Pemprov Sumbar Percepat Rehabilitasi Pascabencana, Gubernur: Jangan Tunda Kelola TKD Rp 534 Miliar

Willian. • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 08:50 WIB
Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah memimpin Rapat Monitoring dan Evaluasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Auditorium Gubernuran Sumbar, Selasa (21/7). (DOK PEMPROV SUMBAR)
Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah memimpin Rapat Monitoring dan Evaluasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Auditorium Gubernuran Sumbar, Selasa (21/7). (DOK PEMPROV SUMBAR)

PADEK.JAWAPOS.COM -- Pemerintah Provinsi Su­matera Barat berkomitmen mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana melalui optimalisasi tam­­bahan Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat.

Pemprov Sumbar memperoleh alokasi TKD sebesar Rp 534 miliar yang akan dilaksanakan oleh 23 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk mempercepat pemulihan infrastruktur, pelayanan publik, perekonomian ma­syarakat, sekaligus memperkuat mitigasi bencana.

Komitmen tersebut me­ngemuka dalam Rapat Monitoring dan Evaluasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Auditorium Gubernuran Sumbar, Selasa (21/7).

Rapat dihadiri Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansha­rullah, jajaran Kementerian Dalam Ne­geri, kementerian dan lembaga terkait, serta kepala daerah dari kabupaten dan kota terdampak bencana.

Mahyeldi menegaskan, tambahan TKD menjadi instrumen strategis untuk mem­percepat pemulihan daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan ma­sya­rakat terdampak bencana. “Percepatan alo­kasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ma­syarakat melalui program-program yang tepat sasaran. Karena itu seluruh daerah harus mem­percepat pelaksanaan kegiatan sehingga manfaatnya segera dirasakan,” ujarnya.

Ia menekankan seluruh pemerintah daerah harus me­ngoptimalkan penggu­naan anggaran melalui perenca­naan yang matang, pelaksanaan yang tepat sasaran, serta pengawasan berkelanjutan agar hasil pembangunan segera dirasakan ma­syarakat.

Selain itu, Pemprov Sumbar men­dorong pemerintah kabupaten dan kota melakukan pemetaan kebutuhan secara menyeluruh, menyusun skala prioritas, serta mendokumentasikan setiap tahapan pelaksanaan sebagai bahan evaluasi ber­kala.

“Kita ingin progresnya je­las. Dengan demikian setiap persoalan dapat dipetakan dan diselesaikan secara bertahap sehingga target pe­mulihan bisa tercapai lebih cepat,” kata mantan wali kota Padang itu.

Mahyeldi meminta seluruh pemerintah daerah mem­perkuat komunikasi pu­blik dengan menyampaikan per­kembangan rehabilitasi secara terbuka kepada masyarakat.

“Seluruh pekerjaan pemerintah perlu dipublikasikan sehingga ma­syarakat mengetahui bahwa proses pemulihan terus berjalan. Keterbukaan informasi menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik,” tekan dia.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Bidang Keuangan bersama Kasubdit Perencanaan Keuangan Daerah Kemendagri Fernando Siagian memastikan pemerintah pusat telah menuntaskan penyaluran tam­bahan TKD kepada seluruh pemerintah daerah terdampak bencana.

Menurutnya, tambahan TKD berbeda dengan Dana Alokasi Umum (DAU) karena disalurkan tanpa persyaratan sehingga dapat langsung dimanfaatkan untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Januari ditetapkan, Februari mulai ditransfer, Maret berlanjut, dan pada April seluruh dana sudah berada di rekening kas daerah. Artinya, pemerintah pusat telah me­nye­lesaikan kewajibannya,” katanya.

Ia meminta pemerintah daerah segera merealisasikan anggaran tersebut agar proses pemulihan tidak tertunda. “Kami memahami ada ta­ha­pan perencanaan dan pengadaan. Tetapi harapan kami, dana ini segera dibelanjakan. Jangan menunggu terlalu lama karena mas­ya­rakat membutuhkan hasil nyata,” tegasnya.

Fernando menekankan, tambahan TKD hanya dapat digunakan untuk percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi, pemulihan ekonomi ma­sya­rakat, serta penguatan mitigasi bencana sesuai Surat Edaran Menteri Dalam Ne­geri Nomor 900 Tahun 2026. Dana tersebut tidak boleh dialihkan untuk kegiatan di luar penanganan kebenca­naan.

Ia mengingatkan pemerintah daerah agar mulai mem­perkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana berikutnya, termasuk dam­pak musim kemarau dan fenomena El Nino yang di­perkirakan mencapai puncaknya pada September men­datang.

“Mitigasi harus mu­lai disiapkan sejak se­karang. Penanganan bencana tidak boleh lagi bersifat reaktif, tetapi harus direncanakan sejak dini,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Staf Khusus Menteri Dalam Negeri Bidang Politik dan Media Kastorius Sinaga mengapresiasi capaian Sumbar dalam percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Berdasarkan hasil monitoring Satgas Nasional Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Sumbar menjadi satu dari tiga provinsi dengan progres pemulihan tercepat di Indonesia.

Sebanyak 13 dari 16 ka­bupaten dan kota terdampak telah kembali menjalankan aktivitas pemerintahan dan kemasyarakatan secara normal. Kabupaten Tanah Datar sedang menuju kondisi normal, sedangkan Kabupaten Agam dan Padang Pariaman masih memerlukan perha­tian khusus.

“Kami mengapresiasi capaian Sumatera Barat. Berbagai indikator menunjukkan hasil yang sangat baik, terutama pada sektor pertanian yang menjadi salah satu kinerja terbaik secara nasional,” katanya.

Kastorius menyebut, rehabilitasi lahan sawah di Sumbar telah mencapai sekitar 98 persen. Sebagian besar lahan yang diperbaiki bahkan telah kembali memasuki musim tanam. Capaian tersebut menunjukkan kuatnya kolaborasi pemerintah daerah, masyarakat, kelompok tani, dan pemerintah pusat dalam mempercepat pemulihan pascabencana.

Meski demikian, pemerintah pusat tetap mendorong percepatan pembangunan hunian tetap, penyelesaian penyaluran jatah hidup (ja­dup), serta normalisasi sungai sebagai bagian penting dari proses rehabilitasi.

“Kami berharap seluruh pro­ses rehabilitasi terus dipercepat sehingga ma­sya­rakat benar-benar merasakan manfaatnya. Pemerintah pusat akan terus mendampingi dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah agar seluruh program berjalan selaras,” ucapnya.

Secara nasional, pemerintah pusat telah menuntaskan penyaluran tambahan TKD kepada seluruh daerah terdampak bencana di Pulau Sumatera dengan total anggaran mencapai Rp 10,6 triliun.

Dari jumlah tersebut, Sumbar menerima alokasi sekitar Rp 2,71 triliun yang telah disalurkan secara bertahap sejak Februari hingga April 2026 dan kini seluruhnya telah berada di rekening kas pemerintah provinsi mau­pun pemerintah kabupaten dan kota.

Khusus Pemerintah Pro­vinsi Sumatera Barat memperoleh tambahan TKD se­besar Rp 534 miliar yang akan dikelola oleh 23 OPD. Alokasi terbesar berada pada Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) sebesar Rp 195 miliar, Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang Rp 158 miliar, Dinas Pendidikan Rp26 miliar, Dinas Sosial Rp 15 miliar, Dinas Pertanian Rp 15 miliar, serta sisanya tersebar di OPD lainnya.

Seluruh anggaran tersebut diharapkan segera direalisasikan sehingga percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dapat berjalan optimal serta manfaatnya segera dirasakan masyarakat. (adv)

Editor : Adriyanto Syafril
Transfer ke Daerah (TKD) pemprov sumatera barat