Bonus Demografi, Peluang dan Tantangan Pemuda

192
FADLY AMRAN.(IST)

Begitu pentingnya kedudukan dan peranan pemuda, sampai-sampai Ir Soekarno berucap, ”Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia”.

Demikian juga padangan Wali Kota Padangpanjang, Fadly Amran Datuk Paduko Malano era bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada kurun waktu 2030-2040 mendatan.

Semua itu menuntut sosok pemuda yang produktif dan bermanfaat secara massif mendorong suksesnya berbagai program pemerintah guna terwujudnya pembangunan.

Pemuda dalam pembangunan dikatakannya adalah kolaborator dan inisiator, bukan objek dan target. Pemuda usia remaja saat ini akan menjadi bagian terbesar dalam angkatan kerja usia produktif di era bonus demografi.

Memanfaatkan momen langka yang terjadi sekali seumur hidup ini dengan baik, dibutuhkan pemetaan kuantitas dan kualitas sumber daya pemuda Indonesia.

Artinya tanpa pendidikan yang cukup, kesehatan yang baik, dan skill yang berkembang, suatu negara atau daerah akan melewatkan begitu saja manfaat bonus demografi tanpa hasil yang maksimal.

”Pemerintah Kota (Pemko) Padangpanjang dalam menyikapi ini telah konsisten dari berbagai aspek program. Di antaranya, memberikan berbagai fasilitas jaminan dan dukungan terkait pendidikan, kesehatan dan keterampilan. Berbagai kerja sama dijalin guna mendorong penguatan SDM generasi menjadi angkatan kerja produktif kelaknya,” sebut Fadly Amran ketika dihubungi melalui selulernya, kemarin (27/10).

Pria kelahiran Februari 1988 ini menyebut, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang melesat dalam dua dasawarsa terakhir mengalami bonus demografi yang mencapai puncaknya pada tahun 2013 lalu.

Ketika pertumbuhan jumlah angkatan kerja di Tiongkok mencapai angka maksimal, banyak sekali manfaat yang diraihnya hingga menjadi kekuatan ekonomi baru dunia menyaingi Amerika Serikat.

Hal sama disebutkannya dalam waktu dekat juga akan dialami Indonesia. Pada era bonus demografi tersebut terjadi perubahan struktur umur penduduk, yakni jumlah penduduk produktif lebih banyak dari pada yang tidak produktif sehingga menurunkan beban ketergantungan.

Inilah disebut bonus demografi yang dapat dimanfaatkan untuk menaikkan kesejahteraan masyarakat. ”Di zaman milenial sekarang ini, pemuda ujung tombak dalam proses perjuangan, pembaharuan dan pembangunan bangsa. Pemuda aktor intelektual yang kehadirannya diharapkan mampu membawa suatu bangsa bertransformasi menuju arah yang lebih baik,” sebut Fadly yang saat ini masih aktif menjabat Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumbar periode 2018-2021.

Disebutkan Wako Fadly, pemuda dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 merupakan warga negara Indonesia berusia 16 sampai 30 tahun yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan.

Berdasarkan data BPS, menurut hasil Susenas tahun 2018, Indonesia adalah rumah bagi 63,82 juta jiwa pemuda, jumlah tersebut seperempat dari total penduduk Indonesia.

Pemuda laki-laki lebih banyak dari pada perempuan, dengan rasio jenis kelamin 102,36, yang berarti setiap 102 pemuda laki-laki terdapat 100 pemuda perempuan.

”Pepatah mengatakan ”Ada gula ada semut”. Pepatah ini mengingatkan kita bahwa manisnya cerita tentang wilayah perkotaan masih menjadi magnet bagi para pemuda sebagai tempat tujuan untuk bermigrasi. Perkotaan menjadi lokomotif penarik pertumbuhan negeri. Tidak heran jika lebih dari separuh pemuda Indonesia tinggal di perkotaan yaitu 56,68 persen sementara dipedesaan sebesar 43,32 persen,” tuturnya.
Tantangan

Pemuda Milenial

Wako Fadly yang sangat eksis dalam organisasi kepemudaan ini, juga melihat generasi milenial sebagai generasi yang penuh dengan teknologi. Dengan kemampuannya di dunia teknologi dan sarana yang ada, generasi ini memiliki banyak peluang untuk mampu berada jauh di depan dibandingkan generasi sebelumnya.

Di era saat ini dengan segala kecanggihan teknologi, tingkat persaingan juga semakin tinggi yang menuntut kualitas dan kinerja manusia juga menjadi semakin tinggi.

Baca Juga:  Amerika akan Tetap Ada di Laut China Selatan

Generasi zaman now harus mampu beradaptasi dengan cepat dan memiliki keahlian, agar dapat melakukan perubahan yang lincah dan tepat untuk dapat mencari solusi di setiap permasalahan yang muncul.

Akses media daring dan media sosial saat ini dapat dinikmati seluruh kalangan masyarakat, merupakan tantangan konkret bagi pemuda milenial untuk menjadi generasi produktif.

Perangkat teknologi menjadikan jari-jari setiap individu lebih cepat daripada mulutnya dalam menyampaikan sebuah informasi atau pendapat.

”Jika kita mengenal istilah ”mulutmu harimaumu”, maka saat ini ada ungkapan ”jarimu harimaumu”. Mengapa demikian? Itu adalah sebuah peringatan agar kita lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial,” ujar Fadly.

Namun di balik itu, Fadly optimistis ada harapan bagi pemuda sebagai sosok yang muda, optimistis, penuh energik, dan dinamis. Dirinya berharap pemuda Indonesia bisa menjadi agent of change yang dapat mengikuti arus informasi dan komunikasi serta bijak dalam menggunakannya.

Pemuda diharapkan bisa membawa ide-ide segar, pemikiran yang kreatif dan inovatif, serta memiliki daya saing dalam kancah regional dan global.

Pemuda diharapkan menjadi pemimpin masa depan yang lebih baik dan berkompeten dari pemimpin masa kini agar dapat mendorong terjadinya transformasi bangsa ini ke arah yang lebih baik melalui perubahan, perbaikan dan pengembangan.

”Saya meyakini bahwa setiap anak muda Indonesia selalu punya potensi yang bisa dikembangkan dan diolah untuk kemudian menjadi kelebihan, serta daya tarik tersendiri bagi dunia luar. Termasuk di Padangpanjang, telah menunjukkan banyak prestasi luar biasa. Banyak pemuda kita yang mengharumkan nama daerah di tingkat provinsi dan pusat dari berbagai sektor keahlian. Dan, secara umum pemuda Indonesia juga banyak berprestasi di tingkat internasional sebagai bukti potensi yang tidak perlu diragukan,” ungkapnya.

Disampaikan Wako Fadly, Indonesia akan mengalami bonus demografi pada 2030-2040. Di mana, jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun).

Namun demikian bonus demografi menjadi tantangan sekaligus kesempatan besar, apabila saat ini generasi muda tidak menguasai teknologi dan aspek lainnya.

Melihat peluang tersebut, Pemko Padangpanjang dikatakan Fadly konsisten menerapkan program prioritas penguatan kualitas SDM generasi muda pelajar.

Selain memberikan pemahaman generasi muda sebagai bonus demografi 10 tahun mendatang yang dituntut harus menguasai perkembangan pesat teknologi, generasi muda milenial di Padangpanjang juga dipersiapkan secara mapan dalam keimanan dan ketakwaan (imtak). Pemko Padangpanjang tidak hanya konsisten dalam bidang pendidikan formil.

”Dalam pendidikan formil, konsitensi kita, di antaranya menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi yang dituangkan dalam bentuk beasiswa pendidikan bagi peserta didik untuk S-1/D-3 dan tenaga pendidik atau guru untuk S-2. Pemko juga konsisten terhadap pengembangan rumah-rumah tahfiz dan sederetan program lainnya,” tutur Fadly.

Di tingkatan pemuda usia produktif, Pemko Padangpanjang melalui sejumlah dinas terkait juga melakukan pembinaan SDM berupa kerja sama pelatihan hinga rekruitmen tenaga kerja di dalam dan luar negeri.

Selama kurun waktu 3 tahun belakangan, sedikitnya 100 lebih generasi usia produktif Padangpanjang diberikan pelatihan. ”Di antaranya, kita menjalin kerja sama dengan LPK Yaruki di Padang untuk memberikan pendidikan bahasa Korea bagi calon tenaga kerja ke negara tersebut. Ini salah satu bentuk dari sedereta kebijakan Pemko Padangpanjang dalam menyikapi era demografi bagi pemuda milenial di kota berjuluk Serambi Mekkah ini,” tukas Fadly sembari menyampaikan ”Selamat Hari Sumpah Pemuda! Yang muda yang berkarya!” (wrd)