Pemerintah Jamin tak Ada Impor Beras

20
ilustrasi panen padi. (jpg)

Program serap gabah petani yang digulirkan Kementerian Pertanian (Kementan) mendapat respons positif dari petani. Pasalnya, gabah petani dibeli dengan harga tinggi. Yaitu, sesuai harga pokok penjualan (HPP) senilai Rp 4.200 per kg.

Mentan Syahrul Yasin Limpo menegaskan bahwa hal tersebut bakal menyerap gabah dari petani secara langsung di berbagai wilayah di Indonesia. Program serap gabah tersebut dijalankan dengan menggandeng Bulog, PT Pertani, dan Komando Strategi Penggilingan (Kostraling). Dia bahkan bakal menindak tegas jika ada pihak-pihak terkait yang tidak mau menyerap gabah petani karena alasan kadar air.

Keterangan tersebut dia sampaikan saat mendampingi Presiden Joko Widodo mengikuti panen raya di Kabupaten Indramayu, kemarin (21/4). ”Sesuai arahan Presiden Jokowi, kita akan serap gabah petani di sini (Kabupaten Indramayu, red) tanpa terkeculia melihat kadar air,” tutur Syahrul.

Politisi Partai Nasdem itu mengatakan keluhan kadar air jangan sampai jadi alasan untuk tidak menyerap gabah petani dengan harga tinggi. Dia menerima laporan dari petani langsung, bahwa gabah mereka saat ini laku di harga Rp 4.200/kg.

Dia bersyukur karena sebelumnya harga gabah petani sempat jatuh cukup dalam.
Pada kesempatan tersebut, Syahrul menuturkan pemerintah berkomitmen menjamin ketersediaan pupuk bersubsidi. Sekaligus menindak tegas oknum yang mempermainkan stok pupuk bersubsidi. Dia menegaskan, penyaluran pupuk bersubsidi harus tepat waktu dan sesuai tata kelola yang telah dikendalikan oleh sistem.

”Bupati dan Pak Kadis, kalau ada yang bermain-main dengan pupuk (bersubsidi, red) langsung lakukan penindakan,” katanya. Syahrul mengatakan, tidak boleh ada yang menjual pupuk subsidi di atas harga eceran tertinggi. Untuk wilayah Indramayu masih ada laporan pendistribusian pupuk subsidi agak terlambat. Dia mengatakan akan memperbaiki proses distribusinya bersama mitra terkait.

Baca Juga:  Andre Sarankan Moratorium Kedatangan WNA China saat Larangan Mudik

Dalam kesempatan sama, Presiden Joko Widodo menyatakan panen dalam kondisi baik. Ini dilihat dari sisi kualitas dan kuantitas. Pasar juga menyambut baik dengan harga gabah yang tinggi. Jokowi menegaskan, pemerintah ingin terus berupaya membangun pertanian nasional yang semakin baik. Harapannya hasil produksi semakin meningkat. Dalam jangka panjang, jika hal ini terlaksana maka akan terwujud ketahanan pangan nasional dan swasembada dapat terwujud.

”Pemerintah sebetulnya tidak senang dan tidak suka yang namanya impor beras,” tuturnya. Wacana yang kemarin sempat muncul itu katanya berasal dari hitung-hitungan seperti banyak yang kena banjir dan pandemi. ”Kadang-kadang memang butuh kalkulasi itu sehingga perlu tambahan untuk cadangan,” imbuhnya. Namun, Jokowi menegaskam bahwa pemerintah memutuskan sampai Juni tak ada impor. Jika panen terus bagus maka sampai akhir tahun tidak ada opsi impor.

Jokowi juga sempat berdialog dengan sejumlah petani setempat. Dari hasil dialog tersebut diperoleh informasi bahwa para petani memerlukan terjaganya pasokan pupuk pertanian hingga kebutuhan akan tenaga atau alat pemanen padi saat panen raya. ”Semoga ini segera bisa kita kirim,” tuturnya. (wan/lyn/jpg)

Previous articleMenparekraf ke Sumbar Diundang Andre Rosiade dan 11 Kepala Daerah
Next articleMasjid Muhammadan, Pertahankan Keaslian, Ramai Dikunjungi Jamaah Luar