Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Muhammad Fadli: Penulis Muda Solok yang Menyatukan Sastra dan Budaya

Muhammad Reza Bayu Permana • Selasa, 28 Oktober 2025 | 21:00 WIB

Muhammad Fadli, salah satu penggagas Solok Muda, dan peneliti di Cultural Studies. (Dok. Pribadi)
Muhammad Fadli, salah satu penggagas Solok Muda, dan peneliti di Cultural Studies. (Dok. Pribadi)
PADEK.JAWAPOS.COM—Sore di Solok kerap menghadirkan ketenangan yang menumbuhkan renungan. Di balik keteduhan itu, ada sosok muda yang terus menulis, membaca, dan berpikir tentang budaya yang kian berubah.

Muhammad Fadli SHum MSi, penulis muda sekaligus budayawan asal Solok, yang menapaki perjalanan intelektual dan kreatif selama lebih dari lima tahun dalam dunia sastra dan kebudayaan.

“Bagi saya, menulis dan memahami budaya bukan hanya pekerjaan, tapi tanggung jawab untuk merekam dan menafsirkan zaman,” ujarnya suatu siang di sela kegiatannya.

Meretas Jalan dari Sastra ke Budaya

Fadli menempuh pendidikan di bidang Sastra dan Kebudayaan, dunia yang kemudian membentuk cara pandangnya tentang manusia, seni, dan perubahan sosial.

Dari ruang kuliah hingga panggung pertunjukan, ia tumbuh sebagai sastrawan muda yang menjadikan karya sebagai bentuk refleksi atas kehidupan masyarakat.

Ketekunannya melahirkan berbagai karya tulis—mulai dari naskah monolog “Orang Kampung,” “Orang Kota,” hingga “Orang Rantau”, yang menggambarkan dinamika manusia dalam perubahan sosial.

Ia juga menulis lakon “Sijantang” dan “Cemas”, serta sejumlah artikel dan penelitian akademik seperti “Semiotika Charles Sanders Peirce dalam Film 5CM” dan skripsinya tentang “Komoditifikasi Budaya dalam Naskah Drama Orang-Orang Bawah Tanah Karya Wisran Hadi.”

Ketika menempuh studi magister, ia meneliti fenomena budaya lokal dalam konteks pariwisata melalui tesis berjudul “Komoditifikasi Tato Mentawai dalam Praktik Pariwisata di Kecamatan Siberut Selatan.”

Penelitiannya membuka ruang diskusi baru tentang bagaimana identitas lokal dipertemukan dengan arus ekonomi global.

Dari Panggung ke Pemikiran

Selain menulis, Fadli aktif mementaskan karya-karya teater dan monolog. Ia tak sekadar menulis naskah, tetapi juga menghidupkannya di panggung—membiarkan penonton merasakan denyut realitas sosial yang ia tangkap.

Monolog Orang Rantau sempat tampil dalam Dies Natalis Universitas Andalas, sementara Orang Kota dipentaskan di Gedung Dinas Kebudayaan Sumatera Barat.

Karya teater lain seperti Orang-Orang Setia dan ROH juga mendapat sambutan hangat di Gedung Kebudayaan Sumatera Barat dan Fakultas Ilmu Budaya Unand.

Bagi Fadli, panggung bukan sekadar tempat bermain peran, melainkan ruang untuk berdialog dengan masyarakat.

“Setiap pertunjukan adalah cara saya mengajak orang berpikir tentang siapa kita dan ke mana budaya ini bergerak,” tuturnya.

Menggerakkan Anak Muda Lewat Solok Muda

Tak berhenti di karya pribadi, Fadli juga menggagas organisasi Solok Muda, gerakan anak muda yang mendorong kreativitas dan pemikiran kritis di bidang budaya, masyarakat, dan pendidikan.

Ia ingin menghadirkan ruang bagi generasi muda Solok untuk mengekspresikan ide dan mengenali akar budayanya sendiri.

“Anak muda harus punya ruang untuk berpikir dan berkreasi. Solok Muda adalah bentuk kecil dari mimpi itu,” katanya dengan mantap.

Menulis, Merekam, dan Menghidupkan Budaya

Kini, karya Fadli tersebar di berbagai media seperti Langgam.id, Lembaga Suri, dan Haluan, baik berupa artikel, puisi, maupun cerpen.

Di setiap tulisannya, terselip semangat untuk menghidupkan kembali kesadaran budaya lokal di tengah modernitas.

Bagi Muhammad Fadli, menulis bukan sekadar menghasilkan teks—melainkan merekam jejak perubahan zaman, agar generasi mendatang tidak kehilangan arah pada akar budayanya. (M Reza Bayu Permana/cr2)

Editor : Hendra Efison
#penulis muda #Solok Muda #Muhammad Fadli #budaya lokal