Etape ketiga menuju puncak Kerinci menjadi lintasan terberat sekaligus paling menguras tenaga. Sabtu dini hari, pukul 04.00 WIB, tim harus mulai bergerak agar tidak kehilangan momen terbaik di Puncak Indrapura.
Laporan : Two Efly & Azib Fattah
Jika umumnya summit attack dimulai sekitar pukul 06.00 WIB, di Gunung Kerinci pendakian ke puncak dilakukan lebih dini. Sabtu (25/4), pukul 03.00 WIB, tim Tim Seven Summit West Sumatera sudah bangun dan bersiap.
“Kita mulai bergerak menuju summit pukul 04.00 WIB. Perjalanan diperkirakan 2,5 hingga 3 jam. Jalurnya menanjak dan curam, didominasi batu serta pasir vulkanik yang mudah lepas. Setiap langkah harus benar-benar diperhatikan,” ujar Lihun Alfonso.
Dini hari di ketinggian di atas 3.500 mdpl menghadirkan dingin yang sulit dijelaskan. Angin berembus bebas tanpa penghalang, kabut menyelimuti, dan suhu terasa menusuk hingga tulang. Lingkungan terbuka tanpa pepohonan membuat tubuh benar-benar terekspos bebas tanpa hambatan.
“Bapak termasuk beruntung karena cuaca cerah. Malam kemarin, sempat hujan es di puncak lokasi kita sekarang. Pastikan pakaian berlapis, gunakan sarung tangan, dan kaus kaki,” tambah Lihun.
Arahan itu kami patuhi. Lapisan pakaian kami pasangkan dengan rapi. Baju dipakai berlapis lapis. Lapis pertama kaus dalaman. Lapis kedua baju kaus Ollin Bank Nagari type lengan panjang. Lapis ketiga mantel hujan dan lapis terakhir jaket tebal sebagai pelindung terluar. Sarung tangan dan kaus kaki pun digunakan berlapis oleh sebagian anggota tim.
Pukul 04.05 WIB, tim mulai bergerak. Headlamp terpasang di kepala, trekking pole di tangan, langkahpun diayunkan.
Seperti hari sebelumnya, tim dibagi menjadi dua rombongan. Tim advance terdiri dari Lihun Alfonso sebagai leader, Azib Fattah Mandala Putra, Two Efly, dan Habil sebagai Sweeper. Tim kedua dipimpin Dani Fauzi, Suci, Ciday, Zira, Dima, Abrar dan Bang Roy sebagai Sweeper.
Baru beberapa menit berjalan, jarak antar tim mulai terbentang. Jalur langsung menanjak tajam sejak dari area camp. Pijakan didominasi batu dan pasir vulkanik, tanpa pegangan berarti. Tanaman Centigi yang tumbuh rendah pun tidak cukup membantu sebagai tumpuan dan pegangan.
Pendaki hanya bisa mengandalkan kekuatan fisik, keseimbangan, dan fokus. Dengan cahaya headlamp yang terbatas, jarak pandang hanya sekitar empat hingga lima meter. Kondisi semakin menantang karena pijakan yang rawan lepas, dipadukan dengan hembusan angin dan kabut pagi. Tidak ada pilihan selain menjaga langkah dengan hati-hati.
Target awal adalah pelataran pertama yang diperkirakan dapat dicapai dalam 20 menit. Namun, pelataran di Kerinci bukanlah “bonus” seperti yang dikenal para pendaki. Jalurnya tetap menanjak dengan pasir vulkanik sebagai pijakan utama. Di sisi kiri dan kanan, jurang menganga cukup dalam.
Ujian Fisik dan Mental
Dari pelataran, target berikutnya adalah Batu Gantung, sekitar 30–40 menit perjalanan. Namun, jalur menuju titik ini benar-benar menguji nyali, fisik dan nafas.
Langkah terasa berat. Untuk setiap 10–15 langkah, kami harus berhenti sejenak. Jarak 10 meter terasa seperti 100 meter. Nafas tersengal, dada terasa sesak dan mulai mengarah ke sedikit rasa sakit.
“Ada istilah di jalur ini pak: naik dua, turun satu,” ujar Lihun, menggambarkan kondisi pijakan yang mudah longsor.
Benar saja, setiap dua langkah maju, satu langkah mundur akibat pasir yang bergeser. Fisik terkuras, mental diuji. Namun, menyerah bukan pilihan. Tim bersepakat untuk terus melangkah, sepelan apa pun. Ritme dijaga, nafas diatur.
Di sisi lain, waktu terus berjalan. Puncak Indrapura hanya “ramah” pada pukul 06.30 hingga 08.00 WIB. Setelah itu, kabut belerang akan menebal dan angin mulai bertiup kencang.
Dengan tertatih saya coba terus melangkah. Rasa lelah dan nafas sesak saling berpacu. Jarak antara saya dan Azib mulai terpisah. Seiring waktu dan ayunan langkah saya kian tertinggal. Di titik ini saya menyadari bahwa usia tak bisa di lawan.
Kepala mulai relatif berat untuk didongakkan. Secara reflek dalam ayunan langkah dan ketika berhenti kepala tertunduk lelah. Telapak tangan ditumpukan ke salah satu lutut sebagai topangan agar tubuh tidak goyah dan tumbang. Berulang-ulang tindakan itu dilakukan.
Terus terang ingin rasanya menyerah. Namun dibalik keinginan menyerah rasa ingin menggapai puncak kembali menggema. Sebagai pendaki tua, saya coba merajut perca perca pengalaman dimasa lalu. Apapun yang terjadi puncak harus mampu ditapaki.
Langkah diayunkan kembali. Ukuran langkahpun mulai disesuaikan kemampuan. Jika sebelumnya melangkah dengan ukuran normal kini mulai dikurangi.
Strategi pun diubah. Langkah pendek merupakan satu-satunya cara agar bisa beranjak ke depan.
Cukup efektif. Walau terlihat lambat dan lamban namun pergerakan ada. Dengan sisa tenaga akhirnya saya mencapai Batu Gantung. Di Batu Gantung, Lihun, Azib dan Habil sudah menunggu. Sesampai di Batu Gantung saya langsung duduk. Botol minum dibuka. Air hangat yang sudah disiapkan langsung dituang dan diminum.
Batas Daya Taha
Perjalanan berlanjut menuju Tugu Yudha. Jalurnya semakin curam, dengan kombinasi batu dan pasir vulkanik yang labil.
Saya mulai tertinggal lagi. Nafas semakin berat, dada terasa sesak. Kabut mulai bercampur dengan aroma belerang. Udara terasa semakin tipis. Saya harus sering berhenti. Itulah upaya yang dapat dilakukan agar tubuh masih bisa digerakan menuju Tugu Yudha.
Sama dengan tanjakan sebelum Batu Gantung. Posisi makin berjarak. Saya kian tercecer walaupun masih dalam jarak pandangan mata. Azib yang berada di depan mulai sering melihat ke belakang guna memastikan apakah sang Ayah masih aman atau sudah tak sanggup melanjutkan perjalanan.
“Dikit lagi. Ni kami sudah di Tugu Yudha”, kata Azib sambil menunjuk ke monumen Yudha yang terletak di tengah tengah tumpukan batu.
Informasi Azib menjadi penyemangat. Langkah mulai saya pacu. Makin cepat sampai di Tugu Yudha makin cepat pula tubuh ini dapat di istirahatkan.
Target terakhir adalah Puncak Indrapura. “Dari sini (Tugu Yudha, red) dibutuhkan sekitar 30–40 menit lagi. Kita upayakan sebelum pukul 07.00 WIB sudah sampai di puncak,” ajak Lihun.
Jalur menuju puncak sangat curam. Pendakian harus dilakukan dengan lebih keras lagi. Jika pendakian dilakukan dengan pola tembak lurus dapat dipastikan sangat jarang pendaki yang bisa sampai ke puncak.
Satu-satunya cara agar pendaki bisa dengan relatif nyaman menggapai puncak adalah membuat jalur pendakian meliuk dan berbelok bak ulir baut. Tujuan agar tanjakan tidak terlalu curam dan ekstreem. Di kalangan pendaki ini dikenal dengan teknik zig zag.
Seiring ayunan langkah lelah, mengikuti putaran waktu akhirnya tapak langkah sampai juga di puncak Indrapura. Inilah puncak tertinggi Kerinci. Puncak Indrapura dengan ketinggian 3.805 Mdpl.
Sorak bahagia pecah. Rasa lelah terbayar lunas. Cahaya matahari pagi menyinari puncak, membentuk siluet indah yang tak terlupakan. Kami saling mendokumentasikan momen, mengabadikan sejarah kecil dalam perjalanan hidup. (bersambung)
Editor : Adriyanto Syafril