai kemarin. Dia memprediksi akan berlangsung hingga Minggu mendatang. Hilman pun mengimbau, pengedara yang hendak balik agar menghindari jalan-jalan padat kendaraan.

“Sudah ada jalan alternatif. Jangan menumpuk di jalan yang padat sehingga menyebabkan kemacetan,” tukasnya.

Manajemen Lalu Lintas Masih Kurang

Meski demikian, pengamat transportasi Yostrizal memiliki sejumlah catatan terhadap penerapan sistem satu arah ini. Menurutnya ada beberapa tinjauan dan solusi yang harus dilakukan stakeholder terkait, guna memaksimalkan sistem satu arah ini pada momen liburan selanjutnya.

Pertama, belum optimalnya pengendalian lalu lintas pada Simpang Padanglua di Kabupaten Agam dan Simpang Sicincin di Kabupaten Padangpariaman, tempat entry point jalur satu arah.

“Pada keadaan yang telah ditinjau, terlihat masih kurangnya manajemen lalu lintas. Sehingga penumpukan kendaraan masih terjadi terutama di Simpang Padanglua dan Simpang Sicincin. Di dua lokasi ini terdapat keramaian seperti pasar tradisional,” jelasnya.

Kedua, terjadinya penumpukan kendaraan pada sore hari setelah berakhirnya jam operasional one way. Terutama pada Senin (24/4) lalu. Ketiga, potensi kecelakaan masih ada karena masih ada beberapa kendaraan terutama sepeda motor yang melawan arah, selain ambulance dan pemadam kebakaran yang memang diizinkan.

Dengan demikian dia menyarankan untuk memperbaiki geometrik persimpangan di Padanglua dan Sicincin. Jika memungkinkan menyegerakan pembangunan simpang susun sesuai rencana. Kedua, mengupayakan penyediaan jalur paralel di bahu jalan untuk sepeda motor arah berlawanan yang melakukan perjalanan jarak dekat tentu dengan pembatas yang aman.

“Ketiga, meskipun ini sulit, namun mungkin bisa diusahakan dengan teknologi, yaitu meningkatkan fasilitas jalan dan memperbaiki jalur Malalak agar layak dan aman untuk dilewati kendaraan sampai malam hari. Sehingga jam operasional one way bisa ditambah sampai malam. Kendala utamanya pada jalur Malalak adalah kabut tebal yang biasa turun sejak sore hari,” papar akademisi dari Universitas Andalas ini.

Keempat, memasang beberapa titik CCTV di sepanjang jalur Padang–Bukittinggi yang bisa diakses publik. Sehingga masyarakat sebelum berangkat melalui jalur tersebut bisa mengetahui kondisi kepadatan lalu lintas dan memilih opsi-opsi jalur yang lainnya.

Opsi lain dalam mengatasi macet mudik tahun-tahun mendatang, sambungnya perlu juga dilakukan. Seperti dengan penerapan genap-ganjil pada ruas tertentu, pembangunan jalan alternatif yang sekelas dengan jalan utama untuk jalur padat, dan pengoperasian kembali kereta api pada semua jalur lama di Sumatera Barat.

Laka Meningkat

Di sisi lain, selama momen libur Lebaran ini, ternyata angka kecelakaan (laka) lalu lintas (lantas) meningkat. Hingga Senin (24/4) lalu, Ditlantas Polda Sumbar mencatat sudah terjadi 68 kecelakaan di Sumbar. Sedangkan tahun lalu, laka lalu lintas hanya 63 kejadian.

“68 laka lantas tersebut terhitung dari tanggal 18 hingga 24 April. Terbanyak di wilayah hukum Polresta Padang. Yakni sebanyak 20 kejadian,” kata Dirlantas Polda Sumbar Kombes Pol Hilman Wijaya.

Ia menambahkan, dari 68 kejadian laka lantas tersebut, enam orang dilaporkan meninggal dunia. “Tahun ini enam orang meninggal dunia, tujuh luka berat dan 111 luka ringan. Sedangkan pada tahun sebelumnnya sembilan meninggal dunia, lima luka berat dan 131 korban luka ringan,” jelasnya.

Dari jumlah laka tersebut kata Hilman, diperkirakan kerugian material pada tahun 2023 sebanyak Rp 263.910.000 sedangkan pada tahun 2022 Rp. 263.910.000.

“Adapun penyebab kecelakaan adalah mendahului/berbelok/berpindah jalur 19 kali, mengantuk/kelelahan 19 kali, tidak mengutamakan pejalan kaki 8 kali, batas kecepatan 5 kali dan tidak menjaga jarak  2 kali,” ujar Hilman.

Selain kecelakaan lalu lintas, polisi juga menindak tegas kepada pengendara tidak patuh yang sehingga membahayakan dirinya dan orang lain. “Ada sebanyak 275 tilang pada tahun ini, jika dibandingkan dengan tahun 2022 mengalami kenaikan dari 174 tilang.

Dengan rata-rata melanggar tidak memakai helm kasus 201 dan 63 melawan arus pada tahun 2023, untuk pada tahun 2022, 85 kasus tidak memakai helm dan 15 kasus melawan arus,” tukas Hilman. (rid/cr5) Editor : Novitri Selvia
#polda sumbar #Kombes Pol Hilman Wijaya #one way