Kebijakan Longgar, Penularan Naik

19
Ilustrasi positif Covid-19. (Foto: IST)

Perasaan lega beberapa negara karena bebas korona tak berlangsung lama. Sebab, virus jenis SARS-CoV-2 itu tak benar-benar hilang. Lengah sedikit, ia akan kembali dan menyerang. Korea Selatan (Korsel), Singapura, Selandia Baru dan Tiongkok menjadi contoh nyata.

Penularan di negara-negara tersebut merangkak naik sekali lagi. Padahal, roda perekonomian baru kembali bergulir. Munculnya lagi penularan menjadi pelajaran yang menyakitkan bagi mereka yang sudah mengeklaim sukses mengendalikan Covid-19 tersebut.

”Saya sudah pernah menyatakan bahwa penularan semacam itu akan menjadi hal normal baru untuk beberapa bulan mendatang,” ujar Yanzhong Huang, pakar kesehatan Tiongkok di Dewan Hubungan Luar Negeri, seperti dikutip The New York Times.

Beijing sempat bebas dari penularan lokal selama 56 hari sebelum akhirnya wabah kembali mencuat di Pasar Xinfadi. Agence France-Presse merilis bahwa saat ini sudah ada 158 penularan lokal di Beijing. Menurut Yanzhong, sejatinya jumlah tersebut tidak banyak. Tapi, itu terjadi di Beijing yang merupakan ibu kota negara. Beijing juga merupakan pusat politik, serta ekonomi. Jadi, ia memiliki arti simbolis bagi Tiongkok.

Kemarin (18/6), penjagaan Anxin County yang bersebelahan dengan Beijing juga diperketat. Sebagian besar lalu lintas di wilayah dengan 500 ribu penduduk itu dibatasi. Pasalnya, penularan sudah merembet ke luar Beijing. Pemerintah Kota Beijing per hari mengambil sampel 400 ribu orang untuk tes Covid-19. Dengan tes massif itu, harapannya semua kasus penularan segera ditemukan.

Setali tiga uang, AS bernasib sama. Tiga negara bagian yang memberlakukan kenormalan baru dan secara agresif membuka perekonomiannya malah melaporkan peningkatan kasus harian tertinggi Selasa (16/6). Yaitu, Arizona, Florida, dan Texas.
Selandia Baru juga mengalami penambahan kasus baru. Seorang pria 60-an tahun tiba di Auckland dari Pakistan 13 Juni lalu dengan penerbangan NZ124. Dia positif, tapi tanpa gejala. Pria itu tinggal di hotel dekat bandara, bukan hotel yang disediakan khusus untuk karantina.

Sementara itu, Presiden Argentina Alberto Fernandez melakukan isolasi mandiri di Istana Kepresidenan Olvios. Sebab, penularan di ibu kota kian marak. Beberapa elite politik negara tersebut juga tertular. Argentina sebelumnya sempat dinyatakan sukses menekan angka penularan. Mulai 10 Mei berbagai kebijakan dilonggarkan. Imbasnya, penularan justru melonjak tajam. Bulan lalu kasus baru di Argentina meningkat empat kali lipat.
Rusia yang di awal tenang karena sedikitnya penularan kini justru kelimpungan. Mereka tidak siap. Hampir 500 dokter telah meninggal karena Covid-19. ”Kini kami menyadari bahwa epidemi belum berakhir,” tegas Kepala Badan Federal untuk Supervisi Perawatan Kesehatan Alla Samiolova.

Catatkan Rekor Baru
Semementara itu, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 kembali mencatat rekor tertinggi kasus virus korona, kemarin (18/6). Berdasarkan data harian yang diumumkan Juru Bicara Pemerintah Achmad Yurianto, terjadi penambahan 1.331 orang terkonfirmasi positif Covid-19.

Rekor sebelumnya tercatat pada 10 Juni lalu dengan tambahan angka positif virus korona mencapai 1.241 kasus. Saat itu, sebanyak 34.316 orang positif Covid-19. Tambahan kasus tertinggi juga terjadi pada Selasa (9/6). Saat itu ada penambahan 1.043 kasus, sehingga total kasus virus korona tercatat 33.076.

Sekadar diketahui, satu pekan terakhir angka pertambahan kasus fluktuatif berada di antara 900 hingga 1.000 kasus. Pada 11 Juni tercatat pertambahan kasus 979 orang, keesokannya meningkat pada 12 Juni 1.111 orang, 13 Juni 1.014 orang.

Lalu, 14 Juni pertambahan kasus menurun di angka 857 kasus. Namun kembali meningkat pada 15 Juni berjumlah 1.017 orang, dan terus mengalami kenaikan kasus. Per 16 Juni tercatat pertambahan kasus positif sebanyak 1.106 orang, selanjutnya 17 Juni sebanyak 1.031 orang.

”Gambaran epidemiologi data yang kita sampaikan ini adalah gambaran yang kita yakini masih terjadi penularan. Yang harus ada dalam pikiran kita semua, pastikan kita aman, dan kita produktif seperti sedia kala,” ujar Yuri di BNPB, kemarin (18/6).

Gugus Tugas Covid-19 juga melaporkan, terjadi penambahan kasus sembuh sebanyak 555 secara akumulatif jumlah pasien sembuh 16.798, kasus meninggal bertambah 63 orang mencatatkan jumlah kematian sebanyak 2.339 orang. (sha/c10/dos/jpg)