”Bankir” Menjadi Menteri Kesehatan

ilustrasi kesehatan. (net)

Niki Lukviarman
Guru Besar Corporate Governance Unand

Reshuffle kabinet yang diumumkan Presiden RI Joko Widodo pada Selasa (22/12), menyisakan pertanyaan dan perdebatan panjang di masyarakat. Perdebatan terutama ditujukan terhadap posisi menteri kesehatan yang diisi oleh seorang bankir, bukan oleh seorang ahli kesehatan atau dokter sebagaimana biasanya.

Budi Gunadi Sadikin yang dipercaya presiden,adalah seorang bankir yang memulai karir profesionalnya dari IBM, lalu di sejumlah perbankan dan terakhir dipercaya sebagai Dirut Bank Mandiri selama periode 2013-2016. Selanjutnya, karir Budi adalah Senior Adviser di Kementerian BUMN, lalu diangkat sebagai Dirut PT Inalum. Posisi terakhirnya adalah Wakil Menteri BUMN sekaligus Ketua Satgas Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Adalah wajar jika ada kalangan yang menganggap aneh atau katakanlah mempertanyakan pengangkatan alumni Fisika Nuklir ITB itu sebagai menteri kesehatan. Apalagi latar belakang karir profesional Budi Gunadi yang memiliki rekam jejak panjang justru di industri perbankan.

Di antara penyebabnya adalah kebiasaan bahwa menteri kesehatan berasal dari kalangan berlatar belakang kesehatan pula, seperti menteri kesehatan yang digantikannya. Pandangan ini masih menempatkan latar belakang teknis-sektoral sebagai dasar penunjukan seseorang untuk menjadi pemimpin di kementerian.

Sejatinya menteri adalah jabatan strategis. Untuk jabatan ini lebih dibutuhkan keahlian manajerial (managerial skill) dibandingkan keahlian teknis. Terutama kemampuan kepemimpinan (leadership skill) dalam mengawal dan mengarahkan Kementrian yang menjadi tanggung jawabnya.

Hal ini yang menjadi alasan kenapa keahlian dan latar belakang sektoral bukan sebagai pertimbangan utama dalam menentukan pilihan seseorang untuk menjabat posisi strategis. Untuk kegiatan yang bersifat teknis-sektoral di setiap kementrian, terdapat beberapa Direktur Jenderal (dirjen) sebagai pembantu Menteri, yang lebih mengutamakan kemampuan sektoral.

Jabatan sebagai Wakil Menteri BUMN sekaligus Ketua Satgas Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) merupakan jabatan strategis bagi Budi Gunadi. Karena, jabatan tersebut dengan kapabilitasnya menjadi laluan bagi Budi untuk diangkat sebagai menteri kesehatan.

Sebagai Ketua Satgas PENB tentunya sudah terbiasa memberikan masukan pada Presiden dan tim penanggulangan wabah Covid 19 mengenai berbagai hal yang bersifat strategis cakupannya. Apalagi menteri kesehatan yang lama dan memiliki latar belakang dokter itu, dianggap tidak kapabel dalam berbagai hal terkait pandemi ini. Sehingga, tidak terdengar bentuk kebijakan sebagai arahan dari seorang menteri bahkan setelah vaksin Covid-19 sudah di depan mata.

Baca Juga:  Mikoriza, Solusi Optimal Serapan Hara Esensial pada Tanah Ultisol

Sebagai Ketua Satgas PEN, Budi memiliki akses tidak terbatas kepada Presiden atau minimal ke orang lingkaran terdalam untuk memberikan masukan terhadap kebijakan (policy) terkait penanganan Covid 19. Presiden dan orang terdekatnya telah paham dengan kemampuan Budi untuk bekerja dalam satu tim (team work) dalam berbagai hal terkait penanganan wabah tersebut.

Apalagi dengan kedatangan vaksin, berbagai hal yang memerlukan penanganan segera dan urgent terkait vaksinasi sudah harus segera diselesaikan. Misalnya; dasar hukum vaksinasi, kelancaran izin dari BPOM, sertifikat halal dari MUI dan tugas berat lainnya menunggu pekerjaan menteri kesehatan baru.

Kuat diduga bahwa penunjukan Budi Gunadi sudah dipersiapkan sejak awal. Misalnya, dia diutus pemerintah ke Jenewa dan London untuk melobi sejumlah produsen vaksin Covid 19. Selanjutnya, menyusul kabar bahwa Budi Gunadi diminta untuk berdiskusi dengan berbagai stakeholder yang bergerak dalam bidang kesehatan.

Tegasnya berbagai tugas sebagai menteri kesehatan, khususnya yang terkait dengan penanganan wabah Covid-19 telah dijalani Budi. Selanjutnya, kita berharap agar manajemen pandemi ini dapat disiapkan secara lebih baik oleh Kementerian Kesehatan. Khususnya dalam mengeksekusi keputusan pemerintah untuk membagikan vaksin secara gratis dalam cakupan besar sertadilaksanakan secara cepat dan tepat.

Untuk itu tidak ada yang salah dalam pengangkatan Budi Gunadi sebagai menteri kesehatan. Terutama, melihat rekam jejak yang bersangkutan sebagai seorang profesional dengan kemampuan manajerialnya sebagai bankir handal. Berbagai posisi strategis di lembaga sebelumnya telah diemban Budi dengan baik dan tanpa cacat.

Kita masih ingat gebrakan yang dilakukan oleh Ignasius Jonan, seorang bankir yang juga telah berhasil mengubah wajah perkeretaapian di Republik ini ketika memimpin PT KAI. Kita berharap capaian yang samadengan skala dan tingkat urgensi lebih besar, juga akan diraih oleh Budi Gunadi. Hanya saja pekerjaan rumah Budi Gunadi sebagai menteri kesehatan jauh lebih bersifat darurat, berskala massif, lintas sektoral dan segera. Kita tunggu gebrakan ”bankir” sebagai menteri kesehatan. (*)

Previous articleKomposisi Terbaik Pasca-Kasus Dua Menteri
Next articleEkonomi RI masih Dihantui Covid-19