PADEK.JAWAPOS.COM -- Dari Perang Vietnam sampai Perang Balkan, dari palagan melawan ISIS hingga operasi militer di Iran. Di semua perang dari masa ke masa tersebut, pesawat pengebom B-52 Stratofortress milik Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) selalu ikut serta.
Namun, Senin (15/6) lalu, pesawat yang dapat membawa bom nuklir tersebut mengalami kecelakaan justru bukan di medan perang. Satu unit B-52 Stratofortress jatuh dan terbakar sesaat setelah lepas landas dari Edwards Air Force Base, Kern County, California Selatan.
Delapan orang yang berada di dalam pesawat dipastikan tewas. Mengutip BBC, kecelakaan terjadi sekitar pukul 11.20 waktu setempat saat pesawat sedang menjalankan misi uji coba untuk mendukung program modernisasi radar. Tak lama setelah mengudara, pesawat jatuh dan memunculkan kepulan asap hitam pekat yang terlihat dari jarak bermil-mil.
“Hari ini, Pangkalan Angkatan Udara Edwards mengalami tragedi yang mengerikan. Kami kehilangan delapan warga Amerika yang hebat,” kata Wakil Komandan Edwards Air Force Base Kolonel James Hayes dalam konferensi pers, seperti dikutip dari USA Today.
Menurut Hayes, korban terdiri atas personel militer, pegawai sipil pemerintah, dan kontraktor sipil. Di antara korban tewas terdapat dua karyawan Boeing.
Boeing mengonfirmasi kabar tersebut. Namun, perusahaan itu menolak memberikan keterangan mengenai alasan karyawan mereka berada di dalam pesawat militer AS.
Investigasi awal diperkirakan berlangsung sekitar 30 hari, sedangkan penyelidikan mendalam untuk menentukan akar penyebab insiden dapat memakan waktu lebih dari enam bulan.
Akibat kecelakaan tersebut, pihak pangkalan AU AS menutup sementara lapangan udara dan mengalihkan seluruh penerbangan yang hendak mendarat ke bandara lain. Izin kunjungan nonkomersial juga dihentikan hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Pertama sejak 1994
Kecelakaan itu menjadi insiden fatal pertama yang melibatkan B-52 Stratofortress di wilayah AS sejak 1994. Saat itu, sebuah B-52 jatuh ketika melakukan latihan untuk pertunjukan udara di Fairchild Air Force Base, Washington.
Berdasarkan arsip Bureau of Aircraft Accidents Archives yang dikutip USA Today, kecelakaan pada 24 Juni 1994 tersebut terjadi setelah pilot Letkol Arthur “Bud” Holland melakukan manuver berbahaya pada ketinggian rendah yang melanggar berbagai prosedur penerbangan. Empat awak pesawat tewas dalam insiden itu.
Sementara itu, pada 2016 sebuah B-52 juga pernah jatuh saat lepas landas dari Andersen Air Force Base di Guam. Namun, seluruh tujuh awak berhasil selamat.
Menurut Air Force Global Strike Command, pesawat itu mampu terbang hingga ketinggian 50 ribu kaki dengan kecepatan subsonik serta membawa senjata nuklir maupun amunisi konvensional berpemandu presisi.
Pesawat yang pertama kali beroperasi pada era Perang Dingin itu masih menjadi tulang punggung kekuatan pengebom jarak jauh AS hingga saat ini, termasuk dalam Operasi Epic Fury melawan Iran.
Insiden terjadi di Edwards Air Force Base, pangkalan militer yang terletak sekitar 160 kilometer di utara Los Angeles. Pangkalan yang berdiri sejak 1942 di kawasan Gurun Mojave tersebut dikenal sebagai pusat pengujian pesawat dan teknologi penerbangan militer AS.
Gubernur California Gavin Newsom menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, “Hati dan pikiran saya bersama para korban, keluarga mereka, dan seluruh komunitas Edwards Air Force Base yang terdampak tragedi ini,” ujarnya. (lyn/ttg/jpg)
Editor : Adriyanto Syafril