Sarankan UPK Rp 75 Ribu jadi Angpao, BI Gelontorkan Rp 152 Triliun

30
ilustrasi uang pecahan kemerdekaan. (net)

Kebutuhan uang tunai pada momen hari raya selalu meningkat. Menyambut Idul Fitri tahun ini, Bank Indonesia (BI) mempersiapkan uang tunai sekitar Rp 152,14 triliun. Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Marlison Hakim menjamin kebutuhan uang tunai masyarakat akan tercukupi.

Jika dibandingkan dengan realisasi tahun lalu, jumlah uang tunai yang BI persiapkan itu meningkat 39,33 persen. Tahun lalu realisasinya sekitar Rp 109,2 triliun. ”Ini untuk didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia,” ujar Marlison kemarin (14/4).

Dia memerinci bahwa uang tunai itu terdiri atas 90,07 persen uang pecahan besar. Yakni, pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu. Itu setara dengan Rp 137 triliun. Sementara itu, sisanya 9,93 persen atau Rp 15,2 triliun berupa uang pecahan kecil. Yakni, pecahan Rp 20 ribu ke bawah.

Pada Idul Fitri tahun ini, bank sentral memperkirakan adanya kenaikan kebutuhan uang tunai jika dibandingkan tahun lalu. Sebab, dinamika makroekonomi tahun ini juga lebih baik dari 2020. Namun, angka itu masih di bawah kebutuhan uang tunai normal sebelum pandemi Covid-19.

Sejalan dengan itu, BI mengajak masyarakat untuk menjadikan uang peringatan kemerdekaan (UPK) pecahan Rp 75 ribu sebagai angpao Lebaran. Dengan demikian, UPK Rp 75 ribu yang baru terbit itu tidak lagi hanya menjadi koleksi, tetapi juga bisa menjadi alat transaksi dalam masyarakat.

”Kebijakan untuk UPK Rp 75 ribu sudah kami sampaikan. Masyarakat bisa menukarkan 1 orang 1 KTP untuk maksimal 100 lembar per hari,” kata Marlison. Kartu identitas yang sama bisa digunakan kembali untuk menukarkan UPK Rp 75 ribu pada hari lain. Jumlah maksimalnya masih tetap sama, 100 lembar.

Baca Juga:  Andre Sarankan Moratorium Kedatangan WNA China saat Larangan Mudik

Masyarakat yang tertarik menukarkan UPK Rp 75 ribu bisa langsung datang ke kantor perwakilan BI. Atau, bisa juga ke bank umum yang ditunjuk. Syaratnya hanya membawa kartu identitas.

Sementara itu, Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur siap mengedarkan sekitar Rp 9 triliun pada momen Idul Fitri. Distribusinya bakal melalui perbankan, kas keliling, kas titipan, internal, dan instansi.

”Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami fokus untuk memenuhi kecukupan kas pada layanan keuangan masyarakat. Terutama uang pecahan kecil (UPK),” jelas Kepala Grup Sistem Pembayaran dan Pengedaran Uang Rupiah BI Jatim Imam Subarkah kemarin.

Untuk itu, BI Jatim menggandeng delapan bank besar, BPD Jatim, BPR UMKM, dan BPR Bakti Sumekar sebagai penyalur uang kartal tersebut. Pengamat ekonomi Universitas Airlangga Wisnu Wibowo menyatakan bahwa belanja masyarakat tahun ini masih tidak akan sebesar tahun-tahun sebelum pandemi.

Apalagi, mudik kembali dilarang. Mudik, menurut dia, menjadi penentu seberapa besar lonjakan aktivitas ekonomi Jatim tiap Lebaran. Sebab, ada pergerakan masif di desa-desa yang menjadi tujuan mudik.

”Kalau ditanya kenaikan jika dibandingkan dengan momen biasa, pasti ada. Tapi, masyarakat pasti tak butuh uang kartal dalam jumlah banyak karena tak bisa memberikan uang langsung ke sanak saudara,” ungkapnya.

Tanpa mudik, menurut Wisnu, kinerja hotel, restoran, dan pariwisata Jatim tak sebaik tahun-tahun sebelum pandemi. Geliat bisnis hotel, restoran, dan pariwisata tidak akan tersebar rata. Dia menambahkan bahwa sektor transportasi bakal menjadi yang paling terpukul kali ini. (dee/bil/c12/hep/jpg)

Previous articlePernah jadi Tempat Perlindungan dan Perakitan Senjata
Next articleUrgensi Perubahan BKPM Disorot