Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Gara-gara Visa AS, Wasit Terbaik Gagal Bertugas, Empat Negara Juga Kehilangan Alokasi Tiket Piala Dunia 2026 untuk Fans

jpg • Rabu, 10 Juni 2026 | 09:10 WIB
Pendukung timnas Jerman menanti sesi latihan Kai Havertz dan kawan-kawan di W Dennie Spry  Soccer Stadium, Winston-Salem, North Carolina, AS (8/6). Jelang Piala Dunia 2026, banyak pihak  merasa dirugikan kebijakan visa AS. (IG GERMAN FOOTBALL)
Pendukung timnas Jerman menanti sesi latihan Kai Havertz dan kawan-kawan di W Dennie Spry Soccer Stadium, Winston-Salem, North Carolina, AS (8/6). Jelang Piala Dunia 2026, banyak pihak merasa dirugikan kebijakan visa AS. (IG GERMAN FOOTBALL)

PADEK.JAWAPOS.COM -- Penugasan dari FIFA (Federasi Sepak Bola Internasional) sudah di tangan. Omar Abdulkadir Artan, wasit terbaik Afrika 2025, pun siap memimpin pertandingan di Piala Dunia 2026.

Wasit asal Somalia itu bahkan sudah mendarat di Bandara Internasional Miami, AS, dengan dokumen lengkap pada Senin (8/6). Namun, dia diterbangkan kem­bali ke Turki.

Impiannya pun kandas. FIFA mengumumkan, wasit asal Somalia itu batal bertugas karena dilarang masuk Amerika Se­rikat (AS), salah satu dari tiga tuan rumah ajang akbar empat tahunan tersebut.

Alasannya, Somalia masuk daftar 12 negara yang terkena travel ban pemerintah AS. Bea Cukai AS (CBP) tidak mau memberikan pengecualian setelah melakukan vetting process atau prosedur investigasi dan evaluasi mendalam untuk menilai kelayakan seseorang.

Artan menjadi korban kesekian kebijakan visa AS yang banyak dikeluhkan peserta Piala Dunia 2026 (selengkapnya lihat grafis). “Kami berwenang menanyai orang asing, memeriksa, dan menentukan kelayakan untuk masuk sesuai dengan hukum AS,” tulis CBP, seperti dikutip dari ESPN.

Padahal, sumber dari Fe­derasi Sepak Bola Somalia mengklaim, Artan sudah me­ngantongi visa AS yang sah. Selain itu, nama Artan juga sudah tercatat sebagai wasit elite FIFA sejak 2018.

FIFA tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengupayakan agar Artan tetap bisa bertugas. “FIFA tidak terlibat dalam proses imigrasi dari negara tuan rumah Piala Dunia, termasuk penentuan visa,” sebut FIFA di situs res­minya.

Berbicara kepada AFP, Penasihat Kementerian Olah­raga Somalia Ciise Aden mengecam kebijakan imigrasi AS dan ketidakberdayaan FIFA tersebut. “Menolak masuk dan mencegahnya menjadi wasit tidak hanya me­rugikan Artan, tetapi juga merusak komitmen sepak bola terhadap keadilan, pres­tasi, dan semangat fair play,” kecam Aden.

Iran termasuk yang paling dirugikan. Pemberian visa kepada para pemain dan pelatih tertunda sehingga mengakibatkan mereka harus memindahkan markas dari Tucson, AS, ke Tijuana, Meksiko. Padahal, ketiga laga mereka pada fase Grup G bakal dijalani di Negeri Paman Sam.

AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari dan berbuntut pada perang yang ketegangannya masih terasa hingga sekarang. AS dan Iran memang tengah menjalani perundingan damai, tetapi belum membuahkan hasil.

Visa untuk para pemain dan pelatih Iran baru keluar pada Jumat (5/6) pekan lalu, hanya berjarak sepekan sebelum Piala Dunia 2026 dimulai. Itu pun sekitar 14 ofisial gagal mendapatkannya.

“Seharusnya kami sudah di sini pekan lalu. Perbedaan waktu 12 jam itu membutuhkan dua pekan penyesuaian,” kata Amir Ghalenoei, pelatih Iran, setibanya di Tijuana pada Minggu (7/6), seperti dikutip dari The Guardian.

Menurut Ghalenoei, da­lam turnamen seperti Piala Dunia, biasanya sebelum urusan teknis, faktor etika dan kemanusiaan menjadi pertimbangan. “Tapi, rupanya tidak demikian yang kami alami,” katanya.

Kapten Iran Ehsan Haj­safi pun memprotes FIFA atas keterlambatan keluarnya visa AS. “Kenapa begitu terlambat?” katanya.

Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) juga tidak dapat menjual tiket kepada para fan. Padahal, seharusnya setiap tim peserta Piala Dunia men­dapatkan alokasi delapan persen tiket.

Alasannya terkait dengan daftar negara yang terkena travel ban tersebut. Nasib serupa juga dialami Haiti, Se­negal, dan Pantai Gading.

FFIRI bahkan sudah sem­pat membuka penjualan tiket tersebut. “Tapi tiba-tiba itu (kuota tiket) ditarik. Kami tidak bisa menyediakan se­lembar tiket pun kepada pendukung kami,” sebut FFIRI dalam pernyataannya.

Kebijakan AS yang berdampak besar pada Piala Dunia 2026 itu mendapatkan kecaman dari Amnesti Internasional. Organisasi tersebut menyebut, kebijakan visa dari AS sudah mencederai spirit Piala Dunia. “Piala Dunia adalah milik kita semua. Tidak ada Piala Dunia tanpa dunia,” ujar Amnesti Internasional. (ren/ttg/jpg)

 

Editor : Adriyanto Syafril
#piala dunia 2026 #fifa