Kisruh Pencatutan Data Pribadi oleh Parpol, Mengelolanya tak Mudah!

22
ARIFKI CHANIAGO.(DOK. ARIFKI CHANIAGO)

TERJADINYA pencatutan nama masyarakat sebagai bagian dari anggota partai politik (parpol) merupakan bentuk ketidaksiapan parpol dalam menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 mendatang. Kejadian ini memperlihatkan bahwa parpol tidak pernah melakukan kaderisasi.

Hal tersebut diungkapkan pakar Politik sekaligus Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Arifki Chaniago kepada Padang Ekspres, Rabu (21/9). Dalam hal ini masyarakat yang ingin menjadi anggota salah satu partai harusnya menjalani kaderisasi terlebih dahulu. Sehingga dapat terlihat serius bahwa partai menjalankan fungsinya dengan baik.

“Nah, terlebih lagi masyarakat sendiri pun  tidak tahu datanya telah digunakan tanpa sepengetahuannya. Dalam hal ini sudah pasti ada pelanggaran hukum yang dilakukan. Yang jelas menggunakan data pribadi orang tanpa sepengetahuannya itu sudah termasuk pelanggaran hukum. Tapi karena ini terkait dengan parpol prosedurnya tentu lebih ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu),” sambungnya.

Arifki menyampaikan, dalam hal ini sikap masyarakat seharusnya mengecek data pribadi masing-masing di Sistem Informasi Partai Politik (sipol). Usai itu warga bisa melaporkan ke KPU di daerah masing-masing terkait penggunaan data pribadi tersebut. Hal ini bertujuan agar nantinya tidak menjadi hambatan untuk aktvitas pekerjaan atau lainnya.

Ketika ditanya terkait pandangannya terhadap dunia politik usai adanya fenomena pencatutan nama masyarakat tersebut, Arifki berpendapat, partai-partai yang ada di Sumbar belum siap menghadapi Pemilu 2024.

“Dari data anggotanya saja masih belum tertata dengan baik, bagaimana akan menghadapi pemilu. Kedepannya, kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi parpol yang ada di Sumbar dalam menghadapi Pemilu,” sebutnya.

Dia mengimbau agar partai politik di Sumbar berbenah. Jika masalah data anggota saja masih bermasalah bagaimana akan memperjuangkan kepentingan masyarakat. Hal ini merupakan sebuah tantangan bagi pengurus dalam pengelolaan partai.

Hal yang sama juga disampaikan pakar politik dari Universitas Andaal Asrinaldi. Dia menyebut, persoalan pencatutan nama tersebut membuktikan bahwa parpol tidak siap untuk Pemilu 2024. Sebab dari sisi verifikasi seharusnya jika mendaftar sebagai parpol harus lengkap dengan anggota partai, sekretaris, dan semacamnya.

“Jika di lapangan mereka tidak bisa menghadirkan bukti memiliki anggota partai itu artinya mereka tidak siap untuk bertarung. Makanya cara alternatif bagi mereka adalah mencatut nama orang melalui KTP. Apalagi saat ini kan bisa diakses. Jadi tinggal enteri jadilah dia, persoalan masyarakat dikonfimasi atau tidaknya, tak diperhatikan,” terangnya.

Menurutnya, dalam hal ini sudah pasti adanya pelanggaran hukum yang dilakukan. Sebab dengan mengakses data pribadi orang tanpa izin saja sudah merupakan pelanggaran. Pada dasarnya data pribadi tidak boleh digunakan sembarangan.

“Nah sekarang pelanggarannya juga dari segi administrasi dari KPU. Bahwa yang dilakukan oleh parpol tidak memenuhi syarat, dan ini memang harus dibatalkan. Kalau bisa harus diberikan sanksi bagi parpol yang mencatut nama masyarakat tersebut,” ucapnya.

Adapun sanksi yang harus diberikan terhadap parpol yang melanggar tersebut yaitu berupa pembatalan sebagai peserta pemilu. Sebab syarat yang dibutuhkan tidak disediakan secara penuh. Bahkan parpol yang melanggar juga bisa dilaporkan, hanya saja pihak Parpol pasti akan cerdas dalam berkilah.

“Menurut saya parpol dari segi ideologis tidak ada yang berbeda, semuanya hampir sama. Nasionaslis sekuler dan nasionalis religius, itu aja spektrumnya tidak ada yang lain. Jadi untuk kedepannya jika memang persyaratan tidak lengkap, mereka bisa bergabung dengan partai yang sudah ada,” lanjutnya.

Dalam hal ini dia mengatakan bahwa, parpol tersebut tidak siap dari infrastruktur. Sehingga merusak sistem parpol yang sudah bagus dan lengkap. “Artinya dari sini dapat dipelajari bahwa untuk mengelola parpol itu tidaklah semudah yang dibayangkan,” tutupnya. (cr4)