Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Budaya Minangkabau jadi Modal Pembangunan Sumbar

Adriyanto Syafril • Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:15 WIB
Ketua DPRD Sumbar, Muhidi saat menghadiri Forum Silaturahmi MDNG 2026 yang digelar di Auditorium Universitas YARSI, baru-baru ini. (DOK DPRD SUMBAR)
Ketua DPRD Sumbar, Muhidi saat menghadiri Forum Silaturahmi MDNG 2026 yang digelar di Auditorium Universitas YARSI, baru-baru ini. (DOK DPRD SUMBAR)

PADEK.JAWAPOS.COM - Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat, Muhidi, mengajak seluruh perantau Minangkabau di dalam maupun luar negeri untuk ikut berkontribusi nyata dalam pembangunan daerah.

Ajakan tersebut disampaikan Muhidi saat menjadi salah satu pemateri dalam Forum Silaturahmi Minangkabau Diaspora Network Global (MDNG) 2026 yang digelar di Auditorium Universitas YARSI, baru-baru ini.

Dalam forum yang dihadiri tokoh nasional asal Minangkabau tersebut, Muhidi menegaskan bahwa makna “pulang kampung” tidak selalu harus dimaknai secara fisik. Menurutnya, kontribusi terhadap kampung halaman dapat diwujudkan melalui berbagai cara, mulai dari pemikiran, investasi, transfer pengetahuan, hingga penguatan jejaring.

“Pulang tidak selalu harus dimaknai secara fisik. Pulang dapat diwujudkan melalui kontribusi pemikiran, investasi, transfer pengetahuan, penguatan jejaring, serta perhatian dan kepedulian terhadap pembangunan kampung halaman,” ujar Muhidi.

Muhidi menyebut Sumatera Barat memiliki potensi besar di berbagai sektor strategis seperti pertanian, pariwisata, perdagangan, hingga ekonomi kreatif. Selain itu, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki daerah juga menjadi modal penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Namun demikian, ia menilai potensi besar tersebut belum sepenuhnya mampu memberikan nilai tambah optimal bagi pembangunan ekonomi daerah.

Karena itu, Muhidi mengajak para pengusaha dan diaspora Minangkabau untuk bersama-sama membangun Ranah Minang agar lebih maju, mandiri, serta mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

Dalam kesempatan tersebut, Muhidi juga menekankan pentingnya budaya Minangkabau sebagai modal sosial dalam menghadapi tantangan globalisasi.
Menurutnya, nilai-nilai budaya seperti Saiyo Sakato, semangat gotong royong, serta kuatnya hubungan kekerabatan masyarakat Minang merupakan kekuatan besar yang tidak dimiliki semua daerah.

“Budaya Minangkabau adalah modal pembangunan yang sangat besar. Nilai Saiyo Sakato, gotong royong, dan jaringan kekerabatan orang Minang harus menjadi kekuatan bersama dalam menghadapi tantangan global,” tegasnya.

Ia juga menilai diaspora Minangkabau yang tersebar di berbagai daerah dan negara memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan pembangunan Sumatera Barat di masa depan.

 

Muhidi mengajak masyarakat Minang untuk mengubah cara pandang lama terkait brain drain menjadi brain gain, yakni menjadikan keberhasilan para perantau sebagai energi positif untuk membangun daerah asal.

“Oleh karena itu, kita perlu mengubah cara pandang dari brain drain menjadi brain gain. Keberhasilan dan pengalaman para perantau harus menjadi energi positif untuk kemajuan Ranah Minang,” ujarnya.

Forum Silaturahmi MDNG 2026 turut dihadiri sejumlah tokoh nasional dan pejabat negara asal Minangkabau. Di antaranya Fadli Zon, Yassierli, Oesman Sapta Odang, Fasli Jalal, serta Burmalis Ilyas.

Selain forum silaturahmi, kegiatan juga diramaikan dengan pameran buku-buku Minangkabau sebagai upaya menghidupkan kembali tradisi intelektual dan literasi budaya masyarakat Minang.

Pada kesempatan tersebut, penghargaan Pencapaian Sepanjang Hayat diberikan kepada Taufiq Ismail atas kontribusinya bagi sastra Indonesia dan dunia. Penghargaan itu juga disebut sebagai langkah awal untuk mendorong pengakuan internasional Nobel Prize bidang sastra.

Penghargaan Tokoh Penulis Buku Adat dan Budaya Minangkabau juga diberikan kepada Rais Yatim dan Buya Mas’oed Abidin atas dedikasi mereka dalam menjaga serta mempromosikan budaya Minangkabau.

Sementara penghargaan Tokoh Filantropi diberikan kepada Jurnalis Udin, Nurhayati Subakat, dan Yendra Fahmi atas kontribusi mereka di bidang pendidikan, sosial kemasyarakatan, pembangunan rumah ibadah, penanggulangan bencana, serta dukungan terhadap kegiatan MDNG.

Dalam forum tersebut, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, turut memaparkan sejumlah tantangan pembangunan yang masih dihadapi Sumbar.

Menurut Mahyeldi, kualitas pembangunan dan daya saing sumber daya manusia di Sumbar masih perlu ditingkatkan. Selain itu, ketahanan pangan, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, serta penguatan infrastruktur dasar dan sosial ekonomi juga menjadi tantangan besar.

 

Ia menilai pertumbuhan ekonomi daerah saat ini belum sepenuhnya inklusif dan berdaya saing. Ketangguhan daerah terhadap bencana alam serta pengelolaan infrastruktur yang inklusif juga dinilai masih perlu dibenahi.

Di bidang sosial budaya, Mahyeldi menyebut penguatan masyarakat yang beradat, harmonis, religius, dan berbasis keluarga berkualitas masih membutuhkan perhatian serius.

Selain itu, daya saing sektor pariwisata dan ekonomi kreatif juga dinilai masih rendah untuk menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Tak hanya itu, tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan pelayanan publik yang efektif juga menjadi pekerjaan rumah yang harus terus diperbaiki.

Mahyeldi berharap seluruh tokoh perantau Minang dapat bersinergi dengan masyarakat di kampung halaman untuk membangun tanah Minangkabau.

“Dalam kesempatan ini, kami sangat berharap kepada seluruh tokoh perantau yang hadir untuk bisa bersama-sama dengan kami yang ada di ranah membangun tanah Minangkabau yang kita cintai ini,” tutup Mahyeldi. (rel)

Editor : Adriyanto Syafril
#Budaya Minangkabau #dprd sumbar