Jozeph masih WNI, Peluang Tertangkap Besar

58
Kabagpenum Divhumas Polri Kombespol Ahmad Ramadan. (net)

Masyarakat tidak perlu gusar terkait kasus dugaan penistaan agama Jozeph Paul Zhang. Polri memastikan bekerja keras untuk menangkap Jozeph yang bernama asli Shindy Paul Soerjomoeljono (SPS). SPS telah ditetapkan sebagai tersangka dan daftar pencarian orang (DPO) telah diterbitkan. Yang menarik, Polri memastikan bahwa SPS masih warga negara Indonesia (WNI).

Kabagpenum Divhumas Polri Kombespol Ahmad Ramadan menjelaskan, DPO telah diterbitkan untuk JPZ alias SPS Senin sore (19/4). Dengan terbitnya DPO tersebut, maka akan dikirim ke Interpol sebagai dasar mengeluarkan red notice. ”Dapat diartikan bahwa SPS ini telah ditetapkan sebagai tersangka,” terangnya kemarin.”

Polri telah berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Jerman dan atase kepolisian, hasilnya tidak terdapat nama SPS yang mengubah kewarganegaraan. Telah dicek identitas WNI yang mengubah kewarganegaraan sejak 2017 di Jerman. ”Hingga 2021 tidak ada SPS,” paparnya.

Karena itu, Polri menduga bahwa SPS masih merupakan WNI. Yang memiliki kewajiban untuk mengikuti hukum di Indonesia. ”Kami telusuri sesuai nama paspor SPS, tidak atau belum mencabut kewarganegaraan,” ungkapnya.

Bila tertangkap, maka nantinya Polri bisa melakukan sejumlah jalan. Di antaranya, deportasi ke Indonesia atau dijemput. ”Namun, tentunya membutuhkan waktu untuk proses red notice, kita masih koordinasi dengan Interpol Pusat di Lyon, Perancis,” jelasnya.

Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah melakukan take down terhadap video kontroversial di kanal Youtube milik Paul Zhang yang berjudul ”Puasa Lalim Islam,” Keberadaan Paul Zhang di luar negeri juga dipastikan tidak akan membuatnya lolos dari jerat UU ITE.

Juru Bicara Kementerian Kominfo Dedy Permadi menyatakan Kementerian Kominfo telah mengajukan pemblokiran atas 20 konten di akun Youtube milik Paul Zhang. ”Per hari ini, 20 April 2021, telah dilakukan takedown pada 20 konten di Youtube terkait ujaran kebencian tersebut, termasuk 1 konten berjudul ”Puasa Lalim Islam” di akun milik Paul Zhang,” kata Dedy kemarin.

Baca Juga:  Andre Sarankan Moratorium Kedatangan WNA China saat Larangan Mudik

Dedy menjelaskan dari 20 konten tersebut, 7 konten telah diblokir pada tanggal 19 April 2021. ”Sedangkan 13 konten lainnya diblokir siang hari ini, yakni 20 April 2021,” jelasnya. Ia menegaskan konten dugaan ujaran kebencian atau penistaan agama yang dilakukan oleh Paul Zhang tidak bisa ditoleransi dan tidak dapat diterima.

Mengutip pengaturan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan. Transaksi Elektronik (ITE), Jubir Dedy Permadi menilai tindakan Paul Zhang dapat dikategorikan sebagai pembuatan konten yang melanggar pasal 28 ayat 2 jo. pasal 45A.

”Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah),” jelasnya.

Dedy juga menyebut, Zhang tidak bisa begitu saja lolos dari jeratan UU ITE meskipun berada di luar negeri. Dedy menyebut UU ITE telah menerapkan azas extrateritorial dimana Undang-Undang ini berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum, baik yang berada di wilayah hukum Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia.

”UU ini memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia, dan merugikan kepentingan Indonesia,” tandasnya.

Menurut Jubir Kementerian Kominfo, pihaknya terus melakukan patroli siber untuk menemukan konten-konten yang berisi ujaran kebencian Paul Zhang. ”Dan selanjutnya akan segera memproses dengan tindakan blokir jika masih ditemukan dugaan ujaran kebencian,” ujarnya. (idr/tau/jpg)

Previous articlePenelitian Vaksin Nusantara Dihentikan
Next articleIndahnya Berbagi di Masjid Istighfar Kotomalintang