Catatan Ekspedisi Tim Seven Summit West Sumatera to MT Kerinci (Kelima/Tamat): 3-3-3-1, Solidaritas Porter dan Cerita Mistis Gunung Kerinci

Two Efly • Dipublikasikan Selasa, 5 Mei 2026 | 07:32 WIB
Tim Seven Summit West Sumatra di kawasan puncak Gunung Kerinci, tepatnya dekat Tugu Yudha (foto two efly)
Tim Seven Summit West Sumatra di kawasan puncak Gunung Kerinci, tepatnya dekat Tugu Yudha (foto two efly)
 
Tim Seven summit berada di Tugu Yudha, Gunung Kerinci

 

Formasi dan taktik tak hanya dikenal dalam dunia sepak bola. Dalam pendakian menuju puncak Gunung Kerinci, pola itu juga terasa nyata. Tiga langkah awal menjadi fase adaptasi, tiga etape berikutnya adalah ujian mental dan stamina, tiga titik selanjutnya benar-benar menguras tenaga, dan satu titik terakhir menjadi tujuan utama: Puncak Indrapura. Inilah yang diistilahkan pendaki formasi 3-3-3-1 (formasi Agresif dan Kompleks).

Laporan: Two Efly & Azib Fattah MP

Gunung Kerinci merupakan gunung tertinggi di Pulau Sumatra sekaligus gunung berapi tertinggi di Indonesia, dengan ketinggian 3.805 meter di atas permukaan laut (mdpl). Puncaknya dikenal sebagai Puncak Indrapura. Secara geografis, gunung ini berada di perbatasan Provinsi Jambi dan Sumatera Barat, serta termasuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat—salah satu kawasan konservasi terbesar di Asia Tenggara.

Asal-usul dan Pembentukan

Gunung Kerinci terbentuk akibat aktivitas tektonik di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan, hasil pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Proses geologi ini berlangsung selama jutaan tahun dan membentuk gunung bertipe stratovolcano (gunung api kerucut) dari lapisan lava dan abu vulkanik akibat erupsi berulang.

Aktivitas vulkaniknya tergolong aktif. Catatan sejarah menunjukkan letusan telah terjadi sejak abad ke-19, dengan erupsi yang tercatat sejak sekitar tahun 1838. Umumnya berupa semburan abu vulkanik dan gas, dengan intensitas kecil hingga sedang yang masih berlangsung hingga saat ini.

Sejarah dan Budaya

Bagi masyarakat lokal, Gunung Kerinci bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang sakral yang sarat makna spiritual. Gunung ini dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur dan memiliki “penunggu” yang menjaga keseimbangan alam.

 

Banyak cerita dan legenda yang berkembang dari mulut ke mulut. Mulai dari legenda Orang Pendek hingga kisah-kisah mistis lainnya. Sosok ini digambarkan bertubuh pendek, kekar, berbulu lebat, dan berjalan tegak seperti manusia. Banyak pendaki dan warga lokal mengaku pernah melihatnya, meski keberadaannya masih menjadi misteri antara fakta dan sugesti.

Selain itu, terdapat kepercayaan tentang “hutan gaib”, di mana pendaki bisa tersesat seolah jalannya “ditutup”. Secara logika, hal ini bisa saja disebabkan kabut, kelelahan, atau disorientasi, namun pengalaman tersebut sering terasa di luar nalar.

Beberapa titik di jalur pendakian juga dikenal memiliki aura mistis yang kuat, seperti kawasan hutan antara Shelter 2 dan Shelter 3, Kayu Bolong, hingga batas vegetasi. Di lokasi-lokasi ini, pendaki kerap merasakan suasana yang berbeda—hening, mencekam, dan seolah diawasi.

Ada pula mitos “izin gunung”, yakni kepercayaan bahwa tidak semua orang diizinkan mencapai puncak. Tanda-tandanya antara lain cuaca yang tiba-tiba memburuk, kondisi fisik yang mendadak drop, atau hambatan yang terus muncul menjelang summit. Karena itu, sebagian pendaki memilih untuk berdoa atau “permisi” sebelum memasuki kawasan hutan.

Habitat Satwa Liar

Selain kisah mistis, Gunung Kerinci juga merupakan habitat satwa liar, termasuk Harimau Sumatra yang dilindungi. Jejak tapak satwa ini kadang ditemukan di jalur tertentu, terutama di kawasan hutan rapat dan lembab. Jejak ini kadang terlihat antara pintu rimba hingga kemiringan dibawah spot kayu bolong. Spot lainnya adalah beberapa meter menjelang Shelter 2 bayangan.

Sebagai upaya perlindungan, pihak pengelola menetapkan berbagai aturan ketat, termasuk larangan mendirikan tenda di titik tertentu serta pemasangan rambu peringatan di jalur pendakian.

Pendakian Perdana

Tidak ada catatan pasti mengenai siapa yang pertama kali mencapai puncak. Namun, berdasarkan arsip sejarah, pendakian pertama yang terdokumentasi dilakukan oleh Hendrikus Albertus Lorentz, seorang penjelajah asal Belanda, pada tahun 1913 masehi.

Formasi 3-3-3-1 dan Solidaritas Porter

Formasi dan strategi untuk menang tak saja ditemui di dunia sepak bola. Dalam pendakian ke puncak Gunung Kerinci formasi itu juga terlihat nyata.

Dalam sepak bola, formasi 3-3-3-1 termasuk formasi non konvensional. Flesibilitas gerak pemain membuat formasi ini menjadi lebih modren, agresif dan kompleks. Penguasaan taktik dan pengolahan bolanya juga terbilang tinggi untuk setiap pemain.

Saya tak ingin bercerita tetang bola, saya hanya ingin mengabarkan untuk mencapai puncak Gunung Kerinci setiap pendaki harus melewati tiga pos (3 pertama), tiga Shelter (tiga kedua), tiga titik jelang puncak (3 ke tiga) dan Satu puncak bernama Indrapura (3.805 mdpl).

Secara urutan, tiga tahap pertama adalah :

- Pos 1 Bangku Panjang (1.889 mdpl)

- Pos 2 Batu Lumut (2.020 mdpl)

- Pos 3 Pondok Panorama (2.225 mdpl)

- Tahap kedua adalah tiga shelter utama:

- Shelter 1 (2.505 mdpl)

- Shelter 2 (3.100 mdpl)

- Shelter 3 (3.350 mdpl)

Tahap ketiga meliputi tiga titik penting menjelang puncak:

-Plataran/pintu angin

- Batu Gantung (3.528 mdpl)

- Tugu Yudha (3.673 mdpl), monumen untuk mengenang Yudha Sentika yang hilang pada 23 Juni 1990 masehi.

Tahap terakhir adalah Puncak Indrapura (3.805 mdpl), titik tertinggi di Sumatra sekaligus bagian dari tujuh puncak tertinggi di Indonesia.

Ramainya Pendaki

Gunung Kerinci termasuk salah satu destinasi favorit pendaki. Saat tim Seven Summit melakukan pendakian, puluhan pendaki terlihat memadati jalur, bahkan hampir 30 orang dalam satu hari yang sama di Shelter 1. Pendaki mancanegara juga cukup banyak, dengan 8–10 orang yang ditemui di jalur menuju puncak. Pada musim liburan, jumlah ini bisa meningkat berkali lipat.

Ramainya pendaki tak terlepas dari rumit dan beratnya tantangan menuju puncak Indrapura. Selain trak menantang, jalur pendakian juga terbilang jelas dan bersih. Kerinci merupakan salah satu Gunung yang sangat tida mungkin di lakukan tek tok. Normalnya pendakian ke Gunung Kerinci dibutuhkan waktu tiga hari tiga malam untuk kembali lagi ke pintu rimba.

Solidaritas Porter

 Di balik kerasnya medan, Gunung Kerinci menyimpan kisah hangat tentang solidaritas para porter. Meski berbeda rombongan, mereka saling membantu tanpa diminta—mulai dari mendirikan tenda, berbagi logistik, hingga saling bertukar informasi.

Malam hari menjadi momen kebersamaan. Para porter saling mengunjungi, berbagi makanan, minuman, dan cerita hingga larut. Namun, disiplin tetap terjaga. Menjelang fajar, mereka saling membangunkan untuk kembali menjalankan tugas.

Sebagian besar porter mudah dikenali dari sepatu khas yang mereka gunakan, yaitu sepatu boot karet yang tangguh di berbagai medan. Satu lagi, para porter atau pendaping re rata sudah menggabungkan diri dalam Asosiasi Pendaki Gunung Indonesia (APGI).

Rambu-Rambu Pendakian

Salah satu keunggulan Gunung Kerinci dibandingkan gunung lain di Sumatra adalah kelengkapan rambu pendakian. Di setiap titik pemberhentian terdapat papan informasi yang memuat nama lokasi, ketinggian, jarak, serta estimasi perjalanan ke titik berikutnya.

Meski terlihat sederhana, rambu ini sangat membantu pendaki dalam membaca medan dan merencanakan perjalanan. “Selama ini kita belum menemukan rambu pendakian selengkap ini di gunung-gunung Sumbar. Seharusnya ini bisa jadi contoh,” ujar Azib.

Edelwys Pink

Bunga yang disimbolkan sebagai bungacinta abadi ini hanya bisa ditemukan di ketinggian 2.000 mdpl ke atas. Setiap gunung memiliki endemik Edelwys tersendiri. Mayoritas gunung di Sumatera memiliki Edelwys berwarna putih. Ada juga bagian tengah bunganya yang berwarna kuning.

Edelwys kerinci lebih indah dari itu. Kerinci memiliki Edelwys pink namun sekarang mulai langka. Edelwys ini bisa di temukan di lemba dalam sebelah kiri dan kanan jaliur pendakian menuju top Gunung Kerinci. Sebagai pendaki, sangat tak disarankan untuk memetik bunga itu. Selain merusak, tindakan jahil ini mempercepat punah dan matinya bunga endemik dataran tinggi.

 

Seven Summit Indonesia

Puncak yang tinggi menjulang menempatkan Gunung Kerinci sebagai puncak tertinggi di luar pulau Papua.

Seven Summit Indonesia adalah konsep 7 gunung tertinggi yang mewakili 7 wilayah besar di Indonesia (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara).  Ketujuh puncak itu adalah: pertama, Puncak Jaya (Carstensz Pyramid) dengan tinggi: 4.884 mdpl. Lokasi Carstenzs di Papua dengan ciri khas satu-satunya gunung bersalju di Indonesia, butuh teknik panjat tebing untuk menggapai puncaknya.

Kedua, Gunung Kerinci (3.805 mdpl). Terletak di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi dan Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Gunung Kerinci merupakan Gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara. Karakternya adalah, cuaca dingin dan labil. trak yang panjang dan menantang. Butuh tiga hari tiga malam untuk menundukannya.

Ketiga, Gunung Semeru (3.676 mdpl). Berada di Jawa Timur dengan Puncak Mahameru, sangat populer di kalangan pendaki.  Keempat, Gunung Rinjani (3.726 mdpl). Lokasi Lombok, NTB. Gunung ini menjadi destinasi pendakian terfavorit. Rinjani juga dijadikan sebagai Gunung Impian para pendaki. Nilai tambah Gunung ini adalah terdapatnya Danau Segara Anak.

Kelima, Gunung Bukit Raya (2.278 mdpl) dengan lokasi Kalimantan Tengah. Karakter Medan hutan tropis lebat. Ke enam, Gunung Latimojong (Rantemario). Ketinggiannya 3.430 mdpl dengan lokasi Sulawesi Selatan. Puncaknya bernama Rantemario. Ketujuh, Gunung Binaiya 3.027 mdpl. Terletak di Pulau Seram, Maluku. Jalur ekstrem dengan ekosistem beragam. (Tamat)

Editor : Tandri Eka Putra
Seven Summit West Sumatera gunung kerinci