PADEK.JAWAPOS.COM -- Ledakan yang diduga berasal dari bom rakitan di lingkungan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Selasa (14/7), menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan. Di balik peristiwa itu tersingkap persoalan yang selama ini kerap luput dari perhatian, yakni praktik perundungan (bullying) yang diduga dialami seorang siswa.
Terduga pelaku peledakan, diduga selama ini menjadi korban perundungan oleh teman-temannya. Ketua DPRD Kota Padang Muharlion menegaskan, peristiwa di MAN 3 Padang merupakan alarm keras yang tidak boleh diabaikan. Menurutnya, setiap sekolah memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
“Apabila benar ada unsur perundungan yang dialami siswa hingga memicu tindakan berbahaya seperti ini, maka kita semua harus melakukan introspeksi. Bullying yang dibiarkan berlarut-larut dapat menimbulkan tekanan psikologis yang serius dan berpotensi melahirkan tindakan yang tidak terduga. Karena itu, pencegahan harus menjadi prioritas utama,” tegasnya kepada Harian Rakyat Sumbar (grup Padang Ekspres), kemarin.
Menurut Muharlion, penanganan kasus tersebut tidak boleh berhenti pada proses penyidikan terhadap dugaan tindak pidana semata. Yang tidak kalah penting adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan, pembinaan karakter, serta mekanisme perlindungan siswa di lingkungan pendidikan.
Ia meminta seluruh pihak, mulai dari Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, pihak sekolah, guru, orang tua, hingga masyarakat, menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi bersama agar kasus serupa tidak kembali terjadi.
“Jangan sampai kita hanya sibuk mencari siapa yang salah setelah kejadian terjadi. Yang lebih penting adalah membangun sistem yang mampu mendeteksi dan menyelesaikan kasus perundungan sejak dini sebelum menimbulkan korban baru atau memicu tindakan yang membahayakan banyak orang,” tegas dia.
Politisi dari Partai Keadilan Sejahaterai ini mengingatkan, banyak korban bullying memilih memendam penderitaan yang mereka alami. Rasa takut, malu, dan khawatir akan mendapat tekanan lebih besar membuat mereka enggan bercerita kepada guru maupun orang tua. Akibatnya, persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan sejak awal justru berkembang menjadi konflik yang lebih serius.
Karena itu, DPRD Kota Padang mendorong seluruh sekolah memperkuat pendidikan karakter, mengoptimalkan peran guru bimbingan dan konseling, serta menyediakan kanal pengaduan yang mudah diakses, aman, dan menjamin kerahasiaan identitas korban.
“Kami berharap setiap sekolah memiliki mekanisme penanganan bullying yang jelas, cepat, dan berpihak kepada korban. Guru, wali kelas, konselor, dan orang tua harus bekerja bersama. Jangan ada lagi siswa yang merasa sendirian menghadapi tekanan di lingkungan sekolah,” katanya.
Dia menilai, sudah saatnya sekolah tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memastikan setiap peserta didik tumbuh dalam lingkungan yang sehat secara emosional. Menurutnya, pendidikan sejatinya bukan hanya membentuk anak yang cerdas, tetapi juga berkarakter, saling menghargai, dan mampu menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan.
“Peristiwa di MAN 3 Padang harus menjadi titik balik. Kita tidak boleh lagi menganggap bullying sebagai persoalan biasa. Ketika perundungan dibiarkan, dampaknya bisa meluas dan merugikan banyak pihak. Semua elemen harus bergerak bersama memastikan sekolah benar-benar menjadi tempat yang aman bagi setiap anak untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depannya,” tutup Muharlion.
Situasi Tetap Kondusif
Sementara itu, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat memastikan kondisi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kota Padang tetap kondusif dan kegiatan pembelajaran berjalan normal setelah adanya bunyi dentuman di madrasah. Kepastian tersebut disampaikan setelah Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Barat Mustafa bersama Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Tangusli dan tim meninjau langsung kondisi madrasah pada Selasa (14/7).
Mustafa mengatakan, peninjauan dilakukan segera setelah menerima informasi mengenai peristiwa yang terjadi di lingkungan madrasah. Dari hasil pemantauan di lapangan, aktivitas warga madrasah berlangsung dengan baik dan situasi tetap terkendali.
“Kami langsung turun ke lokasi untuk memastikan kondisi madrasah. Alhamdulillah, situasi tetap kondusif dan kegiatan di madrasah berjalan sebagaimana mestinya,” ujar Mustafa.
Ia menjelaskan, kegiatan Mata Muda yang sedang berlangsung di MAN 3 Kota Padang tetap terlaksana. Dari hasil pemantauan di madrasah, tidak terlihat adanya kepanikan maupun gangguan yang berdampak terhadap keseluruhan proses belajar di madrasah.
Menurut Mustafa, saat ini proses penanganan peristiwa tersebut sepenuhnya telah diserahkan kepada Kepolisian Daerah Sumatera Barat. Kanwil Kemenag Sumbar menghormati proses penyelidikan yang sedang dilakukan aparat dan terus berkoordinasi dengan Kantor Kementerian Agama Kota Padang, pihak madrasah, serta unsur terkait.
“Kami memercayakan sepenuhnya proses penanganan kepada aparat kepolisian. Sementara itu, Kementerian Agama fokus memastikan layanan pendidikan tetap berjalan dan warga madrasah memperoleh pendampingan yang diperlukan,” katanya.
Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, Kanwil Kemenag Sumbar belum menemukan indikasi adanya siswa yang mengalami trauma akibat peristiwa tersebut. Meski demikian, madrasah tetap menyiapkan langkah-langkah pendampingan apabila terdapat siswa yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Pendampingan dilakukan secara bertahap melalui kepala madrasah, guru, wali kelas, dan guru Bimbingan Konseling (BK). Siswa juga akan diberikan penguatan agar tetap tenang, tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, serta tetap menjalani aktivitas belajar seperti biasa.
Apabila dalam perkembangannya ditemukan siswa yang membutuhkan pendampingan psikososial, Kanwil Kemenag Sumbar akan berkoordinasi dengan tenaga profesional, termasuk psikolog dan pihak terkait, untuk memberikan layanan trauma healing sesuai kebutuhan. Mustafa menegaskan, proses belajar mengajar di MAN 3 Kota Padang akan tetap berlangsung sebagaimana biasa. Sebagai bagian dari upaya membangun kembali rasa aman dan nyaman di lingkungan madrasah, kegiatan pada hari berikutnya akan diawali dengan senam bersama, outbound, serta pembinaan dari jajaran Polsek Koto Tangah.
Menurutnya, langkah tersebut bukan sekadar mengembalikan rutinitas belajar, tetapi juga membangun kembali rasa percaya diri siswa agar dapat beraktivitas secara normal di lingkungan madrasah. “Kami ingin memastikan seluruh siswa merasa aman dan nyaman berada di madrasah. Yang paling penting saat ini adalah mengembalikan suasana belajar yang kondusif melalui pendampingan, pembinaan, dan komunikasi yang baik antara madrasah, orang tua, serta aparat terkait,” tutur Mustafa.
Kanwil Kemenag Sumbar juga mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan bijak dalam menerima informasi. Masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai maupun menyebarluaskan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Kakanwil bersama jajarannya juga memberikan kesempatan kepada aparat penegak hukum untuk menyelesaikan proses penyelidikan sesuai ketentuan yang berlaku. “Kami berharap semua pihak dapat bersama-sama menjaga suasana yang kondusif. Mari kita dukung madrasah agar tetap menjadi tempat yang aman, nyaman, dan kondusif bagi peserta didik untuk belajar dan berkembang,” ajak Mustafa. (edg/rpg/yud)
Editor : Adriyanto Syafril