Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dua Tewas, 23 Rumah Diterjang Longsor: Waspadai Cuaca dan Potensi Bencana

Novitri Selvia • Kamis, 4 Mei 2023 | 10:16 WIB
BAHU-MEMBAHU: Masyakarat Jorong Mawar, Nagari Lubukjantan, Kecamatan Lintaubuo Utara, Kabupaten Tanahdatar bahu membahu mengevakuasi material longsor yang menimpa rumah warga, kemarin.(MUKHLIS UNTUK PADANG EKSPRES)
BAHU-MEMBAHU: Masyakarat Jorong Mawar, Nagari Lubukjantan, Kecamatan Lintaubuo Utara, Kabupaten Tanahdatar bahu membahu mengevakuasi material longsor yang menimpa rumah warga, kemarin.(MUKHLIS UNTUK PADANG EKSPRES)
Sumbar yang disebut-sebut sebagai etalase bencana alam bukan lah isapan jempol. Sebab itu, kewaspadaan perlu untuk terus dijaga dan ditingkatkan. Kemarin longsor terjadi di sejumlah daerah. Persitiwa nahas itu tidak saja mengubur sejumlah rumah warga tapi juga memakan korban jiwa.

Seorang Balita berumur 20 bulan tewas setelah tertimbun longsor di Batang Asahan, Jorong Mawar 1, Nagari Lubukjantan, Kecamatan Lintaubuo Utara, Kabupaten Tanahdatar. Meski sempat dilarikan ke puskesmas Lubukjantan setelah dievakuasi, namun nyawanya tidak tertolong.

Fazura Laiqa, anak dari pasangan Jep Petri, 32, dan Winda Putri Lestari, 28, itu tertimpa material longsor saat tengah bermain di depan rumahnya. Material longsor yang menimbun korban setinggi 1,5 meter itu baru bisa dievakuasi dua jam setelah kejadian.

Longsor tejadi saat dinihari hingga pagi, ketika kawasan tersebut diguyur hujan lebat. Longsor yang terjadi setidaknya juga menimpa 18 rumah. Sebanyak 13 rumah diantaranya dalam kondisi rusak berat dan lima lainnya rusak ringan.

Kepala Jorong Mawar Gamal Abdul Naser mengatakan, hingga kemarin sore, warga dibantu petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepolisian dan TNI masih melakukan pembersihan material secara manual sembari menunggu alat berat.

Dari informasi yang Padang Ekspres terima, rumah warga di Jorong Mawar memang banyak berada di bawah tebing dengan ketinggian lima hingga tujuh meter. Rumah warga yang tertimpa material longsor tersebut tertimbun dengan ketinggian bekisar dua hingga tiga meter.

“Hujan sejak semalam awalnya sudah diwaspadi warga, dengan tidak tidur di dalam kamar. Karena sudah ada longsor kecil-kecilan. Sejak semalam karena terus diguyur hujan akhirnya tebing di belakang rumah warga longsor,” jelas Gamal.

Untuk sementara warga yang menjadi korban longsor diungsikan ke rumah kerabat dan tetangga terdekat. Gamal menyebutkan, belasan kepala keluarga (KK) menjadi korban longsor.

“Jadi saat kejadian sekira pukul 09.00 WIB. Korban yang diawasi neneknya tengah bermain di depan rumahnya. Namun, material longsor menimpa korban, nenek korban langsung berteriak dan memberi tahu tetangga dan warga lainnya,” ujar Gamal.

Setelah dilakukan evakuasi dengan cara manual menggunakan cangkul selama satu setengah jam lebih, tubuh korban berhasil ditemukan dikedalaman satu setengah meter. Saat ditemukan korban tidak sadarkan diri namun masih ada denyut kehidupan.

Sekitar pukul 11.30, korban di larikan ke Puskesmas Lubukjantan. Setelah mendapat perawatan, sekitar pukul 12.00, korban akhirnya meninggal. Korban telah dikebumikan pada Rabu sore.

Tutup Akses Jalan

Longsor juga menerjang sejumlah wilayah Kabupaten Agam, kemarin. Selain menimpa dan menutup akses jalan, material longsor juga menimpa rumah warga dan mengakibatkan satu orang meninggal dunia.

Korban meninggal merupakan warga Jorong Muaro, Nagari Kotorantang, Kecamatan Palupuah. Korban diketahui bernama Fitriati, 55. Dia dikabarkan sedang berada di kamar mandi saat longsor menimpa kediamannya.

Kepala Pelaksana BPBD Agam, Bambang Warsito mengatakan, perbukitan di belakang rumah korban terban sekitar pukul 05.30. Bencana itu dipicu akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah sekitar sejak malam.

“Material longsor mengenai bagian belakang rumah korban. Saat kejadian, korban sedang berada di WC dan terjebak di sana,” kata Bambang.

Mengetahui ada kejadian, kemudian warga mengevakuasi korban. Sekitar pukul 07.30 korban dapat dikeluarkan dari timbunan longsoran dan langsung dilarikan ke RSUD Bukittinggi.

“Saat dievakuasi, korban dalam keadaan pingsan. Langsung dibawa menuju rumah sakit. Namun nyawa korban tidak tertolong dan meninggal dunia,” katanya.

Rencananya kata Bambang, jenazah korban akan disemayamkan di pandam pakuburan keluarga di Muaro, Kotorantang. Ia menambahkan, selain menimpa rumah dan mengakibatkan Fitriati meninggal dunia, titik lain di Jorong Muaro juga terpantau dilanda longsor. Material longsor sempat membuat arus lalu lintas terputus.

Sehari sebelumnya kata Bambang, longsor juga terjadi di wilayah Malalak Selatan, Kecamatan Malalak. Material longsor menutupi badan jalan dengan ketinggian lebih kurang 2 meter dan panjang 7-9 meter. Kondisi ini membuat arus lalin tersekat dan jalan sempat dialihkan ke ruas jalan Kelok Tandikek, Kecamatan Patamuan, Padangpariaman.

“Longsor terjadi sekitar pukul 15.30 kemarin (Selasa, red). Tadi pagi sudah kita turunkan petugas untuk membersihkan material menggunakan alat berat dan jalan sudah kembali normal sekitar pukul 14.45,” ujarnya.

Meski sudah bisa dilalui, pengendara yang melintasi jalur di titik longsor itu tetap diminta hati-hati. Selain kekhawatiran adanya potensi longsor susulan, kondisi jalan masih bertanah dan licin.

Ia juga meminta masyarakat waspada terhadap potensi bencana yang dapat terjadi kapan saja akibat cuaca buruk, baik hujan deras disertai angin kencang atau petir, puting beliung dan sebagainya. Dampaknya tidak hanya akan mengundang longsor, namun juga berpotensi memicu banjir, pohon tumbang, korsleting listrik dan lainnya.

“Masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan, dikelilingi banyak pohon agar meningkatkan kewaspadaan saat cuaca ekstrem. Termasuk pengguna jalan agar lebih hati-hati saat melintas di wilayah yang dekat dengan tebing atau perbukitan rawan longsor dan banyak pohon,” tutupnya.

Warga Terisolir

Di Kabupaten Solok, sejumlah titik di kawasan Airluo Kecamatan Payungsekaki dilanda longsor, sekira pukul 4.00 WIB kemarin. Akibatnya beberapa rumah dan kawasan pertanian warga mengalami kerusakan, serta akses ke nagari tersebut sempat terputus.

“Benar telah terjadi longsor karena tingginya curah hujan. Sehingga tanah perbukitan mengalami terban yang mengenai rumah dan perkebunan milik masyarakat,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Solok, Irwan Effendi.

Adapun akibat bencana tersebut, akses jalan lintas nagari dari Jorong Tanahsirah menuju Jorong Kipek terputus. Jalan itu dipenuhi material longsor. Sebanyak 138 KK yang terdiri dari 478 jiwa di Jorong Tanahkipek pun terisolir.

Ia menambahkan, warga yang terdampak sudah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman karena sisa tanah longsor masih labil dan berpotensi terjadi longsor susulan. Kemudian, empat unit rumah milik masyarakat mengalami kerusakan.

Termasuk juga lahan perkebunan seperti sawah dan tanaman cabe milik warga, areal sawah seluas lebih kurang 10 hektar, dan ladang lainnya kurang lebih seluas 2 hektar. “Yang jelas dalam kejadian itu tidak ada korban jiwa,” tegasnya.

Hingga pukul 17.00 kemarin, masih dilakukan pembukaan jalan dengan cara pembersihan material longsor oleh tim TRC BPBD Kabupaten Solok yang dibantu dengan swadaya warga masyarakat.

“Saat ini telah dilakukan upaya pembersihan dimana akan membutuhkan waktu hingga beberapa hari kedepan,” tambahnya.

Sementara itu, Sekkab Solok, Medison meminta seluruh SKPD merespons dan cepat tanggap dalam penanganan bencana. Keterkaitan antar SKPD selalu ada dalam penanggulangan bencana. Oleh karena itu harus ada koordinasi berkelanjutan antar SKPD.

“SKPD lain juga harus turun, agar akurasi data akibat dampak bencana bisa didapatkan sehingga kita bisa menentukan langkah berikutnya dengan mudah,” jelasnya.

Sebab, apabila hal ini tidak dilakukan maka akan beresiko terhadap masyarakat. Karena dalam standar operasional prosedur pelayanan bencana alam, satu menit sangat berharga untuk keselamatan masyarakat.

Ia ingin SKPD terkait, mengetahui fungsi dan kerja mereka saat terjadi bencana. Ia tidak menginginkan SKPD meminta informasi tambahan yang seharusnya bisa dilakukan sendiri kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Solok saat terjadi bencana alam.

Karena menurutnya, 14 kecamatan se-Kabupaten Solok merupakan daerah rawan bencana alam. Seperti longsor di Kecamatan X Koto Sungai Lasi, kecamatan Gunung Talang, Pantai Cermin dan lainnya. Sementara banjir di Kecamatan Kubung, Kecamatan Bukit Sundi dan lainnya.

Lalu, puting beliung merata di seluruh kecamatan. Letusan gunung talang di Kecamatan Gunung Talang, Lembang Jaya dan Danau Kembar. Serta gempa bumi terjadi hampir di 14 kecamatan se-Kabupaten Solok.

Dengan kondisi ini, SKPD atau pihak kecamatan diminta tanggap dan bisa menangulangi bencana saat kejadian tanpa menunggu dari BPBD Kabupaten Solok. “Mulai hari ini, seluruh SKPD sudah diinstruksikan untuk turun ke lapangan, dengan menjalankan tupoksi masing-masing,” tukasnya. (stg/ptr/frk) Editor : Novitri Selvia
#Nagari Lubukjantan #bambang warsito #BPBD Agam #longsor #Malalak Selatan #Nagari Kotorantang