Hentikan Pengiriman Hewan Ternak Dari Luar Provinsi

22
TINGKATKAN PENGAWASAN: Petugas Dinas Pertanian Kota Payakumbuh melakukan penyemprotan disinfektan di salah satu kandang sapi di Taruko, Kota Payakumbuh, Selasa, (17/5).(FOTO-FOTO: SY RIDWAN/PADEK)

Tak terbendung. Penyakit mulut dan kuku (PMK) terhadap hewan ternak terus meluas di Sumbar. Sebab itu Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Sumbar telah menghentikan sementara pengiriman hewan ternak dari luar provinsi.

Kontrol dan pengawasan di pasar ternak pun diperketat sebelum Idul Adha. Paling tidak, hingga kemarin sudah terkonfirmasi puluhan sapi yang positif PMK. Yakni di Kabupaten Sijunjung, Tanahdatar, Padangpariaman, dan Kota Payakumbuh.

Sebagaimana data yang dirilis Disnak Keswan Sumbar kemarin, Kabupaten Padangpariaman menjadi daerah dengan temuan terbanyak. Yakni 50 ekor sapi di IV Koto Aur Malintang Selatan, tiga ekor sapi di Ulakantapakis, dan empat ekor sapi di 2 X 11 Enam Lingkung. (selengkapnya lihat grafis)

Secara keseluruhan Disnak Keswan Sumbar mencatat sebanyak 75 ekor hewan ternak yang terkonfirmasi positif PMK. Sementara untuk suspek sebanyak 23 ekor. Tiga ekor diantaranya masih dalam proses pengujian sampel laboratorium.

Sedangkan 20 ekor lainnya berstatus terlaporkan tapi belum dilakukan pengambilan sampel. ”Kedepan (ada) sistem pengawasan baru untuk lalu lintas (ternak), karena kita memerlukan ternak dari luar,” tutur Erinaldi, kemarin.

Ia menyampaikan, sapi yang positif terjangkit PMK merupakan kiriman dari luar provinsi. Yakni Riau dan Aceh Tamiang. Pihaknya terpaksa menutup pasar ternak di Sumbar selama 14 hari.

”Jadi dalam dua minggu ini kami buat aturan bagaimana tranportasi hewan ternak dari luar, dengan syarat yang kita tentukan yaitu pertama harus ada surat asal sapi tersebut, kemudian surat tanda kepemilikan,” ucapnya.

Hal tersebut dilakukan, selain untuk mengetahui asal sapi tersebut, juga untuk antisipasi sapi hasil curian dari pembawa sapi. ”Saat ini kita juga sudah mendirikan empat posko untuk pengawasan masuknya sapi dari luar. Diantaranya di Cubadak, Pasaman; Kiliranjao, Sijunjung; Rimbodata, Limapuluh Kota; dan Pesisir Selatan,” katanya.

Erinaldi juga menuturkan, akan menambah empat posko lagi. Namun masih dalam tahap perundingan. Sehingga titik pastinya belum dapat dipastikan. ”Hingga hari ini terkait tenaga medis kita wilayah Sumbar sudah cukup. Kita punya 70 pusat kesehatan hewan di seluruh daerah di Sumbar. Dimana masing-masing pusat tersebut menangani tiga Kecamatan,” jelasnya.

Terkait kasus positif PMK di Kota Payakumbuh, menyerang empat sapi di Kelurahan Balaijariang, Kecamatan Payakumbuh Timur. Kepala Dinas Pertanian Kota Payakumbuh Depi Sastra menjelaskan, empat ekor sapi yang terjangkit PMK itu berasal dari Pasar Ternak Palangki, Sijunjung.

”Dua ekor sapi dibeli di sana (Pasar Ternak Palangki, red) dan berimbas terhadap dua ekor sapi lainya,”ungkap Depi Sastra saat melakukan pengecekan dan pengawasan di sejumlah perternakan sapi di Payakumbuh, Selasa, (17/5). Kegiatan itu dilakukan bersama Sekretaris Kota (Sekko) Payakumbuh Rida Ananda, dan Assiten ll Sekretariat Kota (Setko) Payakumbuh Elzadaswarman.

Setelah dinyatakan positif, keempat sapi tersebut diisolasi dalam satu kandang. ”Terhadap sapi yang terkena virus PMK akan kita cek dan pantau tiap hari hingga sapi tersebut sehat. Itu telah kita instruksikan kepada staf Dinas Pertanian,” jelasnya.

Sekko Payakumbuh Rida Ananda mengajak peternak di Payakumbuh untuk bersama-sama mencegah penularan virus PMK. ”Yang pertama kita harap kepada peternak untuk menjaga kebersihan kandang,” ujarnya.

BPTU HPT Padangmengatas Lockdown

Untuk mengantisipasi agar virus PMK tidak menyebar, pihak Balai Pembibitan Ternak Unggul Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT) Padangmengatas ditutup untuk umum.  Ini diungkapkan Kepala UPT BPTU HPT Dani Kusworo kepada Padang Ekspres, Selasa, (17/5).

”Penutupan sementara dilakukan untuk kegiatan-kegiatan tamu, tamu edukasi, kunjungan dari dinas, kunjungan dari balai pelatihan. Sementara ini kita lockdown,” katanya.

Menindaklanjuti Surat Edaran Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor 06006/PK.310/F/05/2022 tentang Peningkatan Kewaspadaan terhadap PMK, BPTU HPT Padangmengatas mengambil sejumlah langkah antisipasi lainnya.

Diantaranya, membuat  satuan tugas (satgas) pencegahan PMK di BPTU HPT Padangmengatas. Satgas ini berfungsi untuk membuat sistem dan strategi pencegahan PMK dan memberikan edukasi pada pegawai. Selain itu, kata Dani, pihaknya mengoptimalkan penggunaan biosecurity, mulai dari pintu masuk gerbang hingga kandang dan areal farm.

Baca Juga:  PMK Pengaruhi Kebutuhan Sapi Kurban, Syahrial Kamat: 1.000 Sapi Punya SKKH

”BPTU HPT Padangmengatas membagi atas tiga zona. Yaitu zona satu yang meliputi gerbang utama, komplek perumahan pegawai dan kantor, kemudian zona dua dengan areal padang pengembalaan dan kebun hijauan, serta kandang yang merupakan zona tiga. Setiap zona harus menerapkan biosecurity sesuai SOP yang sudah ditetapkan,” ujarnya.

Dani mengatakan, pihaknya memberikan edukasi kepada pegawai dan masyarakat secara langsung, lewat media sosial, dan dengan memasang spanduk di tempat-tempat strategis.
Langkah lainnya adaIah memperkuat imunitas ternak dengan pemberian vitamin dan hijauan yang lebih berkualitas serta peningkatan sanitary kandang.

Pemantauan kesehatan ternak juga dioptimalkan, serta saat ini memperbanyak kelompok ternak di padang pengembalaan. Terakhir pihaknya membangun komunikasi dengan pihak terkait.

Yaitu Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumbar, dinas terkait di kabupaten dan kota, Balai Veteriner di Baso, kepolisian, Denzipur dan wali nagari, dalam upaya untuk keamanan dan memantau perkembangan PMK di daerah sekitar.

”Dengan penerapan langkah langkah pencegahan tersebut diharapkan dapat mengantisipasi masuknya PMK ke BTU HPT Padangmengatas dan wilayah sekitar. Hal ini akan bisa diwujudkan dengan dukungan dari semua pihak terkait dan partisipasi masyarakat untuk menjaga hewan ternaknya dari PMK,” jelasnya.

Dani mengungkapkan, penutupan Padangmengatas ini dilakukan hingga kasusnya melandai. ”Kita menunggu instruksi dari pusat saja dan juga kita lihat perkembangan. Tetapi dari beberapa laporan, kemudian kita tergabung juga dengan URC di Sumbar, menyebutkan kasus PMK agak melandai dan insya Allah minggu depan kita bisa buka kembali,” tutupnya.

Sementara itu Pemerintah Kabupaten Tanahdatar akan menetup sementara pasar ternak yang ada di daerah tersebut. Bupati Tanahdatar Eka Putra menyampaikan, berdasarkan kesepakatan rapat koordinasi bersama DPRD, Forkopimda dan asosiasi pedagang sapi dan peternak Senin malam (15/6) lalu, didapatkan keputusan bahwa dalam waktu dekat pemerintah daerah akan segera melakukan penutupan terhadap pasar ternak yang ada di Tanahdatar selama 14 hari.

”Kita juga akan bekerja sama dengan pihak kepolisian terkait dengan rencana pengendalian keluar masuk ternak di enam titik pintu masuk ke Tanahdatar,” terangnya.
Dia juga menyarankan agar para pedagang ternak melakukan isolasi pada ternak-ternak yang baru dibelinya sebelum dibawa ke pasar untuk diperjualbelikan kembali.

Pemkab Tanahdatar juga akan segera melakukan penganggaran untuk penanganan pengobatan pada ternak yang tertular virus PMK di Tanahdatar. Karena virus ini hanya menular pada ternak yang berkuku belah dan tidak beresiko untuk manusia, dia pun mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan pemerintah akan melakukan upaya antisipasi lebih awal.

Wakil Ketua DPRD Tanahdatar Saidani, juga mengimbau agar para peternak yang ada di Tanahdatar segera melapor kepada instansi terkait apabila mendapati gejala PMK pada ternak-ternak mereka.

Sementara itu Kapolres Tanahdatar AKBP Ruly Indra Wijayanto menyatakan dukungan kepada Pemkab Tanahdatar terkait dengan rencana penyekatan di enam titik pintu masuk wilayah Tanahdatar. AKBP Ruly juga meminta agar masyarakat untuk terbuka dan memberikan informasi kepada instansi terkait apabila menemukan gejala PMK pada ternak.

Hal ini dimaksudkan agar mudah dideteksi dan diantisipasi serta diminimalisir penularannya kepada ternak yang lain. ”Masyarakat perlu legowo bila ada ternaknya yang terjangkit. Jadi tidak mengakibatkan terjadinya penularan yang lebih parah lagi,” sampainya.

Sekaitan dengan wabah ini, wakil bupati Richi Aprian juga mengingatkan kepada dinas terkait agar lebih lagi dalam melakukan pengawasan dan pemerikasaan di rumah potong hewan (RPH) yang ada di Tanahdatar.

”Dinas harus benar-benar memastikan hewan ternak yang akan dipotong sehat dan dagingnya aman dan layak dikonsumsi oleh masyarakat,” tegasnya. (rid/cr4/stg)