PMK Menyebar di Sumbar! Setelah Sijunjung, Ada Temuan di Padangpariaman

31
PASOKAN STABIL: Salah seorang pedagang daging di Pasar Raya Kota Padang menanti pembeli, kemarin.(DEWI FATIMAH/PADEK)

Kewaspadaan terhadap menyebarnya penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak di Sumbar harus lebih ditingkatkan. Pasalnya, kemarin Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Sumbar kembali mengonfirmasi temuan baru.

Setelah sebelumnya ditemukan empat ekor sapi di Pasar Ternak Palangki, Kabupaten Sijunjung, positif PMK. Nah, kali ini tiga ekor sapi ditemukan positif PMK di Padangpariaman. Ketiga sapi itu diisolasi dan diobati lewat pemberian vitamin, obat antibakteri dan obat lainnya untuk penyembuhan.

”Tiga kasus tersebut terkonfirmasi positif PMK dari pemeriksaan hasil labor dua hari yang lalu. Seperti sebelumnya sapi yang terdampak memiliki gejala demam, blister di mulut dan kaki hewan ternak, dan air liur kental. Hewan ternak yang bisa terkena wabah PMK antara lain sapi, kerbau, unta, kambing, domba, dan rusa,” ujar Kepala Disnak Keswan Sumbar Erinaldi kepada Padang Ekspres, kemarin (16/5).

Tiga kasus baru tersebut masih berasal dari kelompok yang sama dengan empat kasus di Pasar Ternak Palangki, Sijunjung. Yakni, kelompok sapi yang masuk dari Riau. Erinaldi menyampaikan, empat ekor sapi yang terdampak PMK di Sijunjung sudah mulai sembuh.

Sudah bisa makan normal. Namun, menunggu penyembuhan total pada kaki. Jumlah hewan ternak yang positif PMK itu berkemungkinan besar bisa bertambah ke depannya. Sebab, juga ditemukan sapi suspek PMK di Kabupaten Tanahdatar, Kabupaten Solok, dan Pasaman Barat.

Untuk Tanahdatar terdeteksi empat ekor sapi suspek PMK di Nagari Limakaum, Kecamatan Limakaum, Minggu (15/5) lalu. Sebagai antisipasi agar tidak meluas, Bupati Tanahdatar Eka Putra mengimbau pemilik ternak di daerah itu untuk berhati-hati dan waspada. Selain itu, nantinya hewan yang masuk dari luar daerah ke Tanahdatar diperiksa terlebih dahulu.

Dia menekankan, mengambil tindakan cepat agar PMK pada hewan ternak tidak berkembang di Tanahdatar. Tindakan tersebut berupa isolasi terhadap ternak, ataupun nantinya penutupan pada pasar. Terutama, Pasar Ternak Batusangkar.

”Penutupan itu bisa jadi satu minggu atau dua minggu, tapi ini masih dalam kajian. Yang jelas bagaimana menyelamatkan ternak kita, dan penyakit PMK itu tidak berkembang di Tanahdatar,” jelasnya.

Untuk mencegah masuknya sapi luar yang terpapar PMK, Pemkab Tanahdatar melakukan upaya antisipasi dengan melakukan cek poin di enam pintu masuk ke Tanahdatar dari daerah lain.

Kepala Dinas Pertanian Tanahdatar Sri Mulyani mengatakan, kasus yang diduga mirip virus PMK tersebut berkemungkinan menyerang sapi yang berasal atau dibeli di luar Tanahdatar.

Sapi-sapi itu sudah diisolasi dan sudah diinjeksi dengan vitamin untuk meningkatkan imun. Kemudian sudah dikarantina. Bahkan, sudah ditekankan ke pemilik untuk tidak memindahkan ke kandang lainnya.

”Kita juga akan mengambil sampel ke balai veteriner untuk diperiksakan apakah ini positif atau tidak. Namun demikian, kita akan segera membuat imbauan bupati kepada stakeholder terkait untuk merapatkan barisan untuk sama-sama mencegah wabah ini,” katanya.

Dia menegaskannya, untuk dua minggu ke depan pihaknya berkemungkinan menutup pasar ternak Batusangkar. Di Pasaman Barat, ada dua sapi suspek PMK. Dua sapi itu ditemukan di Kecamatan Kinali.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan Pasbar Dody menegaskan, hari ini tim dari Balai Veteriner Baso Bukittinggi akan melakukan pengambilan sampel di lokasi penemuan tersebut.

Sebagai pencegahan agar tidak menyebar, pihaknya, telah mereka melakukan pengawasan ke kandang penampungan (pedagang) ternak dan tempat pemotongan hewan, serta pasar ternak. Kemudian, melakukan komunikasi informasi dan edukasi ke peternak tentang penyakit PMK.

Lalu, melakukan penanganan secara medis oleh tim dokter hewan/paramedis terhadap ternak suspek PMK. Selanjutnya langkah yang telah dilakukan mengisolasi lokasi tersebut dan akan segera membentuk gugus tugas di tingkat kabupaten. Sedangkan pengawasan di pasar daging belum dilakukan, karena PMK bukan penyakit zoonosis (menular ke manusia).

”Kemarin (Senin, red), kita juga sudah melakukan pengawasan di pasar ternak Kinali melibatkan petugas dokter hewan dan paramedis,” kata Dody.

Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Solok juga menemukan suspek PMK pada sapi, kemarin. Yakni di Nagari Muaropaneh, Kecamatan Bukit Sundi. Kasus tersebut ditemukan di salah satu peternakan sapi warga.

Menurut Plt Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Solok Kennedy Hamzah, tercatat tujuh ekor sapi di peternakan warga tersebut yang memiliki gejala mirip PMK atau suspek PMK. Namun, ia belum bisa memastikan apakah itu PMK atau bukan. Karena, sampelnya baru akan diambil.

”Nanti (Senin sore, red) atau besok (hari ini, red) sampelnya akan diambil oleh balai Veteriner Bukittinggi untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ungkapnya. Untuk penanganan lebih lanjut, Pemkab Solok telah melakukan penelusuran ke berbagai peternakan warga yang tersebar di seluruh Kabupaten Solok.

Lalu, pihaknya juga telah membentuk tim untuk melakukan sosialisasi massif kepada seluruh peternak di Kabupaten Solok, dan mendatangi setiap peternak dan memberikan masukan, arahan, serta solusi tentang penanganan PMK itu.

”Serta, juga akan mengupayakan memberikan vitamin kepada seluruh hewan ternak yang ada di Kabupaten Solok untuk mencegah penularan PMK tersebut,” tambahnya.

Ke depannya, pasar ternak juga akan ditutup sampai waktu yang belum ditentukan. Petugas pun juga akan ditempatkan di sana untuk melakukan pengawasan dan sosialisasi kepada penjual maupun pembeli ternak.

Tak hanya itu, Pemkab Solok juga melarang masuknya hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau dan domba dari wilayah atau daerah yang sudah ada kasus atau wabah PMK untuk masuk ke Kabupaten Solok. Hal ini sesuai Surat Edaran (SE) Menteri Pertanian Nomor:01/SE/PK/.300/M/5/2022 tentang Pengendalian dan Penanggulangan PMK pada Ternak.

Apalagi, masyarakat Kabupaten Solok juga banyak berprofesi sebagai peternak, baik sapi, kambing maupun kerbau. Dan ini menjadi perhatian serius Pemkab Solok. ”Kita sudah menugaskan tim untuk melakukan pengawasan terhadap ternak yang diperjualbelikan di pasar ternak, serta juga ke masyarakat,” tukasnya.

Terkait penutupan pasar ternak, Kepala Disnak Keswan Sumbar Erinaldi menekankan, telah menutup 10 pasar ternak. Di antaranya Pasar Ternak Palangki, Sijunjung; Payakumbuh; Lubukbasung, Agam, Muaropaneh, Solok; Sungaisarik, Padangpariaman; Cubadak Batusangkar, Tanahdatar, Lakitan Timur, Pesisir Selatan; Dharmasraya; Padang; dan Pasaman.

Baca Juga:  Menginspirasi!! Russirwan: Perwira Polisi Memotivasi Lewat Pertanian

”Ada empat pasar ternak yang paling besar dan sangat menjadi perhatian kita, karena ketika penularan wabah ini dimulainya dari daerah tersebut. Ketika ada sapi yang tidak terjual, maka dibawalah ke pasar ternak kecil lainnya. Sehingga, disinilah terjadinya penularan wabah PMK,” jelasnya.

Empat pasar ternak besar tersebut di Sijunjung, Payakumbuh, Solok, dan Batusangkar. Terhadap empat pasar inilah Disnak Keswan Sumbar melakukan kontrol lebih. Hal ini disebabkan sapi-sapi yang masuk ke pasar ternak lainnya melalui pasar ternak yang besar tersebut.

”Meskipun begitu, kita selalu mendapatkan informasi dari setiap tauke-tauke yang menyebar di Sumbar, dari mana dan akan ke mana sapi tersebut dijual. Seluruh stakeholder terkait di kabupaten/kota sudah melakukan pertemuan dan perbincangan terkait hal ini,” ungkapnya.

Seluruh pedagang dan juga tauke-tauke, tambahnya, mendukung ditutupnya pasar ternak tersebut. Hal ini bertujuan agar cepat terkendalinya wabah PMK tersebut. Sehingga, tidak berpengaruh terhadap persiapan kurban pada Hari Raya Idul Adha nanti.

”Dengan terkendalinya persoalan tersebut, kita juga bisa mengatur persiapan Idul Adha, entah itu bagaimana persyaratan masuknya sapi kurban ke Sumbar, sampai di tempat tujuan mau diapakan sapinya dan persoalan lainnya,” tuturnya.

Erinaldi menyebut, kebutuhan sapi kurban Idul Adha nanti baru terpenuhi sebanyak 60 persen, Sumbar masih kekurangan 40 persen sapi lagi. Pastinya, sapi tersebut berasal dari luar Sumbar. ”Bagaimana sapi tetap bisa masuk ke Sumbar, dan PMK tetap bisa dikendalikan, itulah yang saat ini sedang kita atur,” jawabnya.

Untuk itulah, kini tim satuan tugas yang telah dibentuk berjalan mengawasi masuknya setiap sapi yang datang dari luar Sumbar. Serta, melakukan pemeriksaan rutin di setiap pasar ternak yang ada.

”Untuk tim satgasnya yaitu pastinya ada dari pihak kita Disnak Keswan, pihak kepolisian, pihak dinas perhubungan yang mengawasi masuknya stok dari luar Sumbar, pihak badan karantina pertanian (Barantan) Teluk Bayur, dan itu semuanya sudah berjalan melakukan pengawasan,” kata Erinaldi.

Relatif Stabil

Meskipun PMK telah masuk ke Sumbar, hingga kemarin pasokan dan harga daging sapi di pasaran relatif stabil. Di Pasar Raya Padang, sejak jelang Lebaran hingga saat masih Rp 150 ribu per kilogram.

Hal tersebut diungkapkan salah seorang pedagang daging di Pasar Raya Kota Padang, Anton Putra, 28. Ia pun menjelaskan, stok daging yang di dapat para pedagang berasal dari Lampung, dan semua stok yang diterima juga tidak sedang mengalami PMK.

Sedangkan untuk harga daging impor itu mengalami penurunan. Biasanya sekilo itu harganya Rp 130 ribu-140 ribu, sekarang sudah turun menjadi Rp 110 ribu-120 ribu.

Dia pun menyebut, tidak mengalami kesulitan dalam hal pasokan. Begitu juga dengan penjualannya, tidak mengalami peningkatan pembeli maupun penurunan pembeli. ”Kalau penjualan kita sih normal, tidak banyak tidak sedikit juga, ya seperti biasanya lah,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan kemungkinan harga daging akan naik ketika menjelang Idul Adha nanti, bisa jadi karena PMK maupun memang faktor jelang Idul Adha.
Mawardi, 56, pedagang daging sapi di Pasar Inpres Painan, mengakui bahwa pembelian masyarakat terhadap daging sapi di daerah itu masih tetap normal dan tidak ada penurunan dari biasanya.

”Permintaan terhadap daging sapi ini biasanya tinggi setiap hari Kamis, sebab hari Kamis itu adalah hari pasar setiap satu pekan di sini,” jelasnya. Harganya masih berada pada kisaran Rp 135 ribu hingga Rp 140 ribu per kilogram.

”Harga ini memang sempat naik hingga Rp 150 ribu per kilogram, ketika akan memasuki hari Raya Idul Fitri 1443 lalu. Sekarang sudah kembali turun. Karena Pessel merupakan daerah sentra sapi, sehingga kebutuhan sangat mencukupi,” timpalnya.

Hal yang tak jauh berbeda juga terjadi di Bukittinggi. Kabid Perdagangan Disperindagkop UKM Bukittinggi Milla Rosi Yanti menegaskan, harga daging yang dijual di sejumlah pasar tradisional di Bukittinggi masih mengikuti harga sepekan menjelang Idul Fitri 2022.

Saat itu, bertepatan momen Lebaran dan meningkatnya permintaan masyarakat, harga daging naik menjadi Rp 150 ribu per kilo. ”Harga daging di pasaran masih bertahan di Rp 150 ribu per kilo. Stok daging juga masih mencukupi, kalaupun stok berkurang nanti akan dikoordinasikan dengan Bulog dan Dinas Pertanian,” sebut Milla via pesan WhatsApp, Senin (16/5).

Sementara itu, harga daging sapi mengalami kenaikan di Kabupaten Dharmasraya. Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dharmasyara Mudia Famila Sari mengukapkan, saat ini harga daging sapi naik Rp 10 ribu per kilo dari Rp 130 ribu menjadi Rp 140 ribu per kilo.

Terpisah, seorang peternak sekaligus pedagang sapi di Payakumbuh, Eko mengaku cemas atas munculnya wabah PMK itu. Meskipun di daerah tersebut belum ada temuan. ”Namun tidak terlalu berlebihan, sebab sejauh ini belum ditemukan gejala penyakit mulut dan kuku pada ternak kita. Kendati begitu, tentunya kita selalu memantau dan melakukan pengawasan terhadap ternak kita,” ucapnya.

Sebagai peternak yang sudah belasan tahun menggeluti usaha ternak sapi, Eko mengaku sebelum-belumnya ada juga penyakit kuku pada ternak, namun dengan cara sederhana bisa diobati dan disembuhkan.

”Kita tidak tahu juga, apakah penyakit kuku ini yang dimaksud atau memang berbeda,” ucap Eko yang biasa memberikan ramuan alami jika ternaknya mengalami panas dalam ini.

Terkait harga pembelian daging sapi menurut Eko, masih belum berpengaruh di pasaran. Masih pada harga Rp 150-160 ribu saat ini. ”Bisa jadi karena penutupan pasar ternak di Payakumbuh, harga daging sapi akan melonjak. Mudah-mudahan tidak terjadi saat lebaran Idul Adha,” harap Eko. (cr4/stg/frk/fdl/yon/ryp/ita/roy)