Inilah Kebijakan Pemerintah Vietnam Lawan Covid-19 tanpa Kematian

Semua desa yang dekat dengan ibu kota Vietnam dikarantina setelah virus korona ditemukan. (Foto: AFP)

Setelah Korea Selatan, Vietnam mendapatkan pujian karena bisa membendung virus korona (Covid-19). Tak ada kematian akibat Covid-19 meski negara ini memiliki perekonomian yang kurang kaya dibandingkan negara lain yang dianggap relatif sukses, seperti Korea Selatan dan Taiwan.

Meski berbatasan dengan Tiongkok-tempat pandemi bermula, dan memiliki populasi 97 juta orang, Vietnam sejauh ini mencatat hanya 268 kasus penyakit itu, dan tidak satu pun kematian akibat Covid-19 hingga 23 April 2020.

Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Phuc pada Rabu (22/4/2020), mencabut status penguncian (lockdown) secara nasional di sebagian besar negara itu.

Negara itu kini mulai melonggarkan pembatasan dan mengizinkan sekolah untuk kembali dibuka, setelah menggerakkan masyarakatnya serta mendeklarasikan “perang melawan coronavirus”.

Vietnam bisa berhasil karena negara ini telah menggunakan kombinasi kebijakan, seperti karantina massal puluhan ribu orang, pelacakan kontak dan pengujian untuk berhasil membendung kelompok wabah Covid-19 yang relatif kecil. Vietnam juga dinilai telah mengumpulkan informasi lebih awal dan penting dari Tiongkok.

Dilansir dari Bangkok Post, sehari setelah dua kasus pertama terdeteksi di Vietnam, otoritas setempat langsung menutup penerbangan ke Wuhan, Tiongkok, tempat wabah muncul. Langkah Vietnam betul-betul cekatan.

Beberapa hari kemudian, Vietnam menutup perbatasannya sepanjang 1.400 km dengan Tiongkok, dan menutup semua perdagangan penting dan perjalanan. Pada Maret, Vietnam juga mewajibkan warganya mengenakan masker.

Seperti dilansir BBC, Pemerintah Vietnam juga meluncurkan kampanye informasi di seluruh negeri, dengan pesan video yang menarik dan poster-poster yang mengingatkan pada gaya heroik di masa Perang Vietnam.

PM Nguyen Xuan Phuc meminta masyarakat mendukung “serangan musim semi dalam perang panjang, merujuk pada serangan militer yang sukses terhadap pasukan AS pada awal 1975.

“Vietnam adalah masyarakat mobilisasi,” kata Carl Thayer, profesor emeritus di Universitas New South Wales Canberra, kepada surat kabar Financial Times.

“Mereka adalah negara satu partai; mereka memiliki pasukan keamanan publik yang besar, militer dan partai itu sendiri; dan merupakan pemerintahan otoriter yang baik dalam merespons bencana alam.”

Upaya pengendalian yang sukses juga harus mengorbankan kebebasan sipil di beberapa lokasi.

Dengan pemerintahan lokal yang efisien dan aparat keamanan yang intrusif, Vietnam bisa memaksakan karantina, bahkan pada seluruh distrik untuk menghentikan penyebaran virus.

Tapi mereka umumnya tidak melakukan karantina wilayah dengan gaya negara-negara Eropa.

Pada 23 April, kebijakan lockdown di Hanoi dan 12 kota besar lainnya telah dibuka, namun tiga distrik/kota masih dalam karantina dengan penghuni hampir 450.000 orang. Daerah-daerah itu dijaga oleh milisi lokal, dan siapapun tidak bisa keluar.

“Dengan niat politik, pemerintahan yang terorganisasi dengan baik, dan masyarakat yang patuh telah cukup untuk membuat negara itu menghindari dampak terburuk dari virus corona,” kata Nguyen.

Vietnam juga menjadi negara pertama di luar Tiongkok yang terinfeksi oleh epidemi SARS pada 2003.

Menurut data yang diterbitkan Kementerian Kesehatan Vietnam pada Rabu (22/4/2020), Vietnam telah melakukan 180.067 tes dan mendeteksi hanya 268 kasus atau hanya 83 persen. Sebanyak 224 orang dikatakan telah pulih. Tidak ada kematian yang dilaporkan.(Bangkok Post/BBC/jpg/esg)