Ticketing System dan Zona Khusus Diterapkan di Terminal Anak Aia

Pembangunan Terminal Tipe A di Kota Padang. Terminal yang berlokasi di Anak Aia, Kelurahan Batipuah Panjang, Kecamatan Koto Tangah ini tidak berada di titik simpul menuju tempat tujuan penumpang atau barang.

Terminal Tipe A di Anak Aia Kota Padang, diperkirakan pembangunannya tuntas akhir 2020 ini. Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah III Sumbar, Deny Kusdyana berharap, terminal ini tidak sama nasibnya dengan terminal di kawasan Aia Pacah Padang dan terminal lainnya di Sumbar.

“Kita akan gencar melakukan sosialisasi operasionalnya nanti. Karena operasional terminal ini berbeda dengan operasional Terminal Aia Pacah dulu,” ungkap Deny Kusdyana, Minggu (9/8/2020).

Deny mengungkapkan, Terminal Tipe A Anak Aia, menjadi pilot project di Sumbar. Diakuinya, selama ini kondisi terminal angkutan darat, jauh tertinggal dibandingkan dengan stasiun kereta api.

Di Sumbar, ada empat Terminal Tipe A yang kewenangan pengelolaannya sudah dialihkan dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah pusat melalui BPTD Wilayah III Sumbar. Yakni, Terminal Jati di Pariaman, Terminal Bareh Solok di Solok, Terminal Simpang Aur di Bukittinggi dan Terminal Kiliran Jao di Sijunjung. “Terminal yang ada di Sumbar perlu dibenahi. Kita ingin hapus image buruk terminal di Sumbar ini,” harap Deny.

Deny mengungkapkan, terminal yang ada seolah milik bersama, di mana kondisi lingkungannya, semuanya masuk dari segala penjuru masuk, tidak hanya transportasi saja yang masuk.

Deny mencontohkan kondisi Terminal Simpang Aur di Bukittinggi. Petugas terminal di sana itu seperti petugas Dinas Pasar. Di mana setiap malam harus membersihkan sampah.

Deny berharap dengan beralih kewenangan ke pemerintah pusat, terminal jangan lagi ketinggalan, dibandingkan stasiun kereta api yang sudah bagus.

“Operasionalnya harus diubah. Jika dulunya seolah seluruh penjuru bisa masuk, sekarang terminal harus tertutup, namun aksesnya tetap ada, tapi dijaga,” terangnya.

Terminal Anak Aia Tidak Berada di Titik Simpul

Kondisi terminal sekarang diakui akibat dampak dari perubahan kebijakan selama ini. Tahun 1995, kebijakannya, pembangunan terminal Tipe A harus berada di tengah kota. Dampaknya, kondisi terminal jadi rawan kejahatan. “Kita mungkin pernah nonton sinetron Preman Pensiun. Itulah kondisi terminal yang berada di sentra kota,” terangnya.

Dengan adanya terminal di tengah kota berdampak penanganannya oleh pemerintah kabupaten kota, juga jadi salah urus. Konsep dibangunnya terminal oleh pemerintah kabupaten kota lebih mengejar pendapatan asli daerah (PAD) bukan pelayanan. “Padahal PAD berapa sih, hanya veron,” ungkapnya.

Kemudian, juga ada kebijakan berikutnya, terminal dibangun harus di atas lahannya seluas lima hektare. Dengan kebijakan ini, akhirnya terminal baru tidak bisa dibangun lagi di tengah kota, tetapi di pinggiran kota.

Banyak terminal yang dibangun di pinggiran kota, menjadi sepi, karena lokasinya berada di perlintasan bukan di titik simpulnya. Seperti yang terjadi di Terminal Aia Pacah, Terminal Bareh Solok, Terminal Jati. Semua terminal tersebut sepi.

Baca Juga:  Langgar Protokol, Kena Pidana

Diakui Deny, meski pembangunan Terminal Tipe A Anak Aia akan tuntas akhir tahun 2020. Namun, Terminal Anak Aia termasuk korban dari pembangunan terminal di pinggiran kota. Lokasinya yang berada di Kelurahan Batipuh Panjang, Kecamatan Koto Tangah itu, tidak pas berada di titik simpul/penghubung.

Diakui Deny, pembangunan Terminal Anak Aia menjadi pertaruhan bagi dirinya. Karena awal ditetapkannya Anak Aia jadi terminal oleh Pemko Padang, karena di Kota Padang belum ada terminal.

Kota Padang berinisiatif bangun terminal di Anak Aia dengan konsep lama. Kemudian terjadi perubahan kewenangan, yang pembangunannya diserahkan ke BPTD Wilayah III Sumbar.

Sosialisasi Pelayanan Ticketing System

Untuk dapat mengoperasikan Terminal Type A Anak Air ini memang perlu dukungan bersama. “Kami mencoba dengan menggandeng Organda dan pengusaha transportasi muda di sini. Ada yang punya konsep pelayanan bagus. Sudah mengarah teknologi informasi, melalui ticketing,” ungkap Deny.

Terminal Anak Aia lokasinya agak jauh dari kota. Karena itu, sosialisasi mesti dilakukan dengan model yang berbeda. Sosialisasi harus mengedepankan aspek pelayanan, seperti ticketing system.

Kepada pelaku usaha, khususnya UMKM makanan dan kerajinan, juga perlu ditawarkan untuk dapat menjalankan usahanya di terminal. Namun, tentunya produk UMKM yang dihadirkan yang terkenal dan dibutuhkan masyarakat Sumbar. “Jangan hanya menjual rokok, air mineral dan mie instan saja,” tegasnya.

Deny mencontohkan terminal yang ada di Pulau Jawa yang dibangun konsep ada mall dan kegiatan perekonomian di terminal yang ada. Bahkan di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) ada kampus di terminal.

“Kalau di Sumbar, khususnya di Terminal Tipe A Anak Aia mungkin saya akan dorong kepada UMKM-nya. Agar masyarakat nyaman,” terangnya.

Konsep Pelayanan Zona Khusus

Dalam menciptakan kenyamanan dalam pelayanan, juga akan dibangun beberapa zona di Terminal Tipe A Anak Air. Seperti ada zona khusus tempat merokok, zona pengendapan, zona menunggu steril khusus penumpang berangkat, zona untuk UMKM.

Juga ada ticketing sebelum masuk zona keberangkatan. “Dengan adanya ticketing ini, jadi copet tidak bisa masuk seenaknya ke terminal,” tegas Deny.

Dengan adanya ticketing ini, juga tidak ada lagi agen yg menjual tiket secara manual. Tapi agen-agen difasilitasi menjual ticketing melalui aplikasi.

“Jadi PO Bus tidak lagi menempatkan agen di terminal. Melalui ticketing, bus antar kota, sudah ada satu system yang mendeteksi masuknya bus dan jadwalnya keberangkatannya pun jelas, dengan ditentukan oleh perusahaan bus masing-masing. Kita di terminal hanya mengawasi. Jika ada yang melanggar jadwalnya kita berikan sanksi,” tegasnya. (hsn)