350 Ton Ikan Maninjau Mati Massal, Puluhan Peternak Telan Kerugian

58
peternak KJA Danau Maninjau.(IST)

Untuk kesekian kalinya, peternak ikan keramba jaring apung (KJA) di Danau Maninjau, Kabupaten Agam, kembali merugi. Menyusul mati mendadaknya ratusan ton ikan nila.

Data Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Agam mencatat kematian ikan kali ini mencapai 350 ton. Kematian ikan ditemukan di Nagari Tanjungsani, Kotomalintang dan Kotokaciak, Kecamatan Tanjungraya.

”Kematian ikan terparah di Nagari Kotokaciak, mencapai 300 ton. Beberapa titik kematian ikan juga ditemukan di Kotomalintang sekitar 2 ton dan Tanjungsani sekitar 50 ton,” kata Kepala DPKP Agam, Rosva Deswira, kemarin (12/12).

Hasil pendataan penyuluh di lapangan imbuhnya, kematian ikan ini dialami puluhan petani keramba dan rata-rata hampir siap panen. Kematian ikan terjadi satu pekan belakang yang diawali cuaca ekstrem melanda kawasan danau.

”Fenomena kematian ikan terjadi sudah sepekan lalu. Kematian ikan hampir terjadi setiap awal, pertengahan dan akhir tahun. Ikan-ikan yang mati milik sekitar 48 penambak,” tuturnya.

Seperti biasa tambah Rosva, penyebab kematian ikan ini lantaran terjadinya penurunan suhu air danau akibat umbalan atau uppweling. Kondisi ini dipicu cuaca buruk berupa hujan deras disertai angin kencang yang membalikan massa air dari dasar ke atas.

Anomali cuaca ekstrem ini membuat zat-ikan mati

zat atau racun-racun dari dasar naik kepermukaan. Sehingga, menyebabkan ikan kehilangan keseimbangan sehingga mati mendadak.

”Karena upwelling atau pembalikan massa air dari dasar ke atas membuat zat-zat atau racun-racun dari dasar naik kepermukaan. Ikan tidak dapat bertahan dengan kondisi demikian itu, lalu mati,” jelasnya.

Pihaknya aku Rosva, sudah mengimbau para peternak untuk tidak membuang bangkai ikan ke badan danau. Melainkan dipungut dan dikubur agar tidak memicu bau busuk dan amis di sekitar danau.

Baca Juga:  KPK Terima 395 Laporan Gratifikasi Selama Hari Raya Idul Fitri 1443 H

Selain itu, sesuai pengalaman katanya, kondisi cuaca buruk diprediksi berlangsung hingga Februari-Maret 2022 mendatang. Selama kurun waktu ini, peternak diminta untuk menahan diri menebar bibit baru. Untuk ikan yang tersisa di keramba disarankan agar segera dipanen.

”DPKP Agam sudah memasang plang imbauan itu di masing-masing nagari. Untuk permintaan agar masyarakat tidak membiarkan bangkai ikan membusuk di danau, sepertinya banyak diabaikan masyarakat dan sikap ini sangat kami sayangkan,” papar dia.

Senada, Wali Nagari Kotokaciak, Syawaldi Dt Tumbasa nan Hitam mengaku, kematian ikan di wilayahnya terjadi sejak Sabtu (11/12). Pihaknya juga telah mengimbau agar peternak tidak membiarkan bangkai ikan membusuk di danau.

”Di Kotokaciak, kematian ikan dialami oleh sekitar 40 peternak. Jumlah ikan yang mati mencapai 200 ton. Kami sudah imbau warga agar tidak membiarkan bangkai ikan membusuk di danau,” kata dia.

Diketahui, kematian ikan di Danau Maninjau kali ini menambah daftar panjang kejadian serupa. Sebelumnya, 15 ton ikan dilaporkan mati massal di Nagari Bayua dan Kotomalintang pada Januari dan Februari 2021 lalu.

Kemudian awal April, 5 ton ikan milik petani di Galapuang kembali mengalami hal serupa. Tiga pekan berselang, sejak 22-27 April sekitar 33 ton ikan juga mati massal. Terbaru, 350 ikan mati sepekan terakhir.

Di lain sisi, kawasan Danau Maninjau kembali dicemari bangkai-bangkai ikan yang bertebaran dengan bau amis dan busuk pasca kematian massal itu. Kendati begitu, bangkai tersebut akan mengurai dalam beberapa hari ke depan. (ptr)