Penulis : Mahyeldi Ansharullah - Gubernur Sumatera Barat
PAGI itu, bersama Komandan Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Dansesko TNI), Marsdya TNI Arif Widianto, beserta para pejabat utama dan Perwira Siswa Sesko TNI yang sedang melaksanakan kuliah kerja di Sumatera Barat, kami berbincang mengenai berbagai tantangan bangsa di masa depan.
Secangkir kopi menjadi pembuka sebuah diskusi yang jauh melampaui persoalan pembangunan daerah.
Setelah diskusi tersebut, muncul dalam benak saya sebuah pertanyaan sederhana namun sangat mendasar, apa sebenarnya kontribusi Sumatera Barat bagi pertahanan nasional Indonesia?
Selama ini, ketika berbicara tentang pertahanan negara, yang terbayang di benak kita adalah tank, kapal perang, pesawat tempur, rudal, dan berbagai kekuatan militer lainnya. Padahal dunia telah berubah.
Di abad ke-21, kekuatan sebuah bangsa tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah alutsista yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga ketahanan energi, ketahanan pangan, ketahanan logistik, ketahanan maritim, serta membangun konektivitas yang mampu menjamin keberlangsungan kehidupan bangsa dalam berbagai situasi. Pandemi Covid-19 dan berbagai gejolak geopolitik dunia, termasuk konflik di Timur Tengah dan Eropa, telah memberikan pelajaran berharga bahwa sebuah negara dapat mengalami guncangan serius bukan karena serangan militer, melainkan karena terganggunya rantai pasok, distribusi energi, dan akses terhadap pangan.
Konflik geopolitik global menunjukkan bahwa energi dapat menjadi instrumen strategis yang menentukan stabilitas sebuah negara. Sementara perubahan iklim, bencana alam, krisis pangan, dan gangguan logistik telah menjadi ancaman nyata yang tidak mengenal batas negara.
Dalam konteks inilah makna pertahanan nasional harus dipahami secara lebih luas. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara menegaskan bahwa pertahanan negara diselenggarakan melalui Sistem Pertahanan Semesta yang melibatkan seluruh sumber daya nasional.
Dengan kata lain, pelabuhan, jalan, kawasan industri, sentra pangan, infrastruktur energi, bahkan konektivitas antarwilayah merupakan bagian penting dari sistem pertahanan bangsa. Dan ketika kita berbicara mengenai posisi strategis Indonesia di masa depan, kita tidak bisa mengabaikan satu wilayah yang selama ini sering luput dari perhatian geopolitik nasional, yaitu provinsi yang kita cintai bersama, Sumatera Barat.
Banyak orang mengenal Sumatera Barat sebagai tanah kelahiran para pemikir besar bangsa. Sejarawan Anhar Gonggong bahkan pernah menyampaikan bahwa sekitar 60 persen tokoh pendiri bangsa berasal dari Sumatera Barat.
Sebagian masyarakat Indonesia mengenal Sumatera Barat sebagai daerah yang menjunjung tinggi falsafah Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah, sebagai destinasi wisata kelas dunia, maupun sebagai daerah penghasil berbagai komoditas pertanian.
Namun dari perspektif geopolitik, Sumatera Barat memiliki identitas lain yang jauh lebih strategis.
Provinsi ini berdiri di garis depan Samudera Hindia. Di saat perhatian Indonesia selama puluhan tahun lebih banyak tertuju ke Selat Malaka, Laut Jawa, maupun kawasan timur Indonesia, sesungguhnya di sebelah barat Nusantara terbentang salah satu jalur laut paling penting di dunia.
Samudera Hindia hari ini bukan lagi sekadar bentangan air yang memisahkan benua-benua. Ia telah menjadi salah satu pusat gravitasi ekonomi dan geopolitik global. Berbagai kajian menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen perdagangan minyak dunia yang diangkut melalui laut melintasi kawasan Samudera Hindia.
Hampir sepertiga perdagangan dunia bergerak melalui jalur-jalur pelayaran yang terhubung dengan kawasan ini. Tidak kurang dari 2,7 miliar penduduk dunia hidup di negara-negara yang mengelilingi Samudera Hindia dan menghasilkan lebih dari sepertiga Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.
Inilah kawasan yang menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. Inilah kawasan yang diproyeksikan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia pada abad ke-21. Dan Sumatera Barat berada tepat di hadapannya.
Karena itu saya meyakini bahwa jika Natuna adalah Beranda Utara Indonesia, maka Sumatera Barat adalah Gerbang Barat Indonesia di Samudera Hindia. Posisi tersebut memberikan konsekuensi sekaligus peluang. Konsekuensi karena Sumatera Barat berada pada jalur strategis yang harus dijaga sebagai bagian dari kedaulatan nasional.
Karena posisi tersebut membuka ruang bagi Sumatera Barat untuk memberikan kontribusi yang jauh lebih besar bagi Indonesia. Kontribusi itu tidak hanya melalui pembangunan daerah, tetapi melalui penguatan ketahanan nasional.
Salah satu kekuatan terbesar yang dimiliki Sumatera Barat adalah keberadaan jaringan pelabuhan strategis yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Di bagian tengah terdapat Pelabuhan Teluk Bayur yang selama lebih dari satu abad menjadi pintu perdagangan utama Pantai Barat Sumatera. Teluk Bayur ini berada dalam Kawasan Bungus yang memiliki Depot BBM Pertamina, Pelabuhan Penyeberangan Mentawai, Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus, dan berbagai fasilitas logistik strategis lainnya.
Sementara di bagian utara terdapat Pelabuhan Teluk Tapang yang akan terus berkembang sebagai gerbang ekspor baru Sumatera Barat, terutama untuk komoditas perkebunan dan industri berbasis sumber daya alam. Ketiga kawasan tersebut sesungguhnya membentuk sebuah sistem logistik maritim yang sangat strategis.
Dalam perspektif pertahanan modern yang saya pahami keberadaan lebih dari satu simpul logistik merupakan prinsip dasar ketahanan nasional. Sebab ketergantungan pada satu pelabuhan utama akan menciptakan kerentanan yang besar ketika terjadi bencana, gangguan operasional, maupun kondisi darurat lainnya.
Karena itu Teluk Tapang, Teluk Bayur dengan kawasan Bungusnya tidak boleh dipandang sebagai infrastruktur ekonomi semata. Ketiganya merupakan bagian dari sistem pertahanan nonmiliter Indonesia di Pantai Barat Sumatera. Potensi tersebut akan semakin kuat apabila didukung oleh konektivitas darat yang memadai.
Di sinilah arti penting pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera yang menghubungkan Sumatera Barat dengan Provinsi Riau. Selama ini Pantai Barat Sumatera dan Pantai Timur Sumatera masih dipisahkan oleh bentangan Pegunungan Bukit Barisan yang megah tetapi menjadi tantangan logistik yang tidak kecil. Ketika ruas Tol Padang - Pekanbaru terwujud secara penuh, maka sesungguhnya yang terjadi bukan sekadar pemangkasan waktu tempuh perjalanan.
Yang terjadi adalah penyatuan dua koridor ekonomi terbesar di Pulau Sumatera. Pantai Barat yang menghadap Samudera Hindia akan terhubung secara langsung dengan Pantai Timur yang menghadap Selat Malaka. Komoditas dari Riau, Sumatera Barat, bahkan Sumatera Utara akan memiliki akses yang lebih cepat menuju pelabuhan-pelabuhan Samudera Hindia. Sebaliknya, berbagai komoditas yang masuk melalui Pantai Barat dapat didistribusikan dengan lebih efisien menuju kawasan timur Sumatera.
Dalam perspektif pertahanan nasional, jalan tol tersebut sesungguhnya merupakan koridor logistik strategis yang menghubungkan dua kawasan geopolitik terpenting di Pulau Sumatera, yaitu Selat Malaka dan Samudera Hindia. Tidak banyak daerah di Indonesia yang memiliki posisi strategis seperti ini.
Namun terdapat satu persoalan penting yang juga perlu mendapat perhatian dalam konteks ketahanan logistik nasional. Salah satu hambatan utama distribusi energi dari Depot BBM Pertamina di Kawasan Bungus menuju berbagai daerah di wilayah timur dan utara Sumatera Barat adalah kondisi infrastruktur jalan yang masih menghadapi tantangan geografis yang tidak ringan.
Jalur distribusi tersebut harus melewati kawasan perbukitan Bukit Barisan yang memiliki topografi curam, tikungan tajam, tanjakan dan turunan ekstrem, serta sejumlah titik yang rentan terhadap longsor dan bencana alam. Dalam perspektif pertahanan modern, kondisi seperti ini merupakan sebuah kerentanan strategis.
Sebab ketika akses logistik terganggu, bukan hanya aktivitas ekonomi yang terdampak, tetapi juga distribusi energi, mobilisasi bantuan kemanusiaan, serta kemampuan negara dalam merespons keadaan darurat. Oleh karena itu, saya memandang bahwa gagasan yang pernah dicetuskan oleh Wali Kota Padang Bapak Fauzi Bahar untuk membangun Terowongan Bungus Pengambiran sepanjang sekitar 4,7 kilometer merupakan sebuah ide yang layak untuk kembali dipertimbangkan serta direalisasikan.
Terowongan ini bukan semata-mata proyek transportasi, tetapi dapat menjadi bagian dari infrastruktur strategis nasional yang memperkuat konektivitas kawasan Bungus dengan pusat pertumbuhan ekonomi Kota Padang dan wilayah hinterland Sumatera Barat.
Dari perspektif ketahanan wilayah, keberadaan terowongan tersebut akan menciptakan jalur alternatif yang lebih aman, lebih cepat, dan lebih andal untuk mendukung distribusi BBM, logistik pelabuhan, aktivitas perikanan, mobilisasi bantuan kebencanaan, serta berbagai kegiatan ekonomi lainnya. Dalam jangka panjang, Terowongan Bungus - Pengambiran dapat menjadi salah satu simpul penting yang memperkuat fungsi Bungus sebagai pusat logistik maritim Pantai Barat Sumatera sekaligus memperkuat kontribusi Sumatera Barat terhadap ketahanan energi dan pertahanan nasional Indonesia.
Apalagi jika pengembangan kawasan Bungus dikaitkan dengan Pelabuhan Teluk Bayur, Pelabuhan Teluk Tapang, Kepulauan Mentawai, serta konektivitas Jalan Tol Padang - Pekanbaru, maka terowongan ini sesungguhnya menjadi bagian dari sebuah sistem besar yang menghubungkan Samudera Hindia dengan Selat Malaka. Dalam perspektif geopolitik, inilah infrastruktur yang tidak hanya melayani kebutuhan daerah, tetapi juga mendukung kepentingan strategis Indonesia di masa depan.
Posisi strategis Sumatera Barat yang menghadap langsung ke Samudera Hindia juga perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas, yaitu peran Indonesia dalam Indian Ocean Rim Association (IORA). IORA yang beranggotakan 23 negara dan mewakili lebih dari sepertiga populasi dunia merupakan organisasi kerja sama yang dibentuk untuk memperkuat keamanan maritim, perdagangan dan investasi, ekonomi biru (blue economy), pengelolaan perikanan, mitigasi bencana, serta konektivitas kawasan Samudera Hindia.
Bagi Indonesia, IORA bukan sekadar forum diplomasi internasional. IORA merupakan instrumen strategis untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim yang berada di persimpangan dua samudera dan dua benua. Melalui IORA, Indonesia memiliki peluang besar untuk memainkan peran yang lebih kuat dalam menjaga stabilitas, keamanan, dan kemakmuran kawasan Samudera Hindia yang saat ini menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia.
Dalam konteks tersebut, Sumatera Barat memiliki posisi yang sangat istimewa. Tidak banyak provinsi di Indonesia yang secara geografis berhadapan langsung dengan Samudera Hindia sekaligus memiliki kombinasi kekuatan berupa pelabuhan internasional, kawasan perikanan samudera, sumber daya kelautan, potensi energi, serta konektivitas yang menghubungkan Pantai Barat dan Pantai Timur Sumatera.
Keberadaan Teluk Bayur, kawasan Bungus, Pelabuhan Teluk Tapang, dan Kepulauan Mentawai sesungguhnya menjadikan Sumatera Barat sebagai salah satu titik paling strategis Indonesia dalam mendukung agenda IORA. Ke depan, Sumatera Barat berpotensi menjadi hub maritim Indonesia di Samudera Hindia, pusat pengembangan ekonomi biru, pusat industri perikanan samudera, pusat logistik kebencanaan, sekaligus pintu gerbang perdagangan Indonesia dengan negara-negara anggota IORA.
Lebih jauh lagi, apabila Jalan Tol Padang–Pekanbaru tersambung secara penuh, maka Sumatera Barat akan memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak wilayah lain di Indonesia, yaitu menjadi koridor yang menghubungkan dua jalur perdagangan internasional sekaligus. Di satu sisi terhubung dengan Samudera Hindia melalui Teluk Tapang, Teluk Bayur, dan Bungus.
Di sisi lain terhubung dengan Selat Malaka melalui Provinsi Riau yang selama ini dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Dengan demikian, Sumatera Barat bukan hanya penting bagi pembangunan daerah, tetapi juga memiliki potensi menjadi simpul strategis Indonesia dalam mewujudkan visi sebagai negara maritim yang kuat sekaligus memperkuat kepemimpinan Indonesia di kawasan Samudera Hindia melalui IORA.
Keunggulan lain Sumatera Barat terletak pada kekayaan sumber daya kelautannya. Perairan Samudera Hindia yang berada di sekitar Sumatera Barat merupakan salah satu habitat utama tuna, cakalang, marlin, dan berbagai jenis ikan pelagis bernilai tinggi.
Namun bagi saya, perikanan bukan sekadar soal ekonomi. Perikanan adalah soal kedaulatan. Semakin aktif nelayan Indonesia beroperasi di lautnya sendiri, semakin kuat kehadiran negara dalam menjaga wilayah perairannya. Karena itu pengembangan Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus dan industri perikanan tangkap harus dilihat sebagai investasi strategis untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, sekaligus menjaga kedaulatan maritim Indonesia.
Ke depan, saya membayangkan lahirnya sebuah Koridor Pertahanan Maritim Pantai Barat Sumatera. Koridor ini menghubungkan Teluk Tapang di utara, Teluk Bayur dengan kawasan Bungus di tengah, Kepulauan Mentawai di garis depan Samudera Hindia, serta diperkuat oleh konektivitas Jalan Tol Padang - Pekanbaru yang menghubungkan Pantai Barat dan Pantai Timur Sumatera.
Koridor ini bukan kawasan militer. Koridor ini adalah sebuah sistem yang mengintegrasikan pelabuhan, logistik, energi, pangan, perikanan, kebencanaan, perdagangan, dan konektivitas dalam satu kesatuan yang memperkuat ketahanan nasional Indonesia. Inilah kontribusi yang dapat diberikan Sumatera Barat. Saya membayangkan suatu saat nanti Sumatera Barat tidak hanya dikenal sebagai Ranah Minang yang kaya budaya dan sejarah, tetapi juga dikenal sebagai Gerbang Barat Indonesia yang menghubungkan Samudera Hindia dengan Selat Malaka, menghubungkan Indonesia dengan negara-negara anggota IORA, serta menjadi salah satu pilar penting dalam sistem pertahanan, logistik, dan kemaritiman nasional.
Allah SWT telah menempatkan Sumatera Barat di tepian Samudera Hindia. Kini tantangannya adalah bagaimana kita mengubah posisi geografis tersebut menjadi kekuatan strategis bagi Indonesia. Semoga Pemerintah Pusat semakin menyadari bahwa membangun Sumatera Barat bukan hanya membangun sebuah provinsi.
Membangun Sumatera Barat berarti memperkuat Gerbang Barat Indonesia. Ketika Gerbang Barat Indonesia semakin kuat, maka semakin kokoh pula pertahanan nasional Republik Indonesia di tengah perubahan geopolitik dunia yang semakin dinamis. (*)
Editor : Adriyanto Syafril