KEMENTERIAN Luar Negeri (Kemenlu) menuntut agar PBB melanjutkan hasil investigasi awal insiden yang menewaskan tiga personel pasukan perdamaian asal Indonesia di Lebanon. Kemenlu, atas nama pemerintah, juga mendesak semua pelaku bisa diadili.
“Apabila hasil investigasi penuh mengonfirmasi hasil temuan dari investigasi awal ini, pemerintah Indonesia akan mengutuk keras Israel atas tindakan yang mengakibatkan gugurnya dan terlukanya prajurit TNI yang bertugas sebagai personel pemelihara perdamaian,” kata Plt Direktur Perdamaian dan Keamanan Internasional Kemenlu Veronica Vicka Rompis dalam press briefing di Jakarta kemarin (8/4).
Dalam kesempatan yang sama, Juru Bicara Kemenlu Yvonne Mewengkang kembali menegaskan hal senada.
Baca Juga: PSG vs Liverpool: Rekor Pertemuan Seimbang, Siapa Unggul di Perempat Final Liga Champions 2026?
“Indonesia mengutuk keras serangan Israel yang telah menewaskan personel Indonesia yang sedang menjalankan mandat sebagai penjaga perdamaian PBB,” ungkapnya.
Selain itu, Yvonne menyampaikan kekecewaannya atas hasil investigasi awal yang disampaikan PBB. Sebab, hasil tersebut hanya mencakup dua kejadian.
“Tentunya kita terus meminta juga, insiden ketiga yang terjadi pada 3 April (yang melukai tiga personel UNIFIL asal Indonesia) juga untuk terus dilanjutkan proses investigasinya,” katanya.
Baca Juga: Barcelona vs Atletico Madrid: Cubarsí Dikartu Merah, Alvarez Cetak Gol Penentu Babak Pertama
Hasil investigasi awal PBB mengenai insiden penyerangan pasukan perdamaian di bawah United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) itu hanya merujuk pada insiden pada 29 dan 30 Maret 2026. Padahal, seperti disampaikan Yvonne, penyerangan juga sempat terjadi kembali pada 3 April 2026.
Pada insiden 29 Maret, berdasarkan bukti yang ada, termasuk analisis lokasi dampak dan khususnya fragmen proyektil yang ditemukan di posisi PBB 7-1, proyektil tersebut merupakan peluru utama tank kaliber 120 mm.
Adapun peluru tersebut ditembakkan oleh tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel dari arah timur menuju Ett Taibe.
Baca Juga: PSG vs Liverpool 2-0: Doué dan Kvaratskhelia Cetak Gol
“Perlu diingat bahwa untuk mengurangi risiko terhadap personel Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNIFIL telah memberikan koordinat seluruh posisi dan fasilitasnya kepada Pasukan Pertahanan Israel pada 6 Maret dan 22 Maret,” ujar Juru Bicara Sekjen PBB Stephane Dujarric dalam keterangan resminya.
Sementara itu, terkait insiden 30 Maret, berdasarkan bukti yang tersedia, termasuk analisis lokasi ledakan, kendaraan yang terdampak, serta perangkat peledak rakitan (IED) kedua yang ditemukan di dekat lokasi pada hari yang sama, disimpulkan bahwa ledakan tersebut disebabkan oleh IED yang diaktifkan oleh korban (tripwire).
Mengingat lokasi kejadian, karakteristik ledakan, serta konteks saat ini, investigasi menilai bahwa IED tersebut kemungkinan besar dipasang oleh kelompok Hizbullah.
Baca Juga: Dharmasraya Prioritaskan Perbaikan Jalan Provinsi di Musrenbang RKPD Sumbar 2027
“Perlu saya tegaskan kembali bahwa ini merupakan temuan awal berdasarkan bukti fisik awal. Proses investigasi penuh oleh PBB masih berlangsung,” katanya.
Dujarric pun menegaskan kembali bahwa insiden-insiden penyerangan yang melukai pasukan perdamaian ini tidak dapat diterima. Dia memastikan kasus-kasus ini diselidiki dan diproses secara hukum oleh otoritas nasional untuk membawa para pelaku ke pengadilan sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Adapun Veronica menggarisbawahi bahwa insiden-insiden tersebut tidak terlepas dari memburuknya situasi di Lebanon akibat serangan Israel. Indonesia pun terus mengutuk keras serangan Israel ke Lebanon Selatan tersebut, yang juga secara signifikan meningkatkan risiko keselamatan personel pemelihara perdamaian PBB.
Baca Juga: Inspeksi Mendadak Trans Padang Temukan Pelanggaran Kecil, Layanan Tetap Berjalan Optimal
Serangan Israel ini pun dinilai melemahkan pelaksanaan mandat UNIFIL sebagaimana yang sudah diatur dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701. (mia/lyn/ttg/jpg)
Editor : Novitri Selvia