Pedagang Perlu Ruang Berdiskusi Dengan Bupati

7
Ilustrasi.(FRICKEL ADILA MENDER/PADEK)

Meski ditutup, beberapa pedagang ternak masih mendatangi Pasar Ternak Muaropaneh, Kecamatan Bukit Sundi, mereka kompak menyuarakan keluhan terhadap penutupan pasar yang dilakukan pemerintah, seperti apa?

MENJADI satu-satunya pasar ternak di Kabupaten Solok, pasar ternak Muaropaneh selalu ramai dikunjungi setiap hari Senin, ratusan pejual ternak, baik sapi, kerbau hingga kambing memenuhi seluruh area pasar. Aktivitas jual beli ternak sangat masif disana, terutama pada hari pasar, yakni setiap hari Senin.

Namun, pada Senin (16/5) dari pantauan Padang Ekspres, suasana terlihat berbeda, pada pintu masuk pasar dipasang spanduk bertuliskan ”Pasar Ternak Ditutup”. Puluhan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Solok juga berjaga-jaga di pos pengamanan pasar.

Tapi, ratusan pemilik/penjual nampak tak terlalu menghiraukan imbauan itu, mereka tetap membawa ternak ke pasar tersebut. Akhirnya, petugas membiarkan pedagang/pemilik ternak memasuki area pasar. Meskipun pedagang tetap memenuhi pasar, aktivitas jual beli nyaris tidak ada.

Para pemilik dan penjual ternak menyayangkan penutupan pasar yang dilakukan pemerintah setempat, karena dilakukan secara mendadak, dan tanpa koordinasi yang jelas antara pemerintah dengan pemilik dan penjual ternak.

Hal itu diungkap Syafruddin, salah seorang penjual ternak yang ditemui Padang Eskpres di Pasar Ternak Muaropaneh, Senin (16/5). Menurutnya, penutupan pasar yang dilakukan bukanlah langkah bijak. Seharusnya ada solusi lain yang ditawarkan untuk menghindari kerugian para pedagang.

”Kami tahu penyakit (PMK) itu ada. Namun penutupan pasar yang dilakukan ini terlalu berlebihan, dan ini sangat merugikan bagi kami penjual ternak,” ungkapnya.

Kemudian, pedagang ternak lainnya, Syam Rajo Bungsu mengungkapkan kekecewaannya terhadap keputusan penutupan pasar tersebut. Sebab, aktivitas jual-beli ternak terhenti, serta sangat merugikan pedagang maupun peternak.

Apalagi, saat ini merupakan jelang Hari Raya Idul Adha, di mana permintaan terhadap ternak sangat tinggi untuk kebutuhan kurban. Pihaknya dan beberapa pedagang lainnya bahkan sudah mengeluarkan modal yang banyak untuk menambah persedian ternak.

”Bagaimana kita bisa mengembalikan modal jika pasar ditutup, dan akibatnya aktivitas jual beli malah menurun, hal itu tentu merugikan. Seharusnya, ada solusi lain yang ditawarkan selain menutup pasar,” ungkapnya.

Mengenai solusi, menurutnya banyak hal yang bisa dilakukan selain menutup pasar, seperti pengawasan ketat oleh pemerintah bisa dilakukan saat hari pasar, mulai dari pengecekan hingga memberikan vitamin pada ternak yang ada di pasar.

”Jika ada ditemukan (ternak) yang memiliki gejala penyakit itu, isolasi langsung ternaknya atau tidak dibolehkan masuk pasar, seharusnya itu yang dilakukan, bukan malah menutup pasar,” tegasnya.

Selanjutnya, pedagang ternak lainnya, Eri Dikson mengatakan bahwa jika penutupan pasar dilakukan mendadak seperti ini, maka itu berdampak sangat besar bagi seluruh pedagang ternak, dan tentunya hal tersebut sangat disayangkan, mengingat daya beli masyarakat baru saja menggeliat pascapandemi Covid-19.

Dengan adanya penutupan pasar, maka aktivitas jual beli menurun, dan hal itu memberikan dampak luar biasa, baik kepada peternak maupun penjual ternak. Karena dalam kurun 1 bulan ke depan khususnya jelang Idul Adha, masa di mana pemintaan terhadap hewan ternak meningkat.

”Kami rasa para pedagang ternak perlu ruang untuk berdiskusi dengan bupati, kami ingin menyampaikan keluhan kami tentang penutupan pasar ternak, dan mengusulkan solusi lain,” katanya.

Terkait itu, Plt Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Solok, Kennedy Hamzah menyebut, memang beberapa pedagang sudah membawa ternaknya ke pasar sejak Minggu (15/5) malam, namun pihaknya terpaksa tetap membiarkan pedagang masuk area pasar,  dan digunakan untuk sosialisasi tentang PMK tersebut.

Adapun, dengan tim yang terdiri dari Satpol PP, dinas terkait, polisi, TNI dan Forkopimcam sudah di lokasi, dan penutupan berjalan lancar. Memang ada beberapa pedagang yang mungkin belum tahu informasi itu lalu datang ke pasar ternak.

Baca Juga:  Ganti Rugi Lahan Tol Sumbar Mandek!! BPN Sumbar Menutup Diri!

”Hari ini kita gunakan untuk sosialisasi ke para pedagang sekaligus pemeriksaan terhadap ternak yang ada di pasar,” ujarnya di Pasar Ternak Muaropaneh, Senin (16/5).

Sebelum penutupan dilakukan, pihaknya sudah melakukan rapat dengan forkopimcam dan asosiasi pedagang. Dalam rapat disampaikan penutupan sementara dilakukan sampai waktu yang belum ditentukan.

Ia mengimbau, agar para peternak atau pedagang untuk sementara mengkandang hewan ternaknya. Hal itu dilakukan untuk mencegah penyebaran PMK yang dapat mengakibatkan terganggungnya ekonomi masyarakat.

”Kita akan memaksimalkan sosialisasi tentang penyakit ini, nanti juga akan dilakukan penyemprotan di setiap kandang ternak yang ada di Kabupaten Solok, dan memberikan vitamin. Semoga hal ini bisa berakhir secepatnya, dan aktivitas jual-beli ternak bisa lancar seperti sebelumnya,” tukasnya.

Sebelumnya, Pasar Ternak Muaropaneh, Kecamatan Bukit Sundi, terpaksa ditutup sementara sebagai bentuk antisipasi terhadap ditemukannya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi.

Hal itu tertuang dalam Surat Perintah (SP) Bupati Nomor: 524/328/Diperta-2022 tentang penutupan sementara Pasar Ternak Muaro Paneh. ”Untuk sementara kita menutup dulu pasar ternak Muaropaneh pada Senin (16/5) nanti, yang merupakan upaya kita untuk mencegah PMK itu,” ujar Bupati Solok, Epyardi Asda kepada Padang Ekspres, Sabtu (14/5).

Adapun, penutupan tersebut bersifat sementara karena ditemukannya kasus PMK di Sijunjung. Dan sesuai dengan SE Menteri Pertanian, Pemkab Solok menutup sementara untuk mencegah penyebarannya di Kabupaten Solok.

Tak hanya itu, Pemkab Solok juga melarang masuknya hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau dan domba dari wilayah atau daerah yang sudah ada kasus atau wabah PMK untuk masuk ke Kabupaten Solok, hal sesuai dengan Surat Edaran (SE) Menteri Pertanian Nomor:01/SE/PK/.300/M/5/2022 tentang pengendalian dan penanggulangan PMK pada ternak.

Serta, juga tetulis dalam urat Edaran (SE) Bupati Solok Nomor: 524.35/327/Diperta-2022 tentang pengendalian dan penanggulangan terhadap ancaman masuk dan menyebarnya PMK ke dalam wilayah Kabupaten Solok yaitu tanggal 13 Mei 2022 dan ditujukan kepada camat se-Kabupaten Solok, walinagari se-Kabupaten Solok, kepala UPT dan IB se-Kabupaten Solok.

Pihaknya juga menginstruksikan dinas terkait untuk melakukan pengawasan ketat terhadap ternak, sebab penyakit tersebut dapat menyebar dengan sehingga dapat membuat kerugian besar pada ekonomi masyarakat.

Kemudian, Pemkab Solok juga harus bergerak cepat untuk mengantisipasi agar tidak terjadi penyebaran di daerah tersebut, karena vaksin untuk ternak yang terkontaminasi oleh penyakit tersebut belum tersedia.

Menurut Epyardi, persoalan yang menyangkut perekonomian masyarakat akan selalu menjadi prioritasnya. Makanya, pihaknya meminta dinas terkait untuk kerja keras agar bagaimana ternak yang ada Kabupaten Solok bisa bebas dari penyakit itu.

Jual Beli pun Batal

Sementara itu, di Kabupaten Sijunjung, pascapenutupan Pasar Ternak Palangki, para pedagang atau tauke menjadi kalangkabut. Proses jual beli pascakebijakan tersebut berlangsung praktis sebagian besar mengalami batal.

Seorang pedagang ternak, Daswir, 47, mengaku terpaksa membawa pulang kembali hewan ternaknya ke kandang menyusul adanya sapi di Pasar Ternak Palangki diketahui terkontaminasi virus PMK.

Ia menjelaskan, para pedagang ternak hampir semuanya resah atas adanya penyakit yang menyerang hewan ternak, apalagi sampai mewabah masuk pasar ternak. Karena atas mewabahnya virus PMK aktivitas jual beli jadi lumpuh, ujung-ujungnya masyarakat yang dirugikan.

Pasar Ternak Palangki merupakan pasar ternak regional Sumatera, yang mana pedagang ternak tidak hanya berasal dari dalam tetapi juga dari luar Provinsi Sumbar. Hari pasar ditetapkan tiap hari Sabtu. Nilai transaksi jual beli hewan ternak di sini mencapai miliaran rupiah.

”Ada-ada saja. Dengan ditutupnya Pasar Ternak Palangki, aktivitas jual beli tidak ada, kami mengalami rugi dibuatnya,” cetusnya. (frk/atn)