Solsel semakin Memperketat Pintu Perbatasan

TNI-Polri melakukan pemeriksaan terhadap mobil box sembako di pos perbatasan Solsel-Solok guna memastikan tidak ada mobil dan sepeda motor di dalamnya. (Arditono-Padang Ekspres)

Aparat TNI-Polri semakin bertindak tegas di pos perbatasan sesuai standar operasional prosedur (SOP) pembatasan sosial berskala besar (PSBB), menyusul terinfeksinya warga Solok Selatan (Solsel) oleh korona. Ratusan kendaraan pribadi, bus, truk yang mau masuk wilayah Solsel di sejumlah titik perbatasan, disuruh balik kanan lagi.

Mobil box membawa sembako seluruhnya diperiksa. Tindakan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada mobil dan sepeda motor di dalamnya. Termasuk, pemeriksaan kartu tanda penduduk (KTP). ”Pemudik yang memaksakan diri pulang, silakan putar arah balik lagi. Kalau mereka memaksa masuk, kita akan melakukan tindakan tegas,” tegas Kapolres Solsel AKBP Imam Yulisdianto kepada Padang Ekspres saat memantau kondisi pos perbatasan Solsel-Solok.

Tidak ada kasihan lagi bagi perantau, karena pemerintah pusat hingga Pemkab Solsel telah mengimbau melalui media cetak, online dan elektronik agar tidak mudik dulu. Tapi, masih ada yang tidak mau mendengarkan. ”Di pos perbatasan, kendaraan yang dibolehkan masuk tetap diperiksa. Termasuk, mobil box pengangkut sembako, mobil alat medis, mobil pemerintah dan ambulans,” tegasnya. Mulai dari pos perbatasan Solsel-Solok, Solsel-Kerinci Jambi, Solsel-Dharmasraya dan Solsel-Muarobungo, Jambi.

”Kendaraan ngetem dan disuruh balik lagi. Jangan harap bisa masuk ke wilayah Solsel,” tukasnya. Sebanyak 31 personel Polri dan 12 TNI, tambah dia, siap menjaga pintu masuk perbatasan selama 24 jam dan diberlakukan tindakan tegas. Meskipun keluarga TNI-Polri termasuk keluarga pejabat daerah, tambah Wakapolres Solsel Kompol Ediwarman, tidak boleh menerobos masuk. ”Kita akan ambil tindakan tegas,” ungkapnya.

Perwira Penghubung (Pabung) Kodim 0309 Solok, Mayor Infantri Togar Harahap menegaskan, 12 personel TNI bersiaga di perbatasan bersama Polri. ”Jadi, TNI-Polri komit untuk melakukan pelarangan keras mobil masuk dan keluar daerah Solsel ini,” terangnya.

Pemkab Solsel Tambah Tiga Pos Perbatasan Kerap Dijadikan Jalan Tikus Oleh Pengendara
Sementara Plt Bupati Solsel Abdul Rahman kepada Padang Ekspres, kemarin (7/5) juga menegaskan, tidak ada lagi toleransi dan kasihan terhadap perantau yang ingin masuk ke Solsel. Bahkan, pihaknya sudah menambah tiga pos jalur tikus yang memungkinkan perantau atau warga luar daerah masuk secara sembunyi-sembunyi.

”Pintu masuk Solsel di tutup habis. Tidak ada tolerir bagi perantau, atau warga luar daerah masuk secara terang-terangan atau secara sembunyi-sembunyi ke wilayah Solsel. TNI-Polri siap siaga dan memperketat pengawasan,” tegas Abdul Rahman.

Tiga pos perbatasan yang akan ditambah, yakni Talao, TKA dan Kampung Baru yang bisa dijadikan jalan tikus oleh perantau. ”Wajib kita titup, agar memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Solsel,” tuturnya.

Catat Tiga Kasus Covid-19 Pertama
Sebelumnya, Pemkab Solsel mengonfirmasi tiga kasus pasien positif Covid-19, Rabu (6/5). Hasil resmi tersebut diterima Pemkab Solsel dari Dinas Kesehatan Sumbar berdasarkan hasil pemeriksaan di Laboratorium Fakultas Kedokteran (FK) Unand.

Plt Bupati Solsel Abdul Rahman menyebut, ketiga pasien positif tersebut satu keluarga. Terdiri dari seorang wanita berinisial YT berusia 55 tahun berprofesi sebagai guru, ASN. Lalu, anak lakilakinya, AA berusia 18 tahun dan orangtua YT berusia 80 tahun. ”Sekarang kami sedang melacak atau menelusuri riwayat perjalanan ketiga orang ini. Mereka pernah
kontak dengan siapa saja selama di Solsel,” ujar Rahman saat pers conference pengumuman kasus tersebut.

Saat ini, Satgas Covid-19 Solsel sedang melakukan tracking perjalan pasien positif itu. Mengingat jarak antara waktu yang bersangkutan pulang dari Padang hingga sekarang sudah cukup lama, jadi kemungkinan mereka berinteraksi dengan warga lain sangat mungkin. Dijelaskannya, pasien YT sebelumya memiliki riwayat perjalanan bepergian pergi
ke Padang bersama suami dan anaknya AA menemui anaknya yang kuliah. Mereka balik lagi ke Solsel tanggal 18 April sebelum diberlakukannya PSBB.

Sesampai di Solsel, mereka mengalami gejala dan keluhan penyakit yang kemudian memeriksa diri ke puskesmas terdekat. ”Karena gejalanya ringan, maka petugas kesehatan memberikan obatobatan dan diminta untuk melakukan isolasi mandiri di rumahnya. YT dan suaminya merupakan tenaga pendidik,” jelasnya.

Kini, ketiga pasien positif tersebut menjalani masa karantina. Dua pasien yakni YT dan AA diobservasi ke PPSDM Balai Diklat Padang, sedang YS ke RSAM Bukittinggi berhubung setelah dikonfirmasi RS di Padang penuh. Kepala Dinas Kesehatan Solsel, Novirman mengatakan, ketiga pasien terpapar virus korona dengan mengalami gejala klinis ringan. Hasil tracking tahap pertama dari riwayat kontak pasien sudah dilakukan pengambilan 65 sampel swab untuk diuji.

”65 sampel swab ini terdiri dari pihak keluarga pasien dan tenaga medis. Termasuk, orang-orang yang mengalami kontak langsung dengan suami pasien. Suaminya itu sering duduk di warung taman Pasar Muaralabuh,” kata Novirman. Untuk 65 sampel swab sendiri lanjutnya, rencana besok pagi (hari ini, red) dikirim ke Laboratorium FK Unand. Di sisi lain, ia juga berharap warga yang merasa ada kontak dengan pasien ini, bisa melapor ke petugas kesehatan untuk dicek kesehatannya dan dilakukan uji swab. ”Mari bersama dengan penuh kesadaran dan kejujuran, kita putus mata rantai
penyebaran virus ini di Solsel,” pintanya. (tno/p)